Ralat Ref: Tak usah repot, biang kreok Santoso ini sebagian dari mereka yang disponsor SBY cs ke Sulawesi Tengah dan Maluku pada tahun 1990-an lihat saja pada pernyataan SBY ini : http://www.youtube.com/watch?v=5L-9HcTb1es
http://www.fajar.co.id/read-20121104010733-jejak-santoso-makin-dekat Minggu, 04 November 2012 | 01:07:33 WITA | Jejak Santoso Makin Dekat Poso Mencekam, Aktivitas Perekonomian Lumpuh JAKARTA, FAJAR -- Perburuan Densus 88 terhadap kelompok teroris jaringan Santoso di Poso terus berlanjut. Sabtu, 3 November, mereka melakukan penangkapan di kawasan Kayamaya, Poso Kota. ”Satu orang tewas tertembak,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar. Mantan anggota Satgas Bom itu menyebut terduga yang ditangkap bernama Ustaz Yasin. ”Tentu penyidik punya bukti permulaan yang cukup untuk memeriksa yang bersangkutan,” katanya. Turut meninggal dalam penangkapan itu seorang bernama Khalid yang berprofesi sebagai PNS Dinas Kehutanan. ”Yang bersangkutan adalah polisi hutan. Diduga ikut terlibat dalam kelompok yang melakukan latihan di Gunung Biru dan hutan Tamanjeka,” katanya. Mengapa harus ditembak? Menurut Boy, polisi yang menyergap mendapatkan perlawanan. ”Anggota di lapangan dilempari bom pipa,” katanya. Dua orang itu memang menjadi TO (target operasi) Densus 88 Polri. ”Mereka mata rantai untuk sampai ke pimpinannya, Santoso,” kata Boy. Tim antiteror memang menganalisis Santoso adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan situasi keamanan Poso yang kritis. Santoso yang disebut-sebut sebagai pimpinan laskar mujahidin Indonesia Timur itu diduga kuat bersembunyi di perkotaan Poso. Namun, ada fakta lain yang mengiringi penangkapan itu. Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum, Musthofa Nahrawardaya mendapatkan informasi langsung dari Poso bahwa Kholid yang ditembak tidak melawan. ”Dia baru pulang dari salat subuh berjemaah di masjid. Tiba-tiba ditembak mati oleh Densus,” kata Mustofa. Hal ini sudah dikonfirmasikan ke keluarga Kholid. ”Tadi sempat ada kericuhan karena keluarga tersinggung. Akhirnya Densus mengembalikan jenazah ke keluarga,” katanya. Langkah-langkah semacam itu, menurut Mustofa, hanya akan menambah kebencian terhadap Densus 88. ”Akibatnya, terorisme tidak akan selesai. Sebaliknya, muncul benih-benih permusuhan baru pada polisi yang terkesan menzalimi umat Islam, katanya. Mustofa yang juga salah satu pengurus PP Muhammadiyah itu juga menyebutkan berbagai kasus salah tangkap yang dilakukan Densus 88 semakin memperumit situasi. ”Yang di Jakarta, ada tiga orang tak bersalah ikut diciduk. Bagaimana kita bisa menyebut Densus profesional,” katanya. Tiga orang yang dimaksud Mustofa adalah Davit Ashari, Herman Setyono, dan Sunarto Sofyan. Ketiganya ikut dibekuk pekan lalu karena diduga ikut dalam jaringan teroris Hasmi (harakah suni untuk masyarakat Indonesia). Keluarga mereka memprotes keras Densus 88 dan menganggap mereka hanya dijebak oleh seorang bernama Basir (JP 31/10). Rupanya, hal itu benar. Ketiganya sekarang sudah dibebaskan Densus 88 dan dinyatakan bebas murni. ”Mereka masih di rumah saya, masih sedikit trauma,” ujar pengacara TPM (Tim Pengacara Muslim), Achmad Michdan, kemarin. Selama pemeriksaan, ketiganya mengaku diperlakukan secara wajar. ”Yang jelas ini merupakan stigmatisasi yang sangat buruk karena ketiganya aktivis masjid,” katanya. Mereka juga ditangkap saat sedang menjadi panitia Iduladha. “Akan muncul citra bahwa orang yang aktif di masjid dekat dengan terorisme. Padahal, jelas – jelas mereka tak bersalah,” katanya. Mencekam Sementara itu, situasi di kota Poso masih mencekam. Aktivitas perekonomian dan pendidikan lumpuh. Itu terjadi pasca penggerebekan rumah warga di RT 20 B Jl Pulau Sabang, Lorong Merpati, Kelurahan Kayamanya, Poso yang menewaskan AH (27) dan menangkap MY, kemarin. Kondisi kota Poso dan sekitarnya bagai kota mati. Lumpuhnya aktivitas warga yang paling nampak adalah di sektor ekonomi dan pendidikan. Seluruh pertokoan di sepanjang Jalan Pulau Sumatera dan pasar sentral Poso tutup. Demikian juga aktivitas ekonomi di dalam pasar sentral Poso sunyi karena toko, kios, dan lapak tutup. Trans Sulawesi di sepanjang Pulau Sabang Kayamanya- Pulau Sumatera sempat ditutup beberapa jam, dan kembali dibuka petang kemarin. Bagimana aktivitas pendidikan? Semua tingkatan sekolah (TK, SD, SMP, SMA) di wilayah Poso Kota tutup karena memilih memulangkan murid-muridnya lebih awal. Bahkan SD 27 Poso, lokasi penembakan AH, diliburkan sejak awal. Pantauan FAJAR, lumpuhnya aktivitas ekonomi dan pendidikan di pusat kota Poso tak lepas dari tak kondusifnya keamanan saat itu. Aksi baku kejar polisi dengan warga pendukung korban tewas dan penangkapan penggerebekan yang diwarnai saling lempar batu dan pembakaran ban-ban bekas di jalanan kota semakin membuat warga ketakutan. “Takut torang mo buka toko jualan,” ujar warga di pertokoan pasar sentral Poso. Sebagian warga Poso Kota dan sekitarnya juga memilih berdiam diri di rumah. “Tadi saya mo pergi ke pasar. Tapi batal. Takut karena Poso rebut lagi,” sebut Armi, ibu rumah tangga di Poso Kota Utara. Kapolda Sulteng, Brigjen Polisi Dewa Parsana memastikan Poso masih aman dan kondusif. Tapi, ia mengakui jika ada beberapa titik gangguan keamanan di wilayah kota Poso pasca penggrebekan AH dan MY. “Kondisi Poso masih terkendali,” tandasnya. Berita Terkait: » Santoso Otak Teror di Poso » Teroris Poso Lempari Petugas dengan Bom » Densus 88 AT Tembak Mati Warga Kayamanya » Teroris Poso Berkedok Toko Komputer » Densus 88 Dapat Perlawanan Sengit di Poso [Non-text portions of this message have been removed]
