Ref: Mengapa harus repot? Berkompromilah, sekalipun dengan penjahat, misalnya 
koruptor. Pasti ada rejeki.
.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/212698

SBY: Inti Politik Adalah Membangun Kompromi


Minggu, 25/11/2012 - 17:45 
BOGOR, (PRLM).-Presiden mengingatkan bahwa inti dari politik itu adalah 
membangun konsensus atau kompromi. Konsensus sangat diperlukan karena banyaknya 
ideologi dan kepentingan politik yang berbeda satu sama lain dan tak jarang 
saling berbenturan. 

Kemajemukan bisa menjadi kekayaan sebuah bangsa, namun bisa juga menjadi sumber 
masalah dan benturan jika tidak dikelola dengan baik. Presiden RI Susilo 
Bambang Yudhoyono menyampaikan itu pada pidato penutupan World Peace Forum yang 
ke-4 di Istana Bogor, Minggu (25/11).

Ia menyebut sistem multipartai yang dianut di Indonesia sebagai salah satu 
tantangan Indonesia untuk menerapkan demokrasi multikultural. 

Ia membandingkan dengan sistem kepartaian di Amerika Serikat (AS) yang dikuasai 
mayoritas dua partai politik besar, yaitu Partai Demokrat dan Partai Republik 
sehingga proses politik tidak terlalu kompleks. Sementara, Indonesia dengan 
sistem multipartai, proses politiknya menjadi panjang dan kompleks.

Selain sistem multipartai, tantangan Indonesia yaitu demokrasi yang masih pada 
tahap pematangan dan keragaman identitas politik di kalangan masyarakatnya. 

Presiden mengingatkan lagi bahwa Indonesia tidak akan mengimpor atau mencangkok 
demokrasi dari negara manapun. Meskipun ada nilai-nilai universal yang 
diadopsi, demokrasi yang mapan dan kuat, kata dia, adalah demokrasi yang tumbuh 
dari proses sejarah negara itu sendiri. 

"Dalam demokrasi memang ada nilai universal, tetapi selalu ada nilai-nilai 
lokal, apakah itu agama, budaya, dan kekhasan lain," ujarnya.

World Peace Forum (WPF) merupakan forum tingkat dunia dua tahunan yang 
diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bekerjasama dengan Cheng Ho 
Multi Culture Trust, Malaysia dan didukung oleh Centre for Dialogue and 
Cooperation among Civilization (CDCC) yang berbasis di Jakarta. 

WPF ke-4 menekankan pada pentingnya konsolidasi demokrasi multikultural. 
Identitas dan multikulturalisme sangat menentukan bagi terciptanya perdamaian 
dan peningkatan demokrasi. 

Sayangnya, meski demokrasi merebak di berbagai negara, konflik identitas bukan 
surut, kecenderungannya malah semakin mengkhawatirkan. 

Ketua Penyelenggara WPF ke-4 sekaligus Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din 
Syamsuddin melaporkan bahwa forum itu diikuti 200 peserta dari dalam dan luar 
negeri. Mereka terdiri dari tokoh politik, pemimpin organisasi, akademisi, dan 
aktivis perdamaian.

Din Syamsuddin mengatakan bahwa dalam forum muncul kesepakatan untuk 
melancarkan gerakan global untuk mengampanyekan pentingnya demokrasi 
multikultur. 

Selain itu, juga disepakati bahwa demokrasi adalah bentuk ideal sebuah 
pemerintahan, namun harus bernafaskan nilai etika dan moral. 

"Oleh karena itu, penerapan demokrasi dalam konteks kemajemukan perlu 
mengedepankan nilai keutamaan dari multikulturalisme," ucapnya.

Indonesia sendiri banyak disebut dalam forum itu karena memiliki filsafat 
Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemikiran cemerlang. 

Pendiri Cheng Ho Multi Culture Trust, Tan Sri Lee Kim Yew mengatakan bahwa 
Indonesia dapat dijadikan model keberhasilan sebuah negara yang majemuk namun 
sukses membangun demokrasi. 

Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup stabil, ia yakin Indonesia 
dapat memimpin terbentuknya demokrasi multikultur di tataran global. 
(A-156/A-89)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke