http://www.thejakartaglobe.com/news/dangdut-king-eyes-indonesian-presidency/555736?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=jgnewsletter
Dangdut King Eyes Indonesian Presidency
Jakarta Globe | November 12, 2012

 Dangdut king Rhoma Irama. (SP file) Responding to the clamor of his fans and 
various ulema, the king of dangdut Rhoma Irama has agreed to run for the 
highest political office in Indonesia if nominated. 

“God willing, I'm ready to be nominated as an Indonesian presidential candidate 
in 2014,” Rhoma said on Sunday while preaching during a Koran recital event, as 
quoted by Merdeka.com. 

The idea first came from Rhoma's fans club, Soneta Fans Club Indonesia (SFCI).

“When Bang Hajji [Rhoma] performs in the regions, thousands of people crowd his 
concerts. It may not have been proven through a survey, but the fact is that 
many people support him,” said Surya Aka, the head of SCFI's East Java branch.

The idea was backed by several ulema in East Java.

“We agree to declare that, God willing, we'll nominate him to be the 
president,” the chairman of Wasiat Ulama, Fachrurrozy Ishaq, said as quoted by 
Merdeka.com. “We use to have nationalist leaders who are Muslims. But Rhoma 
Irama is a Muslim leader who is a nationalist. That's what makes him different.”

Rhoma said he was aware that his fans and many ulema from various parts of the 
country wanted to have him as their president.

“This is an extraordinary phenomenon,” Rhoma said as quoted by Tempo.co, adding 
that he had never aspired to become president before.

But the support from his fans and ulema don't seem to be enough to attract 
attention from two of the biggest Islamic political parties in the country. 

The United Development Party (PPP) told newsportal Detik.com that it was too 
early to talk about presidential candidates.

On the other hand, the Prosperous Justice Party (PKS) said the 66-year-old 
Rhoma was too old.

“PKS appreciates the right of every citizen to contest [the election],” PKS 
spokesman Mardani Ali Sera said on Monday, as quoted by Detik.com. “But people 
need a young leader who is ready to work and is inclusive.”

Rhoma, who has been married three times and divorced twice, is known to be a 
conservative Muslim. He has publicly opposed singer Inul Daratista, claiming 
that she had tainted dangdut music with her “erotic dance.” He also opposed the 
candidacy Jakarta Governor Joko Widodo for having Basuki Tjahaja Purnama, a 
Christian, as his running mate.

++++
http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=40105
KAMIS, 07 November 2012 | 3523 Hits

Refleksi Hari Pahlawan Nasional, Dari Diskusi Empat Pilar MPR RI

Orang Maluku Pernah Jadi ‘Presiden’ 7 Kali

 
Maluku punya catatan sejarah yang menakjubkan dalam mendirikan bangsa ini. 
Namun juga punya segudang spekulasi sejarah yang masih diperdebatkan. 

Bahkan mereka yang telah dan belum menjadi pahlawan dari Maluku, dalam sorotan 
tajam. Sejenak coba tinggalkan perdebatan itu, mari lihat fakta sejarah berikut 
ini, yang turut membanggakan orang Maluku adalah Johanes Leimena. Pahlawan 
nasional yan dinobatkan dua tahun lalu, punya segudang prestasi dan kiprah luar 
biasa dalam membangun bangsa. Sebagai orang Maluku, tentu bangga karena turut 
mengharumkan nama Maluku di kanca nasional.

Generasi Maluku selalu mempertanyakan, kapan orang Maluku akan menjadi 
presiden. Sampai negara ini bubar, mungkin tidak akan lahir presiden dari 
Maluku. Tapi setidaknya ini lah fakta sebagai penghibur bahwa orang Maluku 
pernah menjadi presiden.

Meski hanya memegang mandat sementara sebagai presiden, tapi itu pernah terjadi 
pada Johanes Leiman sebanyak 7 kali. Kala itu Presiden RI Soekarno hendak 
berangkan ke luar negeri, dan melihat siapa pejabat yang tepat untuk 
menjalankan tugas-tugasnya di Indonesia. Soekarno melihat sosok yang berbeda 
pada Leimena. Dia pun memilih Leimana untuk memegang jabatanya sementara waktu.

Karena Leimena merupakan sosok yang amanah, Soekarno menjadikannya sebagai 
"langganan" untuk memegang jabatan presiden setiap hendak melakukan perjalanan 
dinas ke luar negari. Hingga 7 kali berturut-turut. Ingat waktu itu terdapat 
banyak pejabat negara. Termasuk wakil presiden Mohammad Hatta. Tapi presiden 
lebih memilih Leimena. Sampai Soekarno lengser dari kursi presiden. Leimena 
masih tetap menjadi orang terpercaya.

"Mungkin karena bapakku tidak akan melakukan pengalihan kekuasaan. Sehingga 
tetap dipercayakan. Karena kondisi bangsa pasca kemerdekaan masih labil. Jadi 
kalau dikatakan orang Maluku belum jadi presiden gak benar juga ya," kata 
Melani Leimana, wakil Ketua MPR RI yang merupakan anak kandung Pahlawan J. 
Leimena, dalam Dialog Empat Pilar MPR RI, dengan tema "Pahlawan Dulu dan 
Sekarang". Dialog ini juga menghadirkan anggota DPD/MPR RI, AM Fatwa, Sejarawan 
UI Anhar Gonggong.

J. Leimena adalah seorang kristiani, bukan seorang Muslim sebagaimana agama 
Soekarno. Tapi Soekarno lebih memilih Leimena di antara deretan tokoh Islam 
saat itu. Leimena menjadi yang terpercaya oleh Soekarno setiap kali hendak ke 
luar negeri. Indonesia ketika itu belum stabil. Kondisi keamanan, disintegrasi, 
dan kemerdekaan masih labil. Di tengah problematika itu, dibutuhkan sosok yang 
benar-benar amanah, untuk memegang sementara jabatan presiden.

Karena gejolak bukan hanya bisa datang dari luar. Tapi dari dalam, tak ada yang 
tahu. Di sinilah semua pertimbangan Soekarno untuk memilih Leimena untuk 
menjalankan roda pemerintahan di Indonesia. Banyak nilai dan pelajaran yang 
bisa dipetik. Bukan hanya pluralisme yang kental dalam diri Leimena tapi juga 
kepribadiannya yang melampaui orang lain.

Melani mengungkapkan, kiprah generasi Maluku dalam perjuangan kemerdekaan tidak 
diragukan. Misalkan pada hari sumpah pemuda 1928 silam, yang turut 
memprakarsainya adalah J. Leimena sebagai perwakilan Jong Ambon.

"Kita dari keluarga tak pernah mengemis untuk mendapat gelar pahlawan, itu 
adalah hak masyarakat. Karena pahlawan berjuang bersama rakyat, mereka adalah 
rakyat," kata Melani.

Melani berharap ke depan bisa saja presiden lahir dari Maluku. Karena sejarah 
ini akan menjadi motifasi, untuk memimpin bangsa. Jangan malu dan minder dengan 
isu separatis seperti RMS, karena Maluku bukan RMS. Katanya, sesuatu yang masih 
gaib, tidak pernah diketahui orang. Sehingga kemungkinan orang Maluku menjadi 
presiden, tetap terbuka. Hanya saja belum ada sosok yang tepat yang menemukan 
momen yang tepat pula.

Di sisi lain AM Fatwa mengungkap kepribadian Leimena yang luar biasa. Ketika 
Soekarno memenjarakan Syahrudin Prawiranegara dan kawan-kawannya. Diam-diam 
Leimena memberikan fasilitas dan membantu karib-kerabat mereka dalam memenuhi 
hidup. Ini bukanlah penghianatan Leimena terhadap Soekarno, tapi rasa 
kemanusiaan yang terpatri dalam pribadi Leimena, sebagai orang yang juga 
mengetahi seluk beluk bangsa.

Peristiwa-peristiwa sejarah ini memiliki nilai humanis yang menakjubkan. Tapi 
sayang nilai-nilai itu jarang ditemukan pada generasi jaman sekarang. AM Fatwa 
memberikan contoh lain, ketika Muhammad Rom dipenjarakan Soekarno, kemudian 
wartawan Rosihan Anwar menulis Soekarno atas tindakannya terhadap Rom, tapi 
justru Rom menulis dan membela Soekarno mati-matian, padahal Soekarno sudah 
meninggal.

AM Fatwa mengatakan dirinya terlibat dalam politik mulai tahun 1955. "Saya 
sudah bersama dengan para tokoh melakukan kampanye politik tahun 55. Namun 
kurang bersentuhan secara langsung dengan Leimena, tapi semua orang mengenal 
kepribadiannya yang baik," katanya.

Para pahlawan kata dia, menanggalkan sifat dendam pada diri mereka. Fatwa 
mengatakan, dirinya menyaksikan sejarah dan terlibat pada aktifitas politik 
Soekarno, juga dalam Orde Baru, dan sampai pada Orde Reformasi. "Saya ikuti dan 
menjadi bagian dari era reformasi, tapi saya menjadi galau," katanya.

"Saya pernah di penjara selama rezim Soekarno waktu masih remaja, saat Orde 
Baru saya juga pernah di penjara selama belasan tahun. Tapi saya tidak dendam," 
katanya.

“Berdamai dengan sejarah, itu penting. Karena bangsa memerlukan generasi yang 
berjiwa besar," tandasnya. Fatwa mengatakan, sekarang orang berlomba-lomba 
menjadi pemimpin padahal mereka adalah orang yang bermasalah. Mereka muncul 
dengan dalih menyelesaikan masalah, padahal mereka sendiri bagian dari masalah 
itu. "Tidak ada teladan dari diri mereka," katanya.

Sehingga dia berharap, pahlawan seperti J. Leimena, bisa dicontohi. Karena 
menjadi orang kepercayaan presiden, di tengah keterpurukan dan kondisi politik 
yang tidak menentu, bukanlah hal yang mudah. 
Ahli sejarah Anhar Gonggong, dari Universitas Indonesia mengatakan, orang yang 
diberi gelar pahlawan mereka tak butuh gelar itu, karena mereka telah 
meninggal. Tapi yang butuhkan gelar itu adalah orang-orang yang hidup. Supaya 
menjadi semangat dan dapat mencontohi para pahlawan. Bukan untuk 
berbangga-bangga. "Maka itu lah gelar pahlawan diperlukan," tandasnya.

Menurut dia, sekarang di DPR RI banyak sekali oknum koruptor, meski juga banya 
yang bergelar doktor, profesor, tapi apakah mereka punya hati yang menjiwai 
pahlawan? Belum tentu. Karena pahlawan itu tercerahkan. Pahlawan itu mereka 
yang berbuat melampaui dirinya sendiri. Pahlawan adalah mereka yang tidak 
bekerja untuk meraih prestasi diri, tapi mereka berbuat untuk orang banyak. 
Seperti itulah J. Leimena. (**


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke