Ref: Apa pendapat Anda tentang mengislamkan sains (ilmu pengetahuan)?
http://www.hidayatullah.com/read/26246/07/12/2012/mengislamkan-sains:-apanya-yang-diislamkan?-.html
Mengislamkan Sains: Apanya yang Diislamkan?
wacana sains Islam atau pengislaman sains bukanlah wacana yang
mengada-ada atau utopia
Jum'at, 07 Desember 2012
Oleh: Dr. Wendi Zarman
HINGGA saat ini masih banyak pihak yang merasa sangsi dengan keberadaan sains
Islam. Tidak sedikit di antara pihak-pihak tersebut adalah Muslim juga. Mereka
menganggap wacana sains Islam dan pengislaman sains merupakan sesuatu yang
absurd, karena ilmu sains itu netral. Logikanya, menurut mereka, alam itu
terlihat sama saja bagi siapa saja, baik orang Islam, Kristen, Hindu, Budha,
atau agama apapun. Seorang ilmuwan di Eropa yang terpisah ribuan kilometer dari
ilmuwan Indonesia pastilah akan menemukan kenyataan yang sama jika menyangkut
fenomena alam yang sama. Demikian klaim mereka.
Mereka bukan saja pesimis dengan wacana sains Islam, tapi terkadang agak sinis.
Sains Islam diolok-olok dengan mengesankan sains Islam tak lain adalah wacana
membuat pesawat Islam, komputer Islam, dan teknologi berlabel Islam lainnya.
Ada juga yang menuding bahwa sains Islam adalah sains yang dimulai dengan
bismillah. Lainnya lagi menuduh sains Islam adalah soal mencocok-cocokkan
ayat-ayat al-Qur’an dengan penemuan sains mutakhir kemudian mengklaim bahwa
Islam telah lama mengungkap hal tersebut.
Semua ini menunjukkan bahwa para pengkritik itu sebenarnya tidak betul-betul
mendalami wacana tersebut. Sebab, sesungguhnya gagasan sains Islam yang
dimaksud bukanlah sesederhana itu, meskipun sebagian dari yang disebut di atas
termasuk bagian dari sains Islam itu sendiri, tapi karena disampaikan dengan
olok-olok maka semua hal tersebut terdengar menggelikan.
Wacana sains Islam adalah wacana yang sangat filosofis yang berakar dari
pemikiran mengenai hakikat ilmu di dalam Islam. Maka ketika berbicara ilmu
sains, maka disitu terkait dengan apa makna ilmu, tujuan mencari ilmu,
penggolongan ilmu, makna kebenaran, tingkatan wujud (realitas), saluran-saluran
ilmu, makna alam (yang satu akar kata dengan ilmu), metodologi penarikan
kesimpulan, adab-adab menuntut ilmu, dan lain sebagainya. Maka proses
islamisasi ilmu alam (sains) tidak lain adalah mengislamkan persoalan-persoalan
di atas dengan cara meletakkannya dalam kerangka pandangan hidup Islam (Islamic
Worldview).
Mengulas hal di atas secara lengkap tentunya amat sulit jika mengandalkan
tulisan yang pendek ini. Tapi sebagai contoh, dapat kami kemukakan bahwa
islamisasi sains salah satu maknanya adalah islamisasi mengenai makna alam yang
merupakan obyek ilmu sains itu sendiri. Di dalam paradigma sains modern alam
adalah benda semata, tidak punya makna ruhani, maka dari itu nilainya sangat
rendah. Alam baru mempunyai nilai ketika ia bisa dikuasai dan dimanfaatkan.
Maka kata Bacon, ilmu adalah kuasa (knowledge is power), yaitu kuasa untuk
menaklukkan dan mengendalikan alam.
Sebaliknya, alam di dalam Islam dikenal sebagai ayat Allah, suatu sebutan yang
juga disematkan kepada kalimat-kalimat yang ada di dalam al-Qur’an. Ayat tak
lain merupakan sebutan untuk tanda. Istilah tanda adalah refleksi dari
keberadaan sesuatu yang lain.
Keberadaan sesuatu yang lain yang dimaksud di sini adalah Allah, Tuhan Yang
Maha Agung. Berulangkali Allah menutup suatu kalimat di dalam al-Qur’an ketika
berbicara mengenai fenomena alam dengan pernyataan bahwa semua itu (fenomena
alam) adalah ayat-ayat Allah. Artinya, segala bentuk fenomena alam tak lain
merupakan cara Allah untuk memperkenalkan dirinya kepada manusia, para
hamba-hambanya.
Makna alam di atas memberikan konsekuensi besar terhadap tujuan mengembangkan
ilmu sains. Alam dalam perspektif ini dipelajari tidak lain adalah untuk
menangkap pesan-pesan Tuhan. Itu tidak berarti bahwa sains tidak dikembangkan
untuk keperluan praktis guna membantu kehidupan manusia. Tetapi sains dalam
pandangan Islam tidak hanya dikembangkan untuk keperluan praktis saja,
melainkan juga sebagai sarana manusia mengenal Tuhannya sehingga dia menjadi
seorang hamba yang baik. Bahkan hal terakhir ini merupakan tujuan terpenting
dari belajar sains tersebut.
Cara pandang di atas memberi konsekuensi lanjutan. Tidak seperti yang terjadi
di Barat, sains cenderung mendorong orang untuk menjadi agnostik, sekuler, dan
atheis. Namun, sains dalam Islam justru mendorong manusia menjadi semakin
religius. Sebab prinsip pertama dalam sains Islam adalah pengakuan akan wujud
Tuhan lebih dahulu daripada wujud alam dan manusia itu sendiri, beserta
sifat-sifat yang menyertai-Nya seperti Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Kuasa,
Maha Mengatur, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Mulia, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, sains modern malah menempatkan Tuhan sebagai obyek yang diragukan
keberadaan-Nya, sebaliknya wujud dirinyalah yang pertama kali diakui,
sebagaimana ungkapan terkenal Descartes, “Aku berpikir maka aku ada”.
Pengakuan wujud (eksistensi) Tuhan, yang kita sebut beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dengan sendirinya tidak terpisah dengan pengakuan terhadap
ajaran-ajaran-Nya. Sebab iman di dalam Islam bukan hanya bermakna percaya dalam
pengertian kognitif, tetapi juga mengejawantah dalam sikap dan perbuatan
manusia sebagai wakil Allah (khalifatullah) di bumi. Ungkapan wakil di sini
merefleksikan amanah, artinya kehidupan manusia adalah bertujuan untuk
menjalankan amanah Allah di bumi.
Maka sains dalam Islam bukan bertujuan untuk menurutkan kemauan manusia,
melainkan dalam rangka menunaikan amanah Allah di bumi. Itu sebabnya tujuan
dasar sains dalam sejarah Islam dikembangkan untuk kepentingan amal shalih,
baik ibadah maupun muamalah. Misalnya, astronomi untuk memperkirakan
waktu-waktu ibadah, matematika untuk menghitung warisan, kedokteran untuk
menolong manusia, dan lain sebagainya.
Dari uraian yang singkat di atas (meski masih belum lengkap) dapat kita lihat
betapa wacana sains Islam atau pengislaman sains bukanlah wacana yang
mengada-ada atau utopia belaka. Harus diakui bahwa tidak mudah meyakinkan hal
ini sebab mayoritas kita (umat Islam) dididik di dalam paradigma pendidikan
yang sekularistik ketika membahas sains. Namun dengan kesungguhan dan ketekunan
para ulama dan ilmuwan yang dilandasi dengan niat yang ikhlas, insya Allah,
gagasan ini akan terus berkembang dan mendapat tempat di masyarakat.
Wallahua'lam.*
Penulis aktif di Institute Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN)
Bandung
Red: Cholis Akbar
[Non-text portions of this message have been removed]