Ref: Tentu saja ada perubahan, karena diberitakan media bahwa jumlah orang 
memiliki jutaan  dollar sudah ada sekian ribu  dan 20  yang memiliki  milar 
dollar. Hidup Neo Mojopahit! Mampuslah RI!

http://www.shnews.co/detile-9670-tiga-tahun-tanpa-perubahan.html


Tiga Tahun (Tanpa) Perubahan 
Joko Riyanto* | Sabtu, 20 Oktober 2012 - 10:47:32 WIB

: 65 



(dok/ist)
Pemerintahan SBY-Boediono dikritik dengan label “Negeri Autopilot”.


Tanpa terasa pada 20 Oktober 2012 genap tiga tahun berjalan masa Pemerintahan 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono sejak dilantik sebagai presiden dan 
wakil presiden terpilih hasil Pemilu 2009. 

Menanggapi kinerja tiga tahun Pemerintahan SBY-Boediono, tampaknya nada-nada 
ketidakpuasan dari berbagai pihak lebih mendominasi. 

Selama tiga tahun pemerintahan, rakyat masih merasa pemerintahan SBY dan 
Boediono tidak membawa perubahan yang berarti untuk meningkatkan kesejahteraan, 
mengatasi persoalan sosial politik, dan melakukan penegakan hukum, terutama 
korupsi yang semakin merajalela. 

Sebagian rakyat Indonesia makin terperosok ke jurang kemiskinan karena biaya 
pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok makin mahal. Rasa aman dan damai 
makin jauh di tengah tingginya pelanggaran HAM dan kebebasan beribadah, 
kekerasan, perusakan lingkungan hidup, serta hukum yang tidak berdaulat. 

Secara nyata, bangsa ini sedang sakit, sekarat secara sosial, ekonomi, hukum, 
dan politik, bahkan peradaban. Kebijakan yang selalu mendera rakyat kecil 
merupakan wujud dari negara sakit itu. Penderitaan rakyat saat ini telah 
mengisyaratkan sejarah yang semakin tidak ramah. 

Sejarah yang terus merampas keinginan negara dari komunitas masyarakat bangsa 
ini. Sejarah keberadaan negara yang diskriminatif. Sebuah pengkhianatan sosial 
yang sedang membentang di hadapan kita semua. Ketidakberdayaan rakyat miskin 
adalah “situasi batas” sebagai komunitas bangsa yang mempertaruhkan masa depan 
negeri ini. 

Negara seolah semakin melestarikan kemiskinan dengan kebijakan-kebijakan yang 
bukan saja apopulis tetapi semakin tidak menjadi dentuman persoalan publik, dan 
sebaliknya semakin mengasah mesin kekuasaan selama ini yang begitu represif. 

Inilah ironisnya, di mana negara sebenarnya lahir dan dibangun di atas dasar 
kesamaan nasib sebagai bangsa yang terjajah, yang sama-sama menderita, dan 
teleologi-kebaikan umum (common good) sebagaimana tesis Ernest Rennan tentang 
lahirnya sebuah negara kebangsaan dengan memiliki cita-cita yang sama. 

Tetapi, dalam praksisnya negara tidak pernah sanggup membangun kesejahteraan 
bagi seluruh masyarakat bangsa dan mengantarkannya kepada pemenuhan cita-cita 
bersama sebagai wujud moralitas dan etika politik negara. 

Masyarakat tidak pernah mengalami proteksi sosial, politik, dan ekonomi 
memadai. Itu juga sebagai gambaran situasi dan kondisi kehidupan masyarakat 
bangsa di mana negara tidak pernah hadir secara serius untuk menunjukkan 
keberpihakannya. 

Atau dengan kata lain, Pemerintahan SBY-Boediono sebagai pemimpin “tidak hadir” 
dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Ketidakhadiran pemimpin negeri 
(SBY-Beodiono) ini terlihat jelas dari beragam persoalan bangsa yang terus 
menumpuk dan berlarut-larut. 

Pemerintah seperti membiarkan semuanya terjadi tanpa penyelesaian konkret. Tak 
heran jika Pemerintahan SBY-Boediono dikritik dengan label “Negeri Autopilot” 
atas ketidakhadiran pemimpin dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. 

Perlu diingatkan di sini bahwa memerintah secara efektif dalam sistem demokrasi 
tidak sesederhana seperti dalam sistem otokrasi. Persoalan lebih rumit ketika 
sosok kepemimpinan dalam pemerintah memberi kesan sebagai sosok yang hati-hati, 
penuh timbang rasa, sehingga memberi impresi dan dampak kurang efektif. 

Era globalisasi yang serba cepat membuat bukan hanya yang kuat yang akan 
menang, tetapi mereka yang bertindak cepat berpeluang memenangi persaingan. 
Jargon survival of the fittest sudah bergeser menjadi survival of the fastest. 
Era reformasi dan demokratisasi membuat setiap soal diperdebatkan dan 
diwacanakan sehingga cenderung menghabiskan waktu dan tenaga. 

Korsel dan Kosta Rika 

Indonesia perlu belajar dari negara lain, karena apa yang kita alami saat ini 
bukan persoalan khas, artinya beberapa negara lain pernah mengalaminya. Ambil 
contoh Korea Selatan (Korsel) dan Kosta Rika. 

Tahun 1950-1993, Korsel mengalami masalah ekonomi yang cukup berat. Kunci 
sukses yang mereka miliki adalah pada faktor Presiden Park Chung-hee. Dia 
memiliki sikap tegas, disiplin, mau bekerja keras, dan mampu memberikan 
keteladanan yang baik bagi rakyatnya. Alhasil, dalam waktu 30 tahun, Negeri 
Ginseng ini sudah mampu mensejajarkan diri dengan kelompok negara industri maju 
yang lain. 

Contoh lain adalah Kosta Rika. Negeri di belahan benua Amerika ini mampu 
merubah image dari bananas country menjadi high tech country. Kosta Rika yng 
semula mengandalkan komoditas pisang, gula, dan kopi, sekarang menjadi pemasok 
terpenting komponen semikonduktor bagi pasar Amerika Serikat. 

Sama dengan Korsel, Kosta Rika juga memiliki figur presiden ideal yang ada pada 
diri Maria Figures Olsen. Dia dilantik menjadi presiden tahun 1994 dan saat itu 
baru berusia 39 tahun. Olsen adalah figur pemimpin yang visioner, berdedikasi 
tinggi, dan menjadi teladan bagi rakyatnya. 

Jika SBY tidak responsif dan tidak segera berubah haluan dengan meninggalkan 
politik pencitraan berbasis retorika, mengurangi politik akomodatif (kompromi), 
pidato-pidato yang hampa tanpa tindakan konkret, serta meninggalkan politik 
transaksional maka hampir dipastikan dua tahun mendatang pemerintahan tetap 
tersandera dan rakyat tidak akan mengalami perubahan sesuai janj-janji SBY pada 
masa kampanye. 

SBY-Boediono harus mencatat sejarah dalam kepemimpinan nasional sebagai 
pasangan pemimpin yang banyak melakukan perubahan dan berprestasi. Keduanya 
tidak hanya tercatat sebagai pemimpin yang hanya sekadar mengisi satu-dua 
periode kepemimpinan, lantas setelah itu terlupakan. 

Rakyat Indonesia dengan perasaan cemas menunggu SBY-Boediono untuk menjawab 
tantangan dengan keputusan moral dan pilihan politik yang tepat. Keputusan 
dalam pilihan ini memutuskan seberapa cepat Indonesia menuju ke masa depan yang 
adil, sejahtera, dan bermartabat. 

*Penulis adalah Koordinator Riset Pusat Kajian dan Penelitian Kebangsaan 
(Puskalitbang) Solo. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke