Ref: Mungkin pemerintah anti gerakan buruh dan juga kalangan buruh kurang 
bersatu untuk memajukan masalah kepentingan buruh misalnya perbaikan kondisi 
kerja, keselamatan bekerja dan upah. Ada pendapat lain?

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/19/88274/begitu_sulitnya_mendorong_dialog_kepentingan_buruhperusahaan/#.UKlm8YaaHBo


      Begitu Sulitnya Mendorong Dialog Kepentingan Buruh-Perusahaan 
      Oleh : Manosor Panjaitan. 


      Bangsa kita akan tetap dililit beragam permasalahan dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara kalau beberapa orang diantara kita tetap bersikukuh 
memperjuangakan egonya, hanya memikirkan yang terbaik menurut dirinya sendiri. 
Kenapa kita tidak belajar dari generasi terdahulu yang begitu membanggakan. 
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 baru saja 
diperingati dengan segala kreasinya, namun kita tidak melakoni sikap luhur 
didalamnya: perjuangan untuk kebaikan bersama, kebaikan untuk bangsa dan negara.
      Menyikapi permasalahan perburuhan di tanah air, maka penulis 
menyumbangkan gagasan dengan maksud mendorong terciptanya sebuah dialog 
konstruktif yang akan menegakkan kembali pilar hubungan industrial. Latar 
belakang penulis yang merupakan bagian managemen sebuah perusahaan paling 
sedikit direspon baik sebagai sebuah aspirasi dari kalangan industri. 

      Pengalaman penulis menemukan bahwa ada yang perlu dikoreksi oleh pihak 
buruh, dimana bila koreksi ini dilakukan dapat mendorong perusahaan untuk 
memenuhi tuntutan para buruh. Harus ada jual beli, maka muncullah gagasan 
tentang barter.

      Namun sayang, niat baik ini direspon emosional pemilik kebenaran 
(meminjam istilah Ahmad Yani, anggota DPR-RI). Emosi cenderung memunculkan 
subjektifitas setiap orang, membuatnya sulit objektif dalam menganalisis sebuah 
permasalahan. Subjektifitas pada akhirnya membuat setiap orang sulit menemukan 
"sedikit saja kebenaranan" dalam diri orang lain. Bila ini yang terjadi maka 
yang muncul adalah anarki. Itulah yang terjadi selama ini di negara tercinta 
kita ini.

      Arif

      Lewat artikel "Meminimalkan Monopoli Pengusaha" maka Ir. Fadmin Prihatin 
Malau, sang penulis berpetuah bahwa seorang penulis harus seperti Fadmin yakni 
arif dan cerdas dalam melihat akar masalah sehingga ditemukan solusi yang tepat 
dan dapat menemukan dimana titik kelemahan (kesalahan) itu untuk dilakukan 
perbaikan oleh pihak yang berkompeten. Tidak boleh melakukan pembelaan yang 
tanpa dasar akan tetapi membela berdasarkan data dan fakta faktual yang teruji.

      Penulisan artikel "Seyogianya Buruh Melakukan Barter" sesungguhnya adalah 
gagasan penulis yang nota bene masih ada dalam perut sebuah industri. Paling 
sedikit, ada suara hati, aspirasi dari dunia industri ditengah gencarnya opini 
publik yang didominasi buruh dan pemerhati buruh. Paling sedikit ini harus 
dianggap "bocoran soal" dari dunia industri, semestinya penulis diberi 
apresiasi. 

      Lewat artikel ini maka pesan penulis adalah agar seluruh komponen bangsa 
ini mendorong buruh-perusahaan untuk membenahi dirinya masing-masing lalu duduk 
dalam meja perundingan, menata sebuah hubungan industrial yang sehat. Saling 
memahami bahwa masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban timbal balik. 

      Boleh jadi, karena dituntun emosi maka Fadmin tidak membaca bahwa dalam 
pengantar "Seyogianya Buruh Melakukan Barter" penulis menitip pesan bahwa 
artikel itu bukan sebagai pembelaan. Terimalah itu sebagai aspirasi. Kalau ada 
gagasan yang oleh para pemilik kebenaran dianggap "salah" maka jelaskanlah 
dimana letak "dosa" gagasan tersebut.

      Ada pesan Fadmin kalau dirinya sudah lama malang melintang dalam dunia 
hubungan kerja sehingga harus dianggap sebagai seorang guru yang ulasannya 
harus diterima sebagai sebuah kebenaran. Pernah menjadi HRD, Media Relations, 
Public Relation, menjadi Manager Operasional. Ada komentar mengejutkan yang 
disampaikan lewat artikel ini bahwa: Dengan mengetahui sudah begitu lama 
dibesarkan oleh industri maka seharusnya Fadmin harus bisa menjembatani antara 
buruh dan perusahaan pada saat konflik perburuhan ini.

      Punya pengalaman menjadi managemen perusahaan dan menjadi aktivis 
perburuhan seharusnya bisa disinkronkan untuk membangun bangsa dan negara ini 
lewat penataan hubungan industrial di Indonesia. Ternyata jauh panggang dari 
api, Fadmin bukan seorang satria. Begitu turun dari singgasana ketenarannya 
dalam dunia industri, kini berbalik menjadi oposan, yang mengolok-olok 
almamaternya yang dulu dibangunnya.

      Akar Masalah

      Lewat artikel "Buruh, Mencari Solusi Kesejahteraan" maka penulisnya 
Muhammad Ishak sudah mewanti-wanti bahwa sumber konflik itu terletak pada ego 
masing-masing (buruh-perusahaan-pemerintah). Seharusnya ini menjadi pencerahan 
bagi pihak buruh-perusahaan dan juga untuk pemerintah sendiri. 

      Ada yang harus dibenahi yakni, cobalah duduk bersama untuk menyusun 
disain hubungan industrial dimana masing-masing pihak memahami mereka memiliki 
hak dan kewajiban timbal balik. Kalau setiap pihak hanya menonjolkan ego 
masing-masing maka sampai kapanpun konflik perburuhan akan tetap ada.

      Tentang outsourcing sudah diinformasikan bahwa beberapa perusahaan 
memahaminya sebagai sebuah alternatif untuk bisa menjangkau buruh bermasalah, 
bukan sebatas upah murah. Lebih mudah menjangkau buruh bermasalah dalam sistim 
outsourcing daripada buruh perusahaan, inilah yang harus disikapi oleh seluruh 
komponen bangsa ini. 

      Outsourcing seyogianya dihapuskan namun harus ada kondisi terbaru yang 
ditampilkan buruh pasca penghapusan outsourcing semisal, produktif, dan loyal. 
Dengan barter ini diharapkan bisa "memaksa" perusahaan untuk sampai pada sebuah 
pemahaman bahwa outsorcing harus ditinggalkan. Bukankah hidup ini harus saling 
memberi dan saling menerima.

      Membangun dialog kepentingan buruh-perusahaan, penting untuk dilakukan 
siapa saja dalam negeri ini. Atas dasar pemikiran inilah muncul gagasan penulis 
yang kebetulan masih ada dalam perut industri. Kebebasan mengeluarkan pendapat 
lisan dan tertulis dijamin oleh konstitusi. Kalau ada gagasan yang kurang 
berkenan maka harus dipatahkan lewat argumen membangun. 

      Penulis mencoba menguraikan analisisnya tentang kondisi perburuhan 
berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakan agar bisa menjadi pertimbangan dalam 
menyelesaikan konflik perburuhan. Sangat mengejutkan ketika argumen ini 
dikomentari bahwa seseorang memiliki pengalaman yang melebihi siapapun karena 
pernah menjadi HRD, Manager dan lain-lain. Pertanyaannya adalah: apa relevansi 
antara gagasan yang disodorkan penulis dengan segudang kesuksesan Fadmin (jaman 
dulu).

      Ada banyak ulasan Fadmin yang harus digali lebih mendalam, termasuk 
tentang tentang sistem pemberdayaan manusia (pekerja/buruh). Menurutnya, HRD 
fokus menjadikan pekerja/buruh sebagai subjek, bukan sebagai objek. Sedangkan 
personalia fokus menjadikan pekerja/buruh sebagai objek.

      Subjek itu adalah setiap orang yang memiliki hak dan kewajiban, sedangkan 
objek hanya memiliki kewajiban semata. Contoh, mesin. Mesin itu adalah objek 
karena dia hanya menjalankan kewajiban yang diperintahkan. Pertanyaannya 
sekarang adalah: Apakah ada personalia perusahaan yang memperlakukan buruh 
hanya sebagai objek? Hanya dipandang sebagai pihak yang memiliki kewajiban, 
tanpa hak? 

      Mendorong

      Buruh itu adalah aset bangsa, demikian juga perusahaan. Buruh dan 
perusahaan sudah dikawinkan dalam sistem hubungan industrial. Hubungan 
industrial mengatur tentang hak dan kewajiban kedua pihak. Konflik perburuhan 
saat ini harus disikapi dengan upaya yang bisa mempertemukan kepentingan kedua 
belah pihak, mencari dan menemukan yang terbaik untuk kepentingan kedua belah 
pihak. Jangan ada pihak yang merasa bahwa kebenaran yang diyakininya itulah 
yang harus diterima buruh-perusahaan sebagai kebenaran.

      Buruh dan perusahaan itu adalah sebuah keluarga besar. Kalau ada konflik 
maka mereka harus dipertemukan. Bangsa ini baru saja memperingati hari Sumpah 
Pemuda dan hari Pahlawan. Sumpah Pemuda adalah ikrar tentang tekad untuk 
mengubur ego dan kepentingan kelompok untuk kebaikan bersama. Hari Pahlawan 
adalah hari yang mempertontonkan ketika setiap orang di Surabaya berhasil 
mengubur ego masing-masing dan maju bersama ke medan tempur untuk kepentingan 
semua. 

      Membangun kebersamaan, harus menjadi kompas dalam menyikapi permasalahan 
perburuhan di tanah air. Tidak ada pembicaraan yang mengulas siapa yang disebut 
buruh, siapa yang disebut pengusaha. Tidak ada pembicaraan tentang HRD, 
Manager, atau Humas. Kebenaran itu ada pada setiap orang. ***

      Penulis: Kepala Personalia & Humas industri CPO.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke