Ref : Apakah ada yang berani mengundang wakil raja untuk minum kopi tubruk? 

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/11/364507/284/1/KPK_Jangan_Lempar_Kasus_Wapres_ke_MK


Mahfud MD:

KPK Jangan Lempar Kasus Wapres ke MK 
Penulis : Rudy Polycarpus
Rabu, 21 November 2012 20:29 WIB     

JAKARTA--MICOM: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk mengakui belum 
cukup memiliki bukti kuat menjerat Wakil Presiden Boediono dalam kasus dana 
talangan Bank Century. 

Pendapat itu diungkapkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di Jakarta, Rabu 
(21/11). "Kalau KPK tidak ada bukti bilang saja, jangan malah melempar ke MK," 
ujarnya. 

Ia meluruskan pernyataan Ketua KPK Abraham Samad yang mengatakan komisinya 
tidak dapat menyelidiki Boediono karena terbentur konstitusi. 

Abraham menyebut DPR sebagai lembaga yang berhak memeriksa DPR untuk kemudian 
dilanjutkan ke MK untuk proses pemakzulan. 

Namun Mahfud tidak sependapat dengan Abraham. Menurutnya, dalam pengusutan 
pelanggaraan yang dilakukan kepala negara dalam konsep acara pidana berbeda 
dengan hukum tata negara. 

"Kalau melalui DPR untuk proses pemakzulan itu melalui pendakwaan politik. 
Sedangkan pidana, prosesnya tetap berjalan," katanya. Ia mengakui bahwa kasus 
Century sarat tekanan politik. 

Pernyataan Abraham tersebut, kata Mahfud, malah menimbulkan kegaduhan politik. 
"Jadi kalau KPK belum ada bukti, akui saja. Jangan dilempar ke MK," tegasnya. 
(PL/OL-5) 

++++

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/11/364567/284/1/Rombak-Segera-Aparat-Kesekretariaan-KPU


Rombak Segera Aparat Kesekretariaan KPU 
Penulis : Emir Chairullah
Kamis, 22 November 2012 03:09 WIB      
MI/Rommy Pujianto/cs
  a.. JAKARTA--MICOM: Koalisi LSM mendesak pemerintah segera mengganti aparat 
birokrasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang tidak mendukung program tahapan 
pemilu. Dikhawatirkan buruknya relasi antara komisioner dan birokrasi 
kesekretariatan KPU bisa mengganggu jalannya Pemilu 2014. 

"Lemahnya institusi KPU bisa mengancam jalannya penyelenggaraan pemilu secara 
mandiri dan independen," kata Wahyudinata, Koordinator Komite Independen 
Pemantau Pemilu (KIPP) di Jakarta, Rabu (21/11). 

Menurut Wahyu, tidak optimalnya kerja aparat kesekretariatan ini bisa diartikan 
sebagai penolakan untuk melakukan pelayanan publik dan pelanggaran etika 
sebagai Pegawai Negeri Sipil. Apabila hal ini didiamkan bisa berakibat pada 
upaya pelemahan KPU. "Karena itu, pemerintah harus mengambil langkah yang bijak 
untuk menyelesaikan persoalan ini," tegasnya. 

Ia berharap, proses rekrutmen pegawai kesekretariatan KPU bisa memilih sumber 
daya manusia terbaik yang bisa menjadi sistem pendukung tahapan pemilu. 
"Sehingga penyelenggaraan pemilu bisa dilakukan oleh para profesional yang 
berkualitas dan berintegritas," pungkasnya. (Che/OL-2) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke