Ref: Dibutuhkan adanya grup-grup teror, supaya dengan begitu aparat militer bukan saja mempunyai pekerjaan, tetapi bisa memohon bantuan keuangan dari luarnegeri dengan alasan bahwa kalau tidak dikasi bantuan, maka kalian pun akan mendapat serangan dari kaum teroris. Lihat Densus 88 dapat bantuan, antara lain dari Australia dan USA.
Sama masalahnya dengan hutan dibabat. SBY koak-koak di Denmark, kalau tidak dikasibantuan paru-paru dunia tambah rusak. Norwegia, kasi US$ 1 miliar, Australia US$ 250,—Perancis US$ 300,—Hutan di Kalimatan, Sumatera tetap saja dibabat dan tiap tahun ada ritual kabut asap jahat merusak paru-paru penduduk setempat. Uang satu setengah miliar dollar mungkin sudah menghilang disulap penguasa NKRI dan hutan tetap dibabat dan dibakar. http://www.mediaindonesia.com/read/2012/10/24/357890/70/13/Apati-Publik- Apati Publik Rabu, 24 Oktober 2012 00:01 WIB KEKERASAN demi kekerasan kian sering mengoyak rasa aman masyarakat. Setelah rentetan penembakan di Surakarta, disusul bom meledak di Jakarta dan Depok, teror kini seolah kembali bermigrasi ke wilayah timur. Poso yang telah damai sejak Perjanjian Malino pada 2001 kembali diguncang bom dan terorisme. Pekan lalu dua polisi ditemukan tewas terbunuh. Setelah itu, bom meledak di pos polisi lalu lintas pada Senin (22/10). Kemarin, kembali polisi menemukan bom rakitan di Poso dan Palu. Poso memang mempunyai catatan kelam selama konflik yang menelan ratusan nyawa dan harta benda. Selama lebih dua tahun pada 1998-2000, warga hidup dalam suasana mencekam, cemas, dan saling curiga. Setelah warga menikmati damai, rasa aman di Poso kembali tercabik. Haruskah kita menyalahkan lagi intelijen dengan alasan lamban mengendus pergerakan teroris? Haruskah kita menyalahkan lagi polisi dengan alasan tidak mampu menciptakan rasa aman bagi warga? Berhentilah saling tuding. Keamanan dan kenyamanan bukan hanya urusan polisi dan intelijen, melainkan juga kewajiban segenap warga tanpa kecuali. Namun, semua itu bisa jadi harapan kosong karena warga kian apatis. Apati merebak bagai virus yang menggerogoti segenap energi bangsa lalu melumat segala akal sehat kita. Ketika bom meledak di Surakarta atau di Poso, yang paling empuk dijadikan kambing hitam ialah intelijen dan polisi. Padahal, yang sedang terjadi ialah warga yang apatis kehilangan semangat dan kreasi untuk peduli pada setiap aktivitas di sekitar mereka. Itulah yang sedang berlangsung di negeri ini. Kekecewaan telah membunuh naluri ingin tahu akan hal-hal mencurigakan di sekitar kita. Kekecewaan telah mematikan alarm yang biasa mengirim sinyal bahaya di sekitar kita. Kekecewaan telah menjadi tempat penyemaian yang subur bagi bibit-bibit terorisme. Pejabat pemerintah dari tingkat rendah sampai tinggi pun ikut memupuk apati warga. Masyarakat kecewa sebab ketika korupsi merajalela, pemerintah hanya berpidato dari mimbar akan memimpin langsung perang melawan koruptor. Masyarakat kecewa ketika bandar narkoba dihukum mati, tuan-tuan hakim agung mengurangi hukuman mereka. Presiden pun bahkan bermurah hati memberikan grasi bagi terpidana mati. Masyarakat kecewa ketika menyaksikan para bekas narapidana korupsi masih dipromosikan menempati posisi penting di pemerintahan. Apakah itu sekadar kelalaian atau sengaja balas jasa? Warga pun kecewa tatkala harus membayar mahal pelayanan publik yang diterima, padahal semua itu seperti prodeo. Masyarakat kecewa ketika mendengar pidato bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat, hidup justru terasa semakin susah dari hari ke hari. Semua kekecewaan itu menyatu menjadi apati. Karena itu, bom meledak di Poso atau di mana pun di Republik ini--akhirnya hanya jadi urusan polisi dan intelijen. Padahal, mestinya tidak seperti itu. Apalagi jumlah polisi Indonesia hanya sekitar 400 ribu orang, jauh dari jumlah ideal 760 ribu orang. Kalaupun jumlah polisi bertambah menjadi 3 juta orang dan setiap jengkal ada polisi berjaga, jika apati warga tetap menggumpal, terorisme tetap saja marak dan bom tetap saja meledak. [Non-text portions of this message have been removed]
