http://www.hidayatullah.com/read/26594/31/12/2012/mereka-yang-tak-peduli-pergantian-tahun.html
Mereka yang Tak Peduli Pergantian Tahun
Senin, 31 Desember 2012
Hidayatullah.com—Segenap penduduk dunia beberapa saat lagi akan merayakan
pergantian tahun Masehi dari 2012 menuju 2013, tak terkecuali kebanyakan umat
Islam di Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk masyarakat menyambutnya, ada banyak
pemuda-pemuda yang rupanya tak begitu peduli dengan malam pergantian tahun.
Adalah Qomaruddin, pemuda asal Pontianak, Kalimantan Barat yang merantau ke
Jakarta sejak beberapa tahun lalu ini mengaku tidak punya tradisi memperingati
malam pergantian tahun. Menurutnya, menganggap tahun kapan pun itu sama saja.
“Yang penting memperbaharui iman kita. Itu saja intinya,” ujarnya saat
bincang-bincang dengan hidayatullah.com pada sela-sela waktu senggangnya di
Polonia, Jakarta Timur, Senin (31/12/2012).
Menurut Qomaruddin, pergantian tahun tak layak dirayakan. Apalagi jika digelar
acara besar-besaran semisal dengan festival dan lain sebagainya. Karena itu,
menurut pemuda berusia 24 tahun ini, pemerintah dinilai tak sepatutnya
menghabiskan anggaran besar-besar untuk menyambut Tahun Baru. Lebih baik
uangnya digunakan untuk rakyat miskin.
“Itu kan pemerintah mengeluarkan uang. Lebih baik dana itu dipakai untuk rakyat
jelata yang lebih memerlukan,” ujarnya lagi.
Lebih jauh, Qomaruddin menganggap acara seperti Jakarta Night Festival yang
digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan dihelat nanti ini hanya
membuang-buang uang rakyat.
“Itu kan secara tidak langsung mendzolimi rakyat, karena itu uang rakyat,”
tambahnya.
Dia juga dianggap festival itu lebih banyak mudharat (kerugian) nya ketimbang
manfaatnya. Karena pada acara-acara seperti itu, imbuhnya, bercampur baur
antara laki-laki dan wanita.
Dari Surabaya, suara serupa dilontarkan Mujaddid Abdul Majid, 24 tahun. Alumni
Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) yang biasa disapa Jaddid ini
juga mengaku tak ada hal spesial untuk merayakan kedatangan tahun 2013.
“Emang kenapa tahun baru? Mau nggak mau dia pasti lewat, kan? Terus, masalahnya
di mana? Sama aja seperti biasa,” ujarnya kepada media ini secara terpisah.
Menurut Jadid, perpindahan tahun baginya justru untuk motivasi diri, bukan
untuk hura-hura.
“Artinya, kita menyadari bahwa bertambahnya tahun itu berarti dunia akan
semakin tua,” imbuhnya.
Sementara Furqon, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Sukabumi, Jawa Barat
kepada mengaku juga tak begitu peduli dengan pergantian tahun.
“Biarkan mereka yang merayakannya. Cuma yang aku tahu, ada istilah, ‘Man
tasyabbaha biqoumin, fahua minhum,” katanya, sembari mengutip sebuah Hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang menjelaskan bahwa barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dalam golongan mereka.
Dunia Maya
Sikap anak-anak muda Indonesia yang menolak perayaan Tahun Baru dengan
hura-hura juga diekspresikan melalui jejaring sosial, semisal Facebook (FB) dan
Twitter.
“Bismillah... bagi semua umat Muslim yang masih menjunjung nilai-nilai akidah,
maka disarankan tuk tidak terlalu bergegap gempita dengan perginya tahun (2012)
Masehi. Namun, bagi yang tetap latah tuk ikut merayakan dengan berbagai pesta
pora, hura-hura dan kegiatan mubazir lainnya yang tiada manfaat, maka kami
turut mendoakan semoga Anda mendapat hidayah,” tulis Mohammad Irwan Nellson
dalam status FB-nya.
Demikian pula dengan pemilik akun FB bernama Muhajir Ansor, asal Batam,
Kepulauan Riau. Dalam komentarnya di status FB kawannya, Muhajir sependapat
dengan Irwan.
“Jangan ada yang coba-coba tuk merayakannya, terkhusus bagi kita yang mengaku
umat Rasulullah,” tulisnya.
Akun FB bernama Mukarromah Amin Mahmud Piaarra dengan alamat di Melak, Kutai
Barat, Kalimantan Timur bahkan berpendapat, tahun baru Masehi tidak lebih
istimewa dibanding tahun baru Hijriah.
“Biasa aja, kan tahun baru kita (umat Islam, red) dah liwwat (lewat),” tulisnya.
Solusi Anak Muda
Umumnya anak-anak muda ini berharap, malam Tahun Baru 2013 yang akan
berlangsung pada Senin hingga Selasa dinihari nanti, diisi dengan hal-hal
positif saja. Menurut Qomaruddin, acara-acara seperti muhasabah bersama atau
tabligh akbar pada malam tahun baru lebih baik ketimbang mengikuti festival
yang tidak islami.
Dia sendiri, mengaku ogah keluar malam-malam sekedar untuk bersenang-senang
seperti kebanyakan pemuda-pemudi lainnya.
“Saya nggak pernah ke mana-mana (merayakan pergantian tahun). Di rumah saja
kalau malam tahun baru,” jelas bujang yang pernah mengenyam pendidikan di
Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan ini.
“Tapi kita bisa melihat, lebih banyak mana (yang) pergi Tabligh Akbar atau ke
(tempat) hibur-hiburan gitu,” pungkasnya.
Walau begitu, Shiddiq Junihardin, mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan
Arab (LIPIA) Jakarta mengakui, tren perayaan malam Tahun Baru susah untuk
dihindari. Menurutnya, itu sudah menjadi budaya yang mendarah daging.
Solusinya untuk menghindari hura-hura nanti malam, Shiddiq memilih berdiam di
kos-kosannya di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
“Mending main futsal daripada hura-hura,” kelakarnya.
Hal senada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Ridwan memberi solusi.
Dia mengharapkan anak-anak muda Muslim diikutkan dalam acara positif agar
terhindar dari kegiatan negatif di malam Tahun Baru.
“Seperti mabit atau ceramah tengah malam dan sebagainya,” katanya secara
terpisah.*
Rep: Muh. Abdus Syakur
Red: Cholis Akbar
[Non-text portions of this message have been removed]