http://www.shnews.co/detile-10770-ibuibu-di-rumah-perlu-hatihati.html
Ibu-Ibu Di Rumah Perlu Hati-Hati Periksa Ginting | Selasa, 13 November 2012 - 14:32:48 WIB : 63 BOGOR - Siang itu, Ny. Lina sedang sibuk memasak di dapur. Sambil menanak nasi, wanita paruh baya ini asyik mengiris sayur di atas meja. Tiba-tiba, telepon selularnya berdering berkali-kali. Dengan malas-malasan, Ny Lina mengambil telepon genggam itu dan melihat ke layar. Tidak ada nama dan nomor yang tertera disitu, yang tertulis adalah "nomor pibadi". Penasaran, ibu dua anak ini kemudian mengangkat telepon sambil menyapa "Halo". Dari seberang terdengar suara seorang pria, yang mengaku sebagai anggota polisi. Orang yang tidak menyebutkan namanya ini mengatakan pihaknya baru saja meringkus adik Ny. Lina di Medan karena terlibat kasus narkoba. Ny. Lina, yang sendirian di rumah, panik bukan kepalang. Ia bingung harus berbuat apa. Sementara orang yang mengaku polisi, dengan setengah membentak mengancam akan memproses adik Ny. Lina. ''Ibu sayang tidak sama adiknya. Kalau sayang segera urus dan ikuti perintah saya,'' tegas pria misterius itu. ''Apa perintahnya pak, dan apa yang harus saya lakukan. Tolong Pak, adik saya jangan diapa-apain,'' pinta wanita bertubuh bongsor ini penuh harap. ''Oke, kalau sayang adik Anda, segera kirim uang 20 juta,'' perintah orang yang mengaku sebagai anggota polisi. Ibu dua anak ini tentu saja kaget mendengar permintaan orang itu. Selain tidak memiliki uang tunai sebanyak itu, lagi pula apakah harus dia percaya begitu saja. Terlebih lagi, orang yang mengaku anggota polisi tersebut tidak bersedia menyebutkan namanya dan di Polsek mana tugasnya. ‘’Maksud saya, kalau benar adik saya ditangkap polisi dan tahu di Polsek mana ditahan, kan bisa minta saudara untuk mengeceknya. Tapi karena tetap tidak mau menyebutkan nama dan Polsek-nya, saya jadi curiga,’’kata Ny. Lina. Tetapi ibu dua anak ini belum mematikan teleponnya. Ia kemudian meminta untuk berbicara dengan adiknya. Telepon tersebut kemudian diserahkan kepada orang yang disebut-sebut tertangkap basah mengedarkan narkoba. Saat itulah terdengar suara tangisan seorang pria dan memohon kepada Ny. Lina. ‘’Kakak, tolong bantu saya,’’isak tangis terdengar dari seberang telepon. Mendengar suara itu, Ny. Lina, yakin dirinya terperangkap upaya penipuan. Selain dialeknya mirip dengan bahasa Jawa, adik-adiknya tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia kalau berkomunikasi dengan Ny. Lina. ‘’Sejak bayi hingga dewasa dalam keluarga kami menggunakan bahasa Batak Karo. Kok tiba-tiba adik saya minta bantuan pakai bahasa Indonesia. Kan tidak mungkin,’’ujar Ny. Lina. Meskipun sudah tahu motif yang dilakukan penelepon gelap itu, wanita pemilik rambut sebahu ini mencoba bersabar mendengar ulah pelaku yang kembali memerintahkannya untuk segera mengirim uang tebusan. ‘’Udah dengar suara adiknya kan, sekarang cepat kirim uangnya biar urusan selesai,’’ tegas orang yang mengaku polisi. ‘’Pak tolong dulu siapa nama adik saya. Kok dia cuma nangis saja,’’ selidik Ny. Lina. Penipu yang mengaku sebagai anggota Polisi merasa kesal dengan ulah Ny. Lina. ‘’Heh, kamu punya adik gak. Kalau kamu tetap tidak kirim uang akan saya tembak adik kamu ini,’’bentaknya. Merasa yakin bahwa yang terjadi adalah upaya penipuan, dan suara minta tolong sambil menangis tadi bukan suara adiknya, Ny. Lina tidak was-was lagi. Wanita ini pun membatalkan niat menghubungi saudara-saudaranya di Medan untuk memastikan kasus yang menimpa adiknya. Dengan santainya, Ny. Lina menjawab penelpon, ‘’Pak, saya tidak punya uang. Kalau bapak mau tembak adik saya, silakan tembak saja,’’tegas wanita itu sambil menutup telepon. Model penipuan seperti ini tidak hanya menimpa Ny. Lina. Kejadian serupa juga dialami Ny. Bagus, warga Perumahan IPB Alam Sinar Sari. Ibu tiga anak ini kalang-kabut karena menerima telepon dari seseorang yang mengaku anggota polisi. Khawatir dengan ancaman orang tersebut, Ny. Bagus akhirnya menuruti permintaan penjahat. Namun karena tidak punya uang tunai sebanyak Rp 30 juta seperti yang diminta pelaku, Ny. Bagus hanya mengirim pulsa sebesar Rp 200.000. Setelah mengirim pulsa tersebut, Ny. Bagus menyadari telah tertipu. Akhirnya, wanita ini hanya bisa menangis karena uang belanja sehari-hari lenyap dikirim ke penjahat. Menurut Ny. Lina, upaya penipuan sekarang ini banyak terjadi. Untuk itu para ibu-ibu yang sehari-hari di rumah lebih berhati-hati. ‘’Jangan gampang percaya. Jangan menanggapi telepon itu terlalu serius karena kita bisa terhipnotis melalui telepon tersebut,’’ imbuhnya. [Non-text portions of this message have been removed]
