Untuk melihat video footage, click situs :

http://politik.kompasiana.com/2012/11/23/tayangan-video-kunker-anggota-dpr-yang-salah-alamat-ke-din-berlin-jerman-itu-511091.html

Tayangan Video Kunker Anggota DPR yang Salah Alamat ke DIN, Berlin, Jerman Itu
REP | 23 November 2012 | 08:49 Dibaca: 809   Komentar: 0   3 aktual 
 
Acara kunker DPR dengan DIN, Berlin, Jerman. Salah alamat. (Sumber: Youtube PPI 
Berlin)

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Berlin, Jerman baru saja mengunggah di 
Youtube video rekaman “kunjungan kerja” anggota DPR yang “kesasar” ke DIN 
(Deutsches Institut für Nörmung), Berlin, dengan judul [PPI Berlin] Fakta 
Kunker Baleg DPR-RI ke DIN . (Deutsches Institut für Nörmung).

Studi banding ala DPR-RI adalah dalam rangka penyusunan RUU Keinsinyuran 
(begitu nama unik yang diberika DPR untuk RUU tersebut), ternyata salah alamat 
karena DIN tidak membidangi standarisasi kompetensi profesi profesi, tapi 
standarisasi produk dan proses produk. DIN juga bukan lembaga 
pemerintah/negara, tidak berkapasitas dalam bidang legislasi. Fokus bidang DIN 
adalah riset dan edukasi.

Meskipun sudah tahu salah alamat, anggota-anggota DPR yang ternyata sebagian 
besar tidak bisa bahasa Inggris dan Jerman itu, tetap nekad maju terus. 
Akibatnya semakin parah, kelihatan menjadi seperti sekumpulan badut, hanya 
memamerkan kebodohan, dan bikin malu bangsa. Terungkap pula di sana, mereka 
juga ternyata tidak menguasai materi yang hendak mereka tanyakan, ada dua orang 
dari mereka datang terlambat, — baru tiba pukul 11:45, padahal acara sudah 
dimulai sejak pukul 10.00, berakhir pukul 12.00, dengan menenteng kopor, ada 
yang malah bermain dengan ponselnya ketika acara diskusi sedang berlangsung. 
(Baca tulisan saya yang berjudul Studi Banding Anggota DPR: Jauh-jauh ke Jerman 
Hanya Pamer Kebodohan).

Ketika saya mengunduh dan menonton rekaman video tersebut di Youtube, anak saya 
yang baru berusia 10 tahun, kelas 5 Sekolah Dasar, bertanya kepada saya, “Film 
apa itu, Pa?” Saya jelaskan, “Itu anggota DPR ke Jerman.” Terus dia tanya lagi, 
“Mereka pintar bahasa Jerman, ya, Pa?” Saya jawab, “Tidak.”

“Kalau begitu, pasti bisa bahasa Inggris, ya, Pa?”

“Sebagian besar tidak bisa,” jawab saya lagi.

“Lho, kalau begitu bagaimana caranya mereka bekerja dan bicara dengan 
orang-orang di sana, Pa? Pa, Pa, aku kira mereka orang-orang pintar!”

Bayangkan anak kelas 5 SD saja bisa ngomong begini?!

*

Dari tayangan video tersebut, terlihat sejak awal kedatangan anggota Baleg 
DPR-RI itu,  tidak disambut seadanya oleh pejabat DIN.  Mungkin sebenarnya, 
mereka  merasa kedatangan anggota DPR itu bukan sesuatu yang penting, pun 
bingung, untuk apa dan kenapa anggota-anggota DPR itu datang ke mereka. Dari 
ketika para anggota DPR itu tiba di kantor DIN dengan bis, tidak ada yang 
menyambut mereka. Hanya ada sambutan dari dua orang di depan pintu masuk, 
itupun sebelum semua anggota DPR masuk ke dalam gedung, dua orang penyambut  
itu sudah masuk meninggalkan anggota DPR sisanya.  Begitu juga ketika pulang, 
tidak ada satu pun pejabat DIN yang mengantar mereka. Sambil menentang kopor 
dan barang bawaan mereka ke luar ruangan, dengan tertawa-tawa ceriah, mereka 
meninggalkan Gedung DIN. Ada satu orang yang dengan santainya, berdiri 
menghabiskan rokoknya di depan gedung.

Suasana di dalam ruangan acara juga benar-benar terlihat sangat kaku, seperti 
yang dilaporkan PPI Berlin sebelumnya. Komunikasi berlangsung dengan tidak 
lancar karena terkendala bahasa. Anggota-anggota DPR yang terlihat kikuk itu 
saling bicara sendiri, sedangkan dua pejabat DIN yang mendampingi mereka, hanya 
diam saja. Tidak tahu harus berbuat apa. Salah satunya hanya mengutak-atik 
laptop di depannya.

Ketika acara sudah berlangsung, terdengar suara salah satu anggota DPR yang 
berkata, “Nanti supaya ndak binggung apa yang disampaiken dia, sampaikan bahasa 
Indonesia. Nanti, bapak saya ngomong, sampaiken bahasa Inggris.”

“Yaaaa, bahasa Jerman … bahasa Jerman, …”

“Bahasa Jerman? Mau bahasa Jerman atau Inggris?”

“Presentasinya bahasa Inggris, Pak …”

Terdengar suara tawa berderai dari anggota-anggota DPR yang sedang bingung itu. 
Kelihatan memang mereka tidak merasa malu atas kekonyolan-kekonyolan mereka itu 
sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam bahasa Indonesia pun disampaikan 
dengan tertatih-tatih, seperti orang yang sedang kesulitan mencari-cari 
kata-kata yang tepat. Komunikasi berlangsung dengan kaku, kikuk, dan 
kalimat-kalimat pendek-pendek saja.

Tayangan video kemudian memperlihatkan, sekitar pukul 11:45, atau 15 menit 
menjelang acara selesai, ada dua orang anggota DPR yang baru tiba dengan taksi. 
Mereka datang dengan menenteng kopornya masing-masing. Tertatih-tatih dengan 
barang bawaannya menuju ke dalam gedung DIN. Sudah datang begitu terlambat, 
tapi tetap santai saja.

 
Ini dua anggota DPR yang baru tiba sekitar pukul 11:45. Padahal acara sudah 
dimulai sejak pukul 10.00. Kunker kok bawa2 kompor2 segede itu? (Sumber: 
Youtube PPI Berlin, Jerman)
 
Dua anggota DPR ini mungkin keliru, mengira Gedung DIN, Berlin, Jerman ini 
adalah hotel. Lihat barang bawaan mereka (Sumber: Youtube PPI Berlin, Jerman)

Menurut seorang perempuan yang mendampingi mereka, dia baru saja menjemput 
mereka dari bandara Tegal. Dia juga bingung, harus dibawa ke mana dua anggota 
DPR itu. Kelihatan dua anggota DPR itu pun tidak tahu mereka harus ke mana.

Selengkapnya silakan nonton sendiri tayangannya di Youtube di bawah ini:


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke