http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/03/91388/jangan_sebut_mereka_china/#.UL3b8IaaHBo

      Senin, 03 Des 2012 00:04 WIB


      Jangan Sebut Mereka China ! 
      Oleh: Prasasti Perangin-angin. Beberapa waktu yang lalu, saya dan 
beberapa teman berkesempatan mengikuti sebuah konfrensi mahasiswa Kristen di 
Singapura. Karena keterbatasan dana, maka kami akhirnya menempuh perjalanan via 
Kuala Lumpur Malaysia. Karena ongkos bus Kuala Lumpur - Singapura sangat 
terjangkau maka akhirnya kami mengikuti rute itu. Namun ternyata rute tersebut 
membuat pihak imigrasi Singapura sangat selektif dan sangat berhati-hati 
memeriksa berkas, tujuan, uang, sebelum kami diizinkan masuk ke Singapura.
      Karena kondisi itulah, akhirnya seorang teman kami sempat ditahan di 
imigrasi Singapura. Penahanan itu tentu saja berujung kepada keterlambatan 
untuk mengikuti acara konfrensi. Sehingga panitia harus menjemput kami dan 
menjelaskan tujuan dan maksud kami ke Singapura. Setelah menunjukkan berbagai 
surat-surat, akhirnya kamipun dapat keluar dari imigrasi Singapura dan tiba 
diacara konfrensi. 

      Rupanya, pada saat kami tertahan diimigrasi, saat pembukaan acara 
konfrensi, panitia mengumumkan, bahwa peserta dari Medan (Indonesia) terlambat 
karena tertahan di imigrasi, sehingga panitia meminta dukungan doa agar masalah 
keimigrasian dapat segera selesai. 

      Karena pengumuman itulah, keesokan harinya, kami dijumpai beberapa 
mahasiswa Singapura keturunan Tionghoa. Mereka langsung menyapa dan menyalam 
kami dengan sangat ramah. Mereka memperkenalkan diri mereka satu per satu dan 
ternyata mereka adalah orang Indonesia asal Medan yang sedang kuliah di 
Singapura. Mereka berkata, tadi malam kami mendengar ada rombongan dari Medan, 
dan kami sangat senang mengetahui bahwa ada peserta konfrensi dari Medan. 

      Sebagian kita mungkin bertanya, apa yang menarik dari cerita ini. Bagi 
saya dan teman-teman yang semuanya adalah orang Batak, tentu hal ini bukanlah 
hal biasa. Banyak pesan yang tersirat dari ‘sapaan’ dan ungkapan ‘perasaan 
senang’ yang mereka nyatakan kepada kami. 

      Jujur saja, secara pribadi saya sungguh terkagum, dan tidak menyangka hal 
itu. Dalam bayangan, pola pikir, dan realitas yang saya alami selama ini adalah 
ada keterpisahan, ada sekat-sekat, atau barangkali lebih tepat ada jarak, 
antara orang Batak, orang Jawa (atau kita sebutlah pribumi) dengan orang 
keturunan Tionghoa. 

      Sekitar sepuluh tahun tinggal di Medan, saya rasa-rasanya bersentuhan 
dengan keturunan Tingohoa Medan, ketika makan pansit (atau sering disebut mie 
china), atau sedang berbelanja kebutuhan bangunan atau elektronik. Di dalam 
kehidupan sehari-hari, kebersamaan itu rasa-rasanya tidak ada, yang besar 
kemungkinan juga besar pengaruhnya karena lingkungan tempat tinggal yang 
terpisah. Bila kita petakan secara umum, orang Karo tinggal di Padang Bulan, 
orang Batak banyak di daerah Mandala, orang Melayu di Kampung Lalang, orang 
Tionghoa di daerah Sambu, orang Jawa di daerah Belawan. Meskipun demikian, 
benar bahwa hampir di semua dareah itu etnis mayoritas, Jawa, Batak, Melayu, 
Tionghoa, Padang, Aceh, tersebar. Tapi harus kita akui, meski tersebar, di 
dalam kompleks-kompleks pemukiman, perumahan, biasanya tetap saja satu etnis 
dengan etnis lain ada ‘keterpisahan’ satu dengan yang lain. 

      Pengalaman berbeda, saya alami ketika setahun terakhir melanjutkan studi 
di Pulau Jawa. Di Jawa, keberadaan penduduk jauh lebih menyatu, berbaur, bahkan 
hampir tidak ada ‘jarak’ khususnya antara orang pribumi dengan keturunan 
Tionghoa. Saya sendiri di tempat kuliah, ada orang Jawa, orang Batak, dan 
keturuan Tionghoa, dan lain-lain, namun tidak ada perasaan disitu ada perbedaan 
‘pribumi’ dan ‘keturunan’. Bahkan meskipun saya orang Karo, namun diterima 
tinggal bersama dengan keluarga keturunan Tionghoa.

      Hal ini tentu satu tantangan (challenge) bagi penduduk Kota Medan 
khususnya, atau Sumatera Utara secara umum. Bagaimana kita bersama-sama 
menciptakan sebuah kesatuan, kebersaman, tanpa sekat, tanpa jarak satu dengan 
yang lain. Bila di Jawa hal itu dapat tercipta, tentu sangat mungkin, hal ini 
juga dapat kita bangun di Kota Medan. 

      Komunikasi Menjadi Kunci

      Untuk membangun kebersatuan itu, yang dibutuhkan adalah komunikasi atau 
dialog untuk mengikis jurang yang memicu keterpisahan itu. Bila ada komunikasi 
atau dialog, akhirnya bisa membuat kita saling mengerti dan saling menghargai. 
Seraya dengan itu, akhirnya kita bisa meluruskan pola pikir, argumentasi, atau 
pandangan yang keliru mengenai satu suku dengan yang lain. 

      Kembali kepada cerita saya di Singapura tadi. Selama di konfrensi 
akhirnya kami banyak bercerita, bertukar pikiran, satu dengan yang lain. Saya 
akhirnya tahu bahwa saudara-saudara kita keturunan Tionghoa sangat tidak 
menyukai sebutan ‘China’ kepada mereka. Padahal selama ini, saya menyebut 
sebutan itu, untuk keturunan Tionghoa. Ini adalah hal sepele namun akan sangat 
berarti untuk membangun kebersamaan. Sama halnya, sebutan ‘kau’ bagi orang 
Karo, jelas merupakan bukan sebutan persahabatan, padahal bagi orang Batak Toba 
khususnya, hal itu barangkali biasa saja. 

      Selain itu, perlu digalakkan dan digagas di mana ada penyatuan tempat 
tinggal atau komunitas. Sebagai contoh misalnya sekolah. Kita tahu, bahwa ada 
sekolah yang mayoritas siswanya keturunan Tionghoa, bahkan hampir semua, dan 
ada sekolah di mana mayoritas pribumi. Nah, kalau ini terus berkembang, tidak 
heran, jurang pemisah itu akan semakin jauh. Begitu juga tempat tinggal, kita 
harus membudayakan hidup berdampingan dengan segala macam etnis atau agama, 
agar lingkungan itu mendukung pembangunan kebersamaan itu. 

      Karena apapun ceritanya, kita sekarang (baik orang Batak, Jawa, Tionghoa, 
Nias, India, dan lain-lain) adalah satu bangsa dan tanah air yakni Indonesia, 
dan lebih spesifik lagi, yakni satu kota, Kota Medan tercinta ini. Bila 
kebersamaan terbangun di dalam kehidupan sehari-hari, tentu rasa nasionalisme 
itu dapat bertumbuh. Akhirnya kita merasa bahwa orang yang berbeda secara suku, 
golongan, agama, maupun warna kulit sebagai saudara di dalam kesatuan. 
Barangkali semakin meningkatnya, konflik antara suku, antara daerah, antar 
agama, merupakan letupan keterpisahan yang tidak kita sadari selama ini. 

      Kedepan, akan sangat mengkhawatirkan bila sekat dan sifat individualisme, 
kesukuan, golongan, pribumi-keturunan, terus melebar. Bila jarak itu terus 
melebar, maka ini akan menjadi bom waktu, kapan ledakan itu terjadi. Perlu kita 
sadari, kalau itu terjadi, maka kita semua juga yang merasakan dampaknya. Biar 
itu tidak terjadi, mulailah memberi sapaan, salam, senyum, kepada etnis yang 
berbeda dengan kita. Karena kebersamaan itu adalah sebuah keindahan. ***

      Penulis Seorang Guru, dan bergiat di Perkamen Medan 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke