ASAHAN:

              PADANG HANTU

Ivan Turgenyev (1818-1883) seorang pengarang Rusia asal bangsawan Rusia stempel 
lama terkenal dengan bukunya "Catatan seorang pemburu" ("Zapiski Ohotnika") 
atau dalam terjemahan ke bahasa Belanda "Jagers verhalen " yang terbit pada 
tahun 1852. Tentu saja Turgenyev masih menulis banyak karya-karya lainnya yang 
membuat namanya melambung sebagai salah seorang dari pengarang kaliber dunia. 
Saya membaca karya-karya Turgenyev semasa usia kemahasiswaan saya di Moskow dan 
saya sangat menggemarinya.

Tapi bukan karya-karya Turgenyev yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini. 
Saya hanya teringat akan cerita-cerita ayah saya semasa dia masih muda dan 
menjabat sebagai mantri hutan (boswezen) dan sekaligus juga  pemburu sebagai 
hobbynya waktu itu.Orang-orang tahu bahwa cerita-cerita pemburu tidak semuanya 
benar dan selalu bercampur aduk dengan cerita-cerita yang mereka karang-karang 
sendiri dengan hyperbola dan fantasi yang seolah benar terjadi seperti juga 
cerita-cerita para nelayan. Tapi kalau cerita-cerita itu sudah jatuh ke tangan 
seorang pengarang besar seperti Turgenyev orang-orang tidak lagi mempersoalkan 
benar tidaknya cerita-cerita  yang ditulis Turgenyev tentang para pemburu.

Ayah saya bukan seorang pengarang dan hanya seorang penjaga atau polisi penjaga 
hutan biasa yang mempunyai banyak sekali cerita-cerita tentang pengalamannya 
sendiri maupun yang dia dengar dari cerita-cerita orang lain padanya dan dia 
sangat suka menceritakannya kembali pada kami anak-anaknya maupun pada 
sahabat-sahabat serta handai tolannya pada setiap kesempatan pertemuan terutama 
pada pertemuan pesta perkawinan atau sekedar kujungan  anjang sono pada 
hari-hari libur. Pengalamannya selama lebih tiga puluh tahun bekerja di hutan 
belantara pulau kami tentu diselingi banyak sekali dengan cerita-cerita tentang 
hutan dan isinya.

Meskipun pulau kami tidak terlalu besar tapi menurut para penyelidik, hutan di 
pulau kami masih belum terlalu banyak yang dirusak atau menghilang akibat 
penebangan dan pembakaran. Ayah saya seorang penjaga hutan yang keras, 
berdisiplin tinggi, berbadan tinggi besar, berpenglihatan tajam seperti mata 
burung hantu dan berpenciuman tajam seperti penciuman anjing pelacak dan dia 
mulai mengenal hutan sejak dia berumur 16 tahun sebagai pekerja magang pada 
departemen kehutanan jaman Pemerintah kolonial Belanda. Dia bisa mencium bau 
keringat para penebang hutan dari jarak beberapa ratus meter ketika mereka 
sedang beristirahat atau melakukakan kegiatannya dan juga ia bisa mendengar 
bunyi tebangan kayu dari jarak beberapa kilometer dan melihat daun yang 
bergerak dari jarak beberapa ratus meter  yang disebabkan oleh gerak kijang 
atau rusa dan dari jarak jauh ratusan meter dia  hampir selalu bisa merebahkan 
seekor rusa atau kijang  dengan senapang buruannya.

Ketika dia resmi menjadi pegawai negeri dan diangkat menjadi mantri hutan 
(bukan mentri) dia dipersenjatai dengan sebuah pistol besar, sebuah pistol 
kecil (browning) dan sebuah motor besar "Harley Davidson" yang bangkainya masih 
saya saksikan ketika saya berusia lima tahun yang diparkir ayah saya di depan 
halaman rumah dinasnya yang luas yang juga terletak dipinggir hutan. Dengan 
motor besar itu ayah saya setiap hari mengelilingi pulau kami dan masuk hutan 
keluar hutan berpatroli menjagai hutan untuk mengawasi kalau-kalau ada penebang 
hutan gelap yang harus dia tangkap untuk diserahkan pada  kantor polisi di kota 
kabupaten. Menurut ayah saya jabatan itu sungguh berat karena disamping harus  
meratai hutan yang masih rimba raya tapi juga sambil kadang-kadang mengejar 
para pencuri hutan yang menebangi kayu tanpa izin yang sangat merusak hutan, 
belum lagi yang  membakar hutan untuk membuat huma atau ladang padi cara 
primitif yang bisa menghabiskan hutan dalam jumlah besar.

Para pencuri hutan itu menurut ayah saya tidak sekedar lari bila kedapatan 
sedang mencuri tapi juga tidak jarang mereka melawan dan hingga membunuh kalau 
jumlah mereka cukup banyak yang bila terjadi ayah saya harus menggunakan 
senjata pistolnya menghadapai parang-parang dan kapak para pencuri yang tajam. 
Tidak jarang ayah saya harus menginap di tengah hutan oleh alasan bermacam 
macam termasuk alasan sesat atau memburu para pencuri hutan yang luar biasa 
melelahkan dan penuh ketegangan yang bisa dengan taruhan nyawa.Tidak 
mengherankan di masa tua dan pensiunnya ayah saya mendapat penyakit rematik 
karena katanya dia terlalu sering tidur di tengah hutan begitu saja di alam 
terbuka yang bahkan dalam hujan tidur dengan baju basah kuyup. Ayah saya bilang 
dia bisa tidur sambil berendam dalam air kalau badannya telah terlalu letih.

Hutan adalah ranjang ayah saya yang kedua. Setelah pensiun beberapa bulan pada 
menjelang tahun 45 ayah saya kembali masuk hutan tapi sudah sebagai pemimpin 
gerilya melawan Jepang  dan kemudian melawan bekas Pemerintah majikannya: 
Belanda. Sayang saya hidup bersama keluarga tidak terlalu lama karena sejak 
umur 12 tahun saya sudah harus berpisah dengan mereka dan meninggalkan pulau 
kami untuk belajar ke Jawa. Saya tidak bisa maksimal memfaedahkan gudang cerita 
ayah saya dan yang masih saya ingat tidaklah banyak dan ketika sekarang ini 
saya telah lebih tua dari  ayah saya sendiri, cerita-cerita yang masih saya 
ingat sudah semakin tipis.Dan sekarang inilah salah satu cerita ayah saya yang 
masih saya ingat.

     Para pembantu ayah saya dan juga dua orang pemburu penduduk setempat 
sahabat ayah saya mengatakan  bahwa mereka menemukan lapangan pasir seluas 
kira-kira lapangan badminton di tengah hutan dan berbentuk bundar seperti 
bundarnya piring yang mereka katakan hal itu tidak mungkin oleh perbuatan 
tangan manusia. Ayah saya bertanya kalau bukan perbuatan manusia, lantas 
perbuatan siapa. Semua mereka mempunyai perkiraan yang  sama: hantu. Padang 
hantu kata mereka. Para hantu berpesta dansa  dan itu alamat yang tidak baik 
bagi manusia sekitarnya dan mungkin juga bagi manusia seluruh pulau kita. Ayah 
saya seorang penganut agama yang taat dan serius tapi dia tidak fanatik dan 
tidak percaya tahayul dan cerita-cerita aneh di luar akal manusia dan 
menganggap semua tahayul bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya yang 
katanya percaya tahayul dilarang oleh kitab suci. Tapi para pembantu ayah saya 
begitu yakinnya dan juga berusaha meyakinkan ayah saya untuk juga percaya 
dengan penemuan mereka yang sangat aneh itu.

Mereka mengatakan lapangan bulat yang berpasir putih itu begitu bersihnya 
sehingga tak selembar daunpun yang terdapat dan kebersihan pasirnya seperti 
diayak padahal sekitar lapangan itu dikelilingi oleh pepohonan yang setiap 
waktu dedaunan bisa berjatuhan dan beterbangan. Tapi mengapa lapangan pasir itu 
tetap bersih. Dan juga kata mereka di sekitar lapangan pasir itu kadang-kadang 
tercium bau yang aneh yang entah berbau apa mereka tak bisa menjelaskan dan 
mengumpamakannya. Ayah saya tetap tidak tampak terkesan dan mengatakan: " Bisa 
saja bau kapal keruk yang diterbangkan angin. Sekarang kapal pengeruk timah 
sudah masuk hutan lebat untuk menggali timah yang  baru mereka temui". Tapi 
para pembantu ayah saya, juga tidak terkesan akan penjelasan ayah saya dan 
mereka menambahi ceritanya katanya bentuk bulat lapangan pasir itu begitu 
sempurnanya hingga tak selembar daun keringpun yang melanggar bulatan dan 
tampak persis seperti kue talam putih yang diletakkan di atas talam besar.Tapi 
semakin banyak variasi cerita yang dikatakan para pembantu itu, ayah saya 
semakin tidak mau mendengarkan dan lalu katanya: "saya lihat dahulu dan kalian 
ikut saya ke sana, malam ini juga dan kita tunggu di sana hingga siang".


Dengan beberapa pembantunya (tidak semua karena beberapa orang menolak dengan 
alasan malam hari bukan jam dinas mereka yang sesungguhnya mereka merasa sangat 
ragu dan takut) ayah bersama rombongannya menuju ke tempat lapangan  atau 
"padang hantu" tempat para hantu berpesta ria. Ayah saya tidak membawa senjata 
karena katanya kalau memang benar para hantu sedang berpesta di sana, mereka 
tidak akan mempan ditembak dan katanya lebih baik kita menawarkan diri sebagai 
tamu mereka dan turut berdansa bersama mereka.Tentu saja gurauan ayah tidak 
ditanggapi para pembantunya dan hanya dengan muka-muka penuh keraguan karena 
kepercyaan mereka terhadap hantu sudah tak mungkin digoyahkan oleh ayah saya.


Tiba di tempat pada tengah malam, ayah saya terpana melihat keanehan yang 
dirasakannya luar biasa itu. Kebetulan malam itu bulan purnama dan sinar bulan 
penuh menyinari lapangan pasir dan membuat rupa pasir berkilauan, begitu 
bersihnya, begitu cemerlangnya, begitu memukaunya hingga ayah saya mengucapkan 
kata-kata dari kalimat yang terdapat dalam kitab suci agamanya."Astagfirullah" 
katanya "Ini adalah ciptaan maha pencipta sebagai peringatan kepada manusia 
agar manusia berhati bersih.

Ini bukan perbuatan hantu. Sadarlah kalian atas pikiran kalian yang sesat". Dua 
orang pemburu  yang adalah dua beradik yang ikut bersama rombongan ayah saya 
itu mengatakan katanya ketika mereka sedang memburu seekor pelanduk tiba-tiba 
terdengar suara gemuruh yang sangat aneh dan lalu perhatian mereka terpusat ke 
arah sumber suara gemuruh itu yang tak lama kemudian mereka temui "padang 
hantu" yang luar biasa anehnya itu dan di sana mereka menemui tiga pembantu 
ayah saya yang juga sedang terheran heran menyaksikan bundaran pasir di tengah 
hutan belantara. Juga katanya mereka bertiga mendengar suara gemuruh yang sama.

Tapi seperti apa tanya ayah saya karena suara gemuruh itu bisa bermacam-macam 
seperti suara kapal pengeruk timah, suara burung-burung berkicau dan juga suara 
manusia. Semua mereka tidak bisa mempersamakannya  dengan suara apapun karna 
mereka mengatakan suara gemuruh itu suara para hantu yang sedang berpesta. Lalu 
ayah saya mengatakan bahwa dia akan tidur persis di tengah-tangah lapangan 
pasir sedangkan tiga orang pembantunya beserta dua orang pemburu, tidur di luar 
lingkaran dan baru pada pagi hari mereka akan pulang bersama.

Lalu ayah saya mengatakan pada kami, selama dia tidur itu dia bermimpi sedang 
berbaring di sebuah taman bunga yang di dekatnya terletak sebuah telaga 
berwarna biru dan tidak jauh darinya tampak laut yang juga berwarna biru yang 
luar biasa indahnya. Kijang-kijang dan rusa dan juga kancil berkeliaran bebas 
sambil makan rumput dan bermaian dengan ria dan leluasanya. Lalu seekor rusa 
besar yang bertanduk persis rupanya seperti tanduk rusa yang digantungkan oleh 
ayah saya di ruang tamu hasil rusa yang pernah dia tembak.

Rusa besar itu lalu membisikkan sesutu ke telinga ayah saya. Katanya: "Tuan 
menjaga hutan ini dengan sangat baik untuk melindunginya, tapi tuan bersama 
dengan teman-teman tuan, juga menembak dan membunuh kami penduduk hutan ini. 
Yang maha pencipta tidak gembira atas perbuataan tuan karena katanya kami juga 
berhak hidup di dunia ini". Kemudiaan ayah menceritakan ketika dia terbangun, 
hari sudah siang karena dia tidur teramat nyenyaknya dan hanya sinar matahari 
yang semakin menyengat yang membangunkannya dan katanya tiga orang pembantunya 
dan dua orang pemburu sudah tidak tampak, mungkin mereka sudah pulang duluan 
tanpa membangunkan ayah saya dari tidurnya dan ayah pulang sendiri ke rumah.

Keesokan harinya ketika tiga orang pembantu ayah saya  datang ke rumah kami 
sebagaimana biasanya mereka bersama  setiap pagi berangkat menuju hutan, ayah 
saya dengan nada marah bertanya mengapa mereka pulang duluan dan tidak 
membangunkan ayah saya untuk pulang bersama. Ketiga orang pembantu ayah saya 
saling berpandangan, terheran-heran tidak mengerti apa maksud pertanyaan ayah 
saya dan seorang di antaranya berkata: "Kemarin pagi kami datng kemari tapi pak 
Mantri tidak ada di rumah". Ayah saya semakin marah dan sambil membentak 
mengatakan: "Bukankah kalian yang bilang di tengah hutan ada "padang hantu" dan 
semalam kita bersama dua pemburu mendatangi padang hantu yang kalian temukan 
itu dan menginap di sana".

Ketiga tiga pembantu ayah saya semakin tidak mengerti apa yang diucapkan ayah 
saya dan yang seorang lagi berkata: "Kami tidak mengerti apa yang Pak Mantri 
maksudkan, kami tidak pernah mendengar tentang "padang hantu" dan kami tidak 
pernah ke sana bersma pak Mantri". Tapi ayah saya cepat berpikir dan  
menyimpulkan bahwa tiga pembantunya telah gila dan hilang ingatan tapi kata 
ayah saya, selebihnya mereka masih beres dan tetap bekerja sebagaimana biasa. 
Namun tidak sampai setahun setelah kejadian penemuan "padang hantu" itu tiga 
pembantu ayah saya meninggal secara susul menyusul karena sakit yang tak jelas 
apa penyakitnya dan itu juga terjai pada dua pemburu adik beradik yang juga 
meninggal karena sakit yang tak jelas apa penyebabnya. Dan ayah saya 
menyimpulkan, mereka meninggal karena percayaya tahayul yang dilarang agama dan 
menyebarkan kepercayaan tahayul mereka ke mana-mana ke seluruh kampung yang 
menurut ayah saya menyebarkan tahayul juga adalah perbuatan dosa.

Ketika usia kami menua dan dan telah lebih tua dari usia ayah saya yang sempat 
tua dan  tinggal berjauhan tapi kadang-kadang juga kami bertemu dan mengenang 
kembali ayah kami yang sudah lama sekali meninggal dan juga meninggalkan banyak 
cerita-cerita pengalaman hidupnya sebagai penjaga hutan pulau kami. Suatu waktu 
abang saya bertanya pada saya apakah cerita "padang hantu" yang diceritakan 
ayah saya itu adalah cerita tahayul atau sungguh terjadi. Saya spontan 
menjawab: "Mungkin saja piring terbang UFO yang berkunjung ke pulau kita untuk 
mencuri timah".
Abang saya: "Sekarang habiskan dulu gulai kambing yang masih tersisa di 
piringmu itu, piring selanjutnya segera mendarat".
Ketika itu saya sedang bertamu di restaurant abang saya di Paris, dia meninggal 
pada tahun 2007.
ASAHAN.
Hoofddorp, 27 Desember 2012.



Kirim email ke