R a l a t

Ref: Ikan cepat busuk dari kepala, demikian ucapan umum. Jadi kalau parpol main 
politik ikan berarti kepala-kepala partai termasuk cepat busuk atau memang 
sudah sejak semula busuk. Jadi kalau yang busuk-busuk ini berkoalisi berati 
busuk tambah busuk akan menjadi lebih hebat kebususkannya. 

http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/12/12/22/mffr65-politik-ikan-parpol-koalisi-sbyboediono
Politik Ikan' Parpol Koalisi SBY-Boediono
Senin, 24 Desember 2012, 06:06 WIB
monitorindonesia.com   
 
Koalisi (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- 'Politik ikan' mengawali politik 2012. Partai 
politik (parpol) yang berkoalisi dalam 'panji' pemerintahan SBY-Boediono saling 
adu mulut. Adalah Sutan Bathoegana yang memulai itu semua. Wakil Ketua Fraksi 
Partai Demokrat ini tanpa tedeng aling-aling menyebut Partai Golkar dan PKS 
sebagai ikan Salmon.
Tudingan tersebut, bagi Sutan, setidaknya memiliki alasan tersendiri. "Dua 
partai itu yang terus menyerang SBY. Makanya saya katakan ini kelompok ikan 
Salmon," ujar Sutan ketika dihubungi, Jumat (6/1).

Kenapa ikan Salmon?, karena menurut dia, tindak tanduk politik dua parpol 
tersebut layaknya intelektual kagetan yang serampangan dalam berbicara. Golkar 
dan PKS, dinilai Sutan, hanya menomorsatukan eksistensi tanpa melihat dampak 
negatif dari perilaku politiknya.

"Mereka tak akan berhenti menyalurkan syahwat politiknya sampai dia orgasme 
politik," ujarnya.

Pendapat kurang lebih sama juga disampaikan rekan Sutan di partai berlambang 
Mercy itu, Ramadhan Pohan. Wakil Sekjen Partai Demokrat ini beranggapan kedua 
parpol tersebut selalu menstigmakan negatif terhadap Pemerintahan SBY-Boediono. 
Tak ayal jika kemudian, ia mengatakan, Golkar dan PKS tak memiliki itikad baik.

Ia pun lantas menyerang secara pribadi Wakil Bendahara Partai Golkar Bambang 
Soesatyo, yang dinilainya melulu menghubungkan kasus bailout Bank Century 
dengan Partai Demokrat.

"Bamsat (Bambang Soesatyo-red) yang atas perintah ketumnya, sepertinya ingin 
manarget SBY. Mungkin tujuannya supaya Ical (Aboerizal Bakrie-red) yang 
gantikan SBY pasca-2014. Mimpi saja kali," katanya.

Merasa partainya direndahkan, Ketua DPP PKS, Nasir Djamil balas menyerang 
dengan menyebut Partai Demokrat ikan Piranha. "Partai Demokrat itu piranha. 
Pikiran, hati, dan bicara suka beda," katanya melalui pesan singkat, Jumat 
(6/1).

Pernyataan itu ia lekatkan pada kasus Bank century. Bagi dia, kasus tersebut 
memang harus konsisten untuk disuarakan. Namun sayangnya, masih menurut dia, 
Partai Demokrat terkadang memiliki pemikiran yang berbeda dengan tindakan, 
sehingga kerap mengalami gejala stroke politik.

Akibatnya, lanjut Wakil Ketua Komisi III DPR RI tersebut, sering 
membolak-balikan fakta yang ada. "Kita konsisten kok dibilang menyerang. Justru 
Partai Demokrat seharusnya juga ikut membereskan dan menuntaskan kasus Century 
agar tidak ada dusta di antara partai koalisi," tegasnya.

Reaksi Partai Golkar tidak sekeras PKS. Melalui Ketua Fraksinya, Setya Novanto, 
Golkar menyanggah tuduhan partner koalisinya tersebut. Ia justru menegaskan 
Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, mendukung segala kebijakan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY).

"Beliau (Aburizal-red) memerintahkan kita dalam rapat terakhir untuk 
mengamankan pemerintahan SBY-Boediono sampai 2014. Saya selaku ketua fraksi 
selalu mendapat perintah membantu kebijakan SBY," katanya ketika dihubungi.

Bagi Ramadhan Pohan, jika Golkar mendukung Pemerintahan SBY-Boediono, harusnya 
mendorong kasus Century diselesaikan melalui jalur hukum. Jika hal itu yang 
terjadi, lanjut dia, Demokrat juga akan melakukan hal yang sama, bahkan tidak 
akan menghalang-halangi prose hukum.

"Jangan terus memojok-mojokkan kami. Kami telah membuktikan tidak pernah 
mengintervensi hukum, beda dengan Golkar yang begitu kena senggol hukum 
sedikit, langsung lakukan intervensi dengan pernyataan-pernyataan yang 
mengintimidasi," ungkapnya seraya menyetil.

Pertikaian sesama anggota parpol pendukung 'panji' SBY-Boediono itu, dinilai 
PKB sebagai bentuk politik kekanak-kanakan. Menurut Ketua Fraksi PKB, Marwan 
Ja'far, anggota DPR dinilainya tak perlu melakukan itu, karena hanya akan 
merusak reputasi di mata masyarakat. "Saya prihatin, seharusnya ini tidak 
terjadi," ujarnya. 

Seharusnya, tutur dia, sebagai anggota DPR, berdebat seputar legislasi. Akan 
semakin menarik jika perdebatan dilangsungkan seputar penegakkan hukum seperti 
kasus Mesuji, Bima, dan Aceh. "Kalau ini baru perdebatan, bukan seperti ikan 
salmon dan lainnya itu," papar Marwan. 

Dia mengatakan, hal itu tidak memperlihatkan DPR menggunakan rasionalitasnya 
sebagai wakil rakyat. Yang terjadi kemudian, bukanlah logika yang bermain, 
tetapi emosi. Selama emosi yang dikedepankan, jelas Marwan, maka hasilnya 
adalah ketidakpastian. Akan sulit untuk mencapai titik temu.

Marwan menyatakan semuanya harus kembali berdialog. Fraksi-fraksi di DPR harus 
berembuk atau duduk bersama. "Mari ngopi-ngopi lagi. Mari berdiskusi tertawa 
bersama," paparnya. Hal ini dinilainya akan lebih menghasilkan gagasan yang 
bermanfaat bagi pembangunan negeri ini, ketimbang semakin memanaskan isu Ikan 
Salmon dan lainnya.

Melihat pajangnya pertikaian 'politik ikan' parpol koalisi, membuat Ketua Umum 
partai Golkar, Aburizal Bakrie angkat bicara. Tidak hanya itu, ia bahkan 
memerintahkan kader untuk menyiapkan suasana teduh dalam koalisi.

Pria yang akrab disapa Ical ini meminta agar kader Golkar di DPR menghindari 
perilaku kurang produktif tersebut. Alasannya, masyarakat tidak mendapatkan 
keuntungan dari kegaduhan semacam itu.

"Dengan istilah ikan Salmon, ikan teri, ikan Tongkol dan ikan Paus itu bukan 
hanya membuat kontekstual politik tergerus. Tapi juga menjadi kegaduhan politik 
tidak produktif," tuturnya di Jakarta.

Karena itu, ia meminta, agar kader Golkar lebih mendorong untuk memandirikan 
bangsa. Apalagi banyak kasus konflik sosial yang terjadi akhir-akhir ini. 
Seperti sengketa agraria yang diwarna pelanggaran HAM dan keengganan 
menghormati penegak hukum. "Bersama Golkar hentikan kegaduhan itu. Darah dan 
airmata sudah cukup mengalir," papar dia.

Persaingan politik, katanya, harus beretika. Perdebatannya pun harus 
berkonseptual dengan gagasan yang visioner untuk mengatasi masalah bangsa.


Imbaun yang sama juga disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY 
yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu mengatakan suhu 
politik 2012 bakal memanas karena semakin mendekati pemilu 2014. Ia 
mengharapkan, panasnya suhu politik tidak mengganggu kinerja pemerintahan. 

SBY juga meminta agar jajaran pemerintahan terus bergiat dan konsentrasi dengan 
pekerjaannya. Tak hanya itu presiden juga meminta pemerintah bersikap tenang.

Sekjen Golkar, Idrus Marham, menyatakan, sebagai politisi, DPR harus menjunjung 
tinggi etika agar tercipta politik santun. Politik seperti itu adalah bentuk 
bahwa DPR berakhlak mulia. "Jadi mari kita jaga dan tingkatkan akhlak dalam 
berpolitik," paparnya di Jakarta, Selasa (10/1). 

Pihaknya sudah meminta agar kader-kader Golkar tidak lagi menanggapi masalah 
hinaan Ikan Salmon. Karena hal itu dinilainya tidak menguntungkan semua pihak.

Pakar Psikologi Politik UI, Hamdi Muluk, menyatakan semua hal yang berkaitan 
dengan permasalahan internal bisa diselesaikan dengan bermusyawarah. Sebab, hal 
tersebut merupakan tradisi Bangsa yang tertuang dalam Pancasila, sila keempat. 
Masih ada kesempatan untuk berubah jika memang DPR ingin menjadi lebih baik. 
"Belum terlambat bagi mereka untuk menjadi lebih baik," paparnya. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke