https://www.facebook.com/notes/achmad-munjid/mohammad-roem-dan-hubungan-muslim-kristen-di-indonesia-masa-lalu/10150267182879990

Mohammad Roem dan Hubungan Muslim Kristen di Indonesia Masa Lalu
oleh Achmad Munjid kl. den 30 december 2012 kl. 03:15 ·
Mohammad Roem dan Hubungan Muslim Kristen di Indonesia Masa Lalu



(Berikut adalah kutipan dari kumpulan tulisan Mohammad Roem yang diterbitkan 
penerbit Bulan Bintang tahun 1977. Terima kasih banyak untuk kawan kita, Erwan 
R, yang telah menuliskan ulang kisah penting ini.)



"Ketika Ibu Roem dan saya beserta anak dan menantu serta cucu (yang pertama) 
berada di Malang, berhubung dengan adanya Muktamar Partai Muslimin, kami 
menginap di rumah keluarga Kristen, yaitu keluarga Mawikere.

Hal ini pada waktu itu sangat menarik perhatian.Untuk keluarga-keluarga yang 
bersangkutan, hal itu biasa. Di Malang kami kenal baik dengan keluarga Koesno 
sejak kurang lebih 40 tahun. Ibu Koesno adalah ketua Wanita Kristen cabang 
Malang. Dengan melalui Ibu Koesno kami kenal keluarga Mawikere dengan baik, 10 
tahun lalu.Ibu Mawikere adalah wakil ketua Wanita Kristen cabang Malang.

Karena persahabatan yang erat berkat masa yang lama itu maka apabila kami 
berada di Malang, lebih sering kami menginap di rumah salah satu keluarga itu. 
Sebaliknya kalau sahabat-sahabat kami itu berada di Jakarta sering pula mereka 
menginap di rumah kami.

Ketika Wanita Kristen seluruh Indonesia berkonperensi di Jakarta kira-kira 9 
tahun lalu, saya sendiri menjemput delegasi dari Malang di Stasion Gambir. Mr. 
Tambunan yang berada di stasion juga untuk menjemput para delegasi dari 
tempat-tempat lain, agak heran waktu mengetahui bahwa keperluan saya sama 
dengan keperluannya. Waktu ia bertanya, mengapa saya datang sendiri, saya 
menjawab bahwa saya tidak punya sopir.Kawan-kawan saya pemimpin-pemimpin bekas 
Masyumi dan sekarang pemimpin-pemimpin Partai Muslimin di Malang, sudah tahu 
hal itu dan tidak heran lagi kalau saya menginap di rumah keluarga Kristen.

Tetapi selama Muktamar Partai Muslimin hal ini sangat menarik perhatian. 
Keluarga Mawikere mendapat telpon dari pelbagai pihak, juga dari 
intelijen-intelijen.Kecuali banyak yang heran, banyak juga yang gembira. Karena 
ada baiknya dalam suasana yang sedang tegang antara kaum Kristen dan Islam. 
Wartawan harian Sinar Harapan, yang datang untuk memberitakan jalannya Muktamar 
Partai Muslimin, membuat suatu karangan khusus tentang kejadian ini. Majalah 
Varia dalam tajuk ceriteranya, menamakan hubungan kami dengan judul karangan 
”Persahabatan Keluarga Mawikere-Roem, Lambang Persaudaraan Kristen dan Islam”.

Salah seorang pendeta Kristen di Malang setelah mendengar hal itu merasa 
demikian syukurnya, sehingga pada hari Minggu, waktu jemaah Kristen sedang 
berkumpul di gereja ia meminta kepada Ibu Mawikere untuk membacakan doa bagi 
”berhasilnya Muktamar Partai Muslimin dan kesehatan keluarga Roem”.Sebenarnya 
bagi kami yang bersangkutan, hal yang demikian itu tidak kami sukai karena 
persahabatan itu kurang murni kalau dijadikan bahan propaganda. Tetapi akhirnya 
kami tidak merasa keberatan kalau orang mensyukuri keadaan yang demikian itu.

Apa sebab persahabatan itu dapat berjalan langsung? Karena kami 
harga-menghargai. Kalau kami duduk bersama-sama di meja makan, keluarga Roem 
cukup dengan mengucapkan ”Bismillah”, sedangkan keluarga Mawikere baik waktu 
berada di rumahnya sendiri maupun waktu berada di rumah kami (di Jakarta) 
berdoa sesuai dengan agamanya, sebelum makan. Tidak pernah pihak kami berusaha 
meng-Islamkan pihak yang beragama Kristen dan sebaliknya Ibu Koesno atau Ibu 
Mawikere tidak pernah mempropagandakan agama Kristennya kepada keluarga Roem.

Demikianlah persahabatan itu telah berlangsung berpuluh tahun dan kami berdoa 
semoga diridhai Tuhan dan terus berlangsung."



(Mohamad Roem, 1977, Bunga Rampai dari Sejarah II, Bulan Bintang, Jakarta, h. 
238-240).


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke