http://arrahmah.com/read/2012/11/12/24673-seminar-internasional-persatuan-dunia-islam-disiapkan-untuk-putuskan-syiah-tidak-sesat.html

Bilal

Senin, 12 November 2012 18:16:19

 
MAKASSAR (Arrahmah.com) - Seminar Persatuan Dunia Islam bertema "Islam rahmatan 
lil Alamin" yang digelar di kampus UMI Makassar menurut salah satu peserta yang 
hadir, yaitu ketua Lembaga Pegkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Sulawesi 
Selatan, Ustadz Said Shomat sudah diarahkan untuk membentuk opini bahwa Syiah 
merupakan sebuah mazhab di dalam Islam bukan ajaran sesat. Padahal, sebelumnya 
dalam seminar tersebut rencananya akan hadir dua orang tokoh  dari Iran dan dua 
orang tokoh dari Saudi agar berimbang.

"Namun, kenyataannya tidak begitu, yang hadir hanya dari Iran saja," kata 
Ustadz Said dalam acara dialog Masalah Syiah yang digelar gabungan ormas Islam, 
di Makassar, Sabtu (10/11).

Acara seminar itu sendiri, memang sudah diusahakan untuk diantisipasi oleh dia 
pada jauh hari sebelumnya, karena acara-acara tersebut memang biasa diadakan 
oleh kaum Syiah dalam rangka taqrib baina mazahib (penyatuan mazhab). Dimana, 
agenda taqrib tersebut biasanya dilakukan di wilayah kaum Sunni ketika mereka 
dalam keadaan sedikit dan lemah dalam rangka menghindari  ketidaksukaan dan 
resistensi kaum Muslimin dari ajaran mereka.

"Tapi anehnya, dimana-mana mereka mengusahakan taqrib dan membangun Darut 
taqrib (lembaga taqrib), sedangkan di Qom, Iran sendiri mereka tidak mengadakan 
taqrib dan membangun darut taqrib," ujar Ustadz Said.

Upaya mengantisipasi seminar tersebut, agar tidak menjadi ajang Syiahnisasi  
dilakukan oleh Ustadz Said dengan cara bersilaturahim kepada ketua Umum 
Muhammadiyah Din Syamsudin yang direncanakan hadir pada seminar tersebut bahkan 
ia sempat mengirim surat ke Din Syamsudin.

"Saya meminta beliau jika jadi berbicara di sana, sesuai lah dengan putusan MUI 
tentang Syiah dan berbicaralah sesuai sidang pleno Muhammadiyah," ungkapnya.

Ia juga mendatangi salah satu Ketua MUI Pusat, Umar Shihab di kantornya dan 
sempat diberikan oleh Umar Shihab  sebuah buku tentang pandangan ulama-ulama 
kepada Syiah. Kemudian saat berkunjung ke rumahnya. Ustadz Said menceritakan 
fakta tingkah laku kaum syiah di Makassar  terkait pelaknatan mereka kepada 
istri-istri dan para Sahabat Nabi SAW serta pembolehan nikah mut'ah.

"Dia pun mengatakan hal itu memang salah (melaknat dan mencaci istri dan 
Sahabat Nabi serta nikah mut'ah), tetapi syiahnya tidak salah menurut beliau," 
tutur ustadz Said menirukan Umar Shihab.

Dalam dialognya dengan Umar Shihab, ia baru mengetahui bahwa acara seminar itu 
memang sudah diarahkan dan dirancang sejak awal agar masyarakat dapat 
menolerasi keberadaan Syiah.

"Ia mengatakan bahwa tujuan seminar itu agar segera diputuskan bahwa Syiah itu 
tidak sesat. Jadi, sudah direkayasa sebelumnya," tukas Ustadz Said.

Dalam seminar itu, para tokoh yang hadir semua menonjolkan pembicaraan tentang 
bagaimana harus hidup damai dan menampilkan Islam berwajah  Rahmatan lil 
'alami.  Tapi tidak pernah dibicarakan bagaimana fatwa MUI terhadap Syiah. 
Bahkan, kesempatan untuk berbicara pun tidak diberikan untuk mengimbangi 
pembicara yang dominan dari kelompok Syiah atau pun yang mendukung Syiah, 
kecuali pada sesi tanya jawab setelah ashar baru Ustadz Said diberikan 
kesempatan berbicara dalam durasi 3 menit.

"Saya sebagai ketua LPPI Makassar sempat menulis surat kepada panitia untuk 
diberi waktu bicara 10 menit saja, tapi itu pun tidak dikasih," ucap ustadz 
Said memberikan kesaksiannya.

Lebih dari itu, menurut Ustadz Said pertemuan tersebut sudah mengeluarkan 
rekomendasi.Padahal, pada acara tersebut pertanyaan-pertanyaan baru diberikan 
dan belum ditanggapi.

"Berarti, ini sudah seperti sudah disetting sebelumnya," ungkapnya.

Seorang ulama dari Sudan bernama Syaikh Ahmad Muhammad, kata ustadz Said, 
menulis satu buku kecil yang  menyatakan bahwa  "Ajakan untuk pendekatan 
(taqrib) kepada syiah adalah pengkhianatan yang besar, dosa yang hebat, dan 
kelalaian yang fatal,". Pasalnya kejadian di Iraq, di Suriah, dan di Yaman saat 
ini akibat dari taqrib.

Ketika mereka lemah selalu bicara tentang taqrib. Namun, ketika mereka kuat 
mereka akan membantai Ahlus Sunnah dengan bengis dan keji. Hal yang mendasari 
kejahatan tersebut, karena kaum Syiah meyakini bahwa Ahlus Sunnah telah kafir 
sebab harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Husein Ra di Karbala, dan 
bertanggung jawab atas tidak terpilihnya Ali bin Abi Tholib Ra menjadi Khalifah 
pertama hinga hari kiamat. Serta, Ahlus Sunnah dikafirkan karena menganggap Abu 
bakar, Umar, dan Usman sebagai Khilafah yang menurut mereka sudah murtad akibat 
merampas keImamahan Ali. Selain itu, Ahlus Sunnah juga dianggap najis dan 
anggapan-anggapan keji lainnya.

"Kita yang sangat memahami ini sangat khawatir," ungkapnya terhadap upaya 
taqrib tersebut.

Ia pun mendesak agar para ulama konsisten terhadap penjelasan MUI terhadap 
Syiah dan fatwa yang sudah dikeluarkan oleh MUI Jatim mengenai kesesatan Syiah.

Syiah bukan Islam

Sementara itu, Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman meminta para Ulama 
Sunnah untuk berani mengatakan bahwa Syiah bukan bagian dari Islam. Sebab 10 
kriteria aliran sesat yang ditetapkan oleh MUI sudah terpenuhi semuanya oleh 
Syiah.

 
"Apalagi yang ditunggu, 10 parameter MUI sudah dilanggar oleh syiah, andai saja 
salah satu dilanggar itu sudah keluar dari Islam," katanya.

Terlebih lagi, kata Ustadz Abu Jibriel, bila kita mengikuti pendapat para Imam 
Mazhab Ahlus Sunnah wal jama'ah maupun yang menyatakan Syiah bukan bagian dari 
Islam. Islam itu sendiri, lanjutnya, merupakan dienul haq (sistem hidup yang 
membawa kebenaran) dan dienullah. Sehingga, dien selain Islam sudah tentu 
bathil (sesat) berdasarkan firman Allah, surat Yunus ayat 32.

"Sehingga kita tidak berpanjang kalam untuk menyatakan mereka bukan Islam," 
cetusnya.

Majelis Mujahidin (MM) sendiri menurutnya, melalui dewan fatwa MM pada tahun 
2012 sudah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah bukanlah Islam berdasarkan beberapa 
fakta yang ditemukan dari pernyataan ulama-ulama Syiah dari kitab mereka 
sendiri, seperti perkataan Imam Syiah Ni'matullah Al Jazairi dalam Al Anwar An 
Nu'maniyah,(2/278), bahwa tuhannya Syiah berbeda dengan tuhannya Ahlus sunnah 
dan Nabinya Syiah berbeda dengan nabinya Ahlus Sunnah.

"Jadi apa lagi yang kita takutkan, agar ulama ini berani dunia akhirat. Cukup 
Ilmu sudah, hanya kurang berani mengatakan syiah bukanlah Islam," tegas Ustadz 
Abu Jibriel.

Ustadz Abu jibriel, meminta agar kaum Muslimin selalu waspada untuk menghadapi 
makar-makar syiah dan berani berjihad menghadapi makar  aliran sesat tersebut 
dikemudian hari.

"Apalagi yang kita fikirkan? Kita takut kita mati, kita berani kita mati. Kita 
berjuang kita mati, tidak berjuang juga mati, lalu apa hubungannya dengan 
ketakutan? " tandasnya yang mengakhiri dengan ayat fala takhsyauhum wakh syauni 
"Janganlah takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku".

Seperti diketahui, Universitas Muslim Indonesia Makassar bekerjasama dengan 
Kedutaan Republik Iran untuk Indonesia menyelenggarakan Seminar Internasional 
Persatuan Dunia Islam dengan tema "Islam Rahmatan lil Alamin", pada senin 
(5/11) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dalam acara tersebut, dihadiri oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, 
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, Rektor UMI, Prof.DR.Hj.Masruroh 
Mokhtar, MA,NB. , Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, KH Hasyim Muzadi, tokoh 
syiah Internasional, Ayatullah M. Ali Tashkiri, Maulawi Ishaq Madani Ulama 
Sunni penasehat Presiden Iran untuk urusan Ahlussunah wal Jama'ah, dan Deputi 
Universitas terbuka Iran, Dr.Mazaher.

Sontak, acara ini pun didatangi oleh gabungan ormas Islam diantaranya majelis 
Mujahidin, FPI Makassar, Wahdah Islamiyah, dan Hidayatullah Makassar untuk 
dihentikan karena dinilai ajang untuk melegalkan ajaran sesat Syiah. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke