Ref: Apakah ini bukan human traffickin yang disponsor dan ditoleransi oleh 
rezim berkuasa Neo-Mojopahit? Disponsor karena rezim tidak mampu menciptakan 
lapangan kerja sesuai pertumbuhan penduduk dan ditoleransikan karena 
mendatangkan devisa  dalam jumlah miliar bagi kas negara. Menerut keterangan 
penerimaan  devisa dari TKI/TKW adalah nomor dua dibandingkan hasil devisa dari 
export barang dagangan. Lain dari pada itu omongkosong.

http://www.shnews.co/detile-11098-tafsir-hamka-dan-tki.html

Tafsir Hamka dan TKI 
Fredrik Y.A Doeka* | Rabu, 21 November 2012 - 14:34:50 WIB

: 292 



(dok/ist)
Para pebisnis TKI saat ini sama dengan Firaun, Belanda, dan rezim kulit putih 
di Afsel.


Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amirullah (1908-1981) yang lebih dikenal 
dengan nama Hamka adalah seorang sarjana muslim abad ke-20. Dia menerima 
pendidikan sekuler utamanya di Padang Panjang, Sumatera Barat. 

Dia belajar menguasai Arab dan memiliki pengetahuan yang mendalam dalam bidang 
agama-agama. Sebagai seorang ahli yang banyak mengarang buku agama, antara lain 
30 seri tafsir al-Azhar, dia juga dikenal sebagai sastrawan yang antara lain 
mengarang novel Merantau ke Deli. 

Dalam Al-Azhar IX:47, tafsirannya tentang surat 7:133, Hamka menyatakan 
tulah-tulah belum berhasil memaksa Firaun untuk mengizinkan bangsa Israel 
keluar sebagai orang merdeka. Hamka memahami bahwa tidak ada pilihan lain bagi 
Allah kecuali bertindak segera. 

Dia kemudian mengirimkan lima tulah, yaitu badai, belalang, kutu, katak, dan 
darah (QS 7:133) untuk membuat Firaun mengakui kuasa-Nya. Hamka menerangkan, 
aneka tulah itu telah disebutkan dalam Keluaran 8; 9:18; 10:15. 

Ayat-ayat Alkitab ini menceritakan Firaun yang menolak permohonan Musa untuk 
mengizinkan bangsa Israel keluar dari tempat perbudakan. Tetapi karena 
tulah-tulah itu maka pada akhirnya Firaun menjadi takut. Dia kemudian 
membiarkan orang-orang Israel pergi. 

Sifat keras kepala Firaun untuk tetap memperbudak bangsa Israel disebabkan oleh 
upah gaji budak Ibrani yang sangat rendah. Keadaan upah ini tentu membuat 
Firaun mendapat manfaat ekonomi yang sangat besar. Hamka melihat keadaan ini 
mirip dengan kondisi para budak Negro di Amerika Serikat dan rendahnya status 
masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan karena politik Apartheid di era 
modern. 

Para penguasa mengambil untung sebesar-besarnya atas pekerjaan dari masyarakat 
yang tertindas itu. Penderitaan Israel di bawah perbudakan Mesir juga setara 
dengan kuli kontrak Jawa di Sumatera pada abad ke-20. Hamka melukiskan 
pengalaman keras mereka dalam novelnya, Merantau ke Deli. 

Poniem dan Suyono, dalam novel ini, yang memiliki upah sangat rendah sebagai 
kuli Belanda pada waktu itu, sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk 
meninggalkan kontrak kerja mereka. Poniem, yang menjadi “nyonya” mandor lokal 
dan menjadi wakil perempuan Jawa adalah salah satu korban perdagangan manusia 
pada 1920 yang dipekerjakan sebagai kuli dan pekerja seksual. 

“TKI On Sale” 

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan iklan “TKI on Sale” di Malaysia dan 
Singapura. Banyak analis yang menduga, ini adalah bagian dari sindikat 
perdagangan manusia. Bisnis perdagangan manusia Indonesia ternyata cukup 
menggiurkan bagi mereka. Karena itu para pedagang di dua negara jiran itu tidak 
segan-segan mengiklankannya demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. 

Di Indonesia, praktik bisnis TKI secara terang-terangan diiklankan dari mulut 
ke mulut dan dari pintu ke pintu. Jika Anda ke pedalaman Timor, misalnya, Anda 
pasti berjumpa dengan banyak calo TKI yang keluar masuk kampung dengan 
janji-janji manis yang diiklankan kepada masyarakat setempat. 

Orang-orang mau saja menjadi calo karena bisnis ini memberi keuntungan secara 
ekonomis bagi mereka. Kita pun bisa membayangkan berapa besar keuntungan yang 
diperoleh agen TKI, baik yang resmi maupun yang ilegal, di republik ini. Yang 
membuat hati kita miris ialah bahwa para TKI itu disebut Pahlawa Devisa. 
Tidakkah gelar ini jatuh sama dengan iklan di dua negeri jiran itu? 

Andai saja Hamka masih hidup, kemungkinan besar dia mengkritik secara pedas 
bahwa para pebisnis TKI saat ini sama dengan Firaun, Belanda, dan rezim kulit 
putih di Afrika Selatan. Mereka bersama kaki tangannya tidak hanya menarik 
keuntungan sebesar-besarnya dari para TKI yang diupahi rendah, tetapi juga 
telah menghancurkan martabat kemanusiaan itu sendiri. 

Kepada para sindikat TKI, masih menurut Hamka, tulah Mesir itu pasti datang 
untuk menyadarkan mereka. Tetapi, akankah mereka sadar? Lalu, siapakah yang 
yang harus menyadarkannya? Wallahu a’lam bi al sawab. 

*Penulis adalah Dosen Islamologi dan Teologi Agama-Agama Fakultas Teologi UKAW 
Kupang. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke