http://www.antaranews.com/berita/350844/warga-mesir-tewas-dalam-ledakan-di-gereja-libya

Warga Mesir tewas dalam ledakan di gereja Libya
Senin, 31 Desember 2012 08:25 WIB | 

 
Libya (ANTARA News/Heppy)


 
Tripoli (ANTARA News) - Ledakan di sebuah gereja Kristen Koptik di dekat kota 
Misrata, Libya barat, pada hari Minggu waktu setempat, menewaskan dua orang dan 
mencederai dua lain--seluruhnya warga Mesir, kata seorang diplomat Mesir kepada 
AFP.

"Dua warga Mesir tewas dan dua orang lagi cedera," kata diplomat di Kedutaan 
Besar Mesir di Tripoli yang tidak bersedia disebutkan namanya itu.

"Ledakan gereja itu terjadi di Dafniya di (provinsi) Misrata. Konsul langsung 
pergi ke Misrata untuk mengetahui rinciannya. Kami masih belum memiliki 
informasi yang jelas," kata diplomat itu.

Sebelumnya, seorang pejabat keamanan mengatakan, satu warga Mesir tewas dan 
tiga lain cedera dalam ledakan di gereja Koptik itu.

Menurut diplomat Mesir itu, salah satu korban yang cedera sempat dibawa ke 
rumah sakit namun nyawanya tidak dapat tertolong.

Penduduk mengatakan, ledakan itu terjadi pada sore hari di gereja Koptik di 
Dafniya, wilayah perkotaan kawasan Laut Tengah sekitar 30 kilometer sebelah 
barat Misrata, di mana brigade pasukan yang terbentuk dari eks-pemberontak 
memiliki sebuah pos pemeriksaan utama.

Pemerintah baru Libya hingga kini masih berusaha mengatasi banyaknya individu 
bersenjata dan milisi yang memperoleh kekuatan selama konflik bersenjata yang 
menggulingkan Muamar Gaddafi.

Libya era Gaddafi digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang 
disahkan pada 17 Maret 2011.

Negara-negara besar yang dipelopori AS, Prancis dan Inggris membantu 
mengucilkan Gaddafi dan memutuskan pendanaan dan pemasokan senjata bagi 
pemerintahnya, sambil mendukung dewan pemberontak dengan tawaran-tawaran 
bantuan.

Sebanyak 21 kapal NATO berpatroli aktif di Laut Tengah sebagai bagian dari 
penegakan embargo senjata terhadap Libya pada saat itu.

Aliansi 28 negara itu sejak 31 Maret 2011 juga memimpin serangan-serangan udara 
terhadap pasukan darat rejim Gaddafi.

Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus berlangsung di 
Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh pasukan Gaddafi, yang 
membuat marah negara-negara Barat.

Gaddafi (68), pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat 
dasawarsa dan bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak, 
diumumkan tewas oleh kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) pada 
Kamis (20/10).

Keresahan internasional meningkat berkaitan dengan kondisi tidak jelas seputar 
kematian Gaddafi yang tampaknya dieksekusi, setelah kota asalnya Sirte dikuasai 
pasukan NTC pada 20 Oktober.

Sejumlah pihak, termasuk Ketua Komisi HAM PBB Navi Pillay, menyerukan 
penyelidikan untuk mengetahui kebenaran seputar kematian orang kuat Libya itu.

(M014) 
Editor: Ella Syafputri


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke