http://shnews.co/detile-13315-utang-indonesia-rp6000-triliun.html

Utang Indonesia Rp6.000 Triliun 


Web Warouw | Jumat, 11 Januari 2013 - 17:21:47 WIB

: 135 



(Dok/financeroll.co.id)

Indonesia For Global Justice mengatakan pemerintah menopang pertumbuhan dengan 
utang.

JAKARTA - Indonesia For Global Justice menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 
Indonesia selama ini ternyata hanya bersumber dari utang, baik utang 
pemerintah, swasta maupun utang publik. Ekonomi tidak tumbuh dari produksi, 
produktivitas rakyat, dan usaha-usaha nasional.

Pemerintah berutang atas nama negara. Semua aset-aset negara dijadikan agunan 
untuk mendapatkan utang. Sementara, swasta berutang dengan menjaminkan aset 
bangsa, kekayaan alam, dan milik bangsa sebagai jaminan mendapatkan utang. 

“Uutang merupakan unsur penopang pertumbuhan yang dibanggakan oleh Rezim SBY 
dan kabinetnya,” kata peneliti Indonesia For Global Justice, Salamuddin Daeng, 
kepada SH di Jakarta, Jumat (11/1). 

Salamuddin membeberkan berbagai tumpukan utang dalam ekonomi Indonesia. Uutang 
Luar Negeri Pemerintah mencapai 120,64 miliar dolar AS pada Oktober 2012 
(setara dengan Rp1.206 triliun). Utang Dalam Negeri Pemerintah sampai dengan 
September 2012 sebesar Rp975,94 triliun. Utang Luar Negeri Swasta mencapai 
123,072 miliar dollar AS per Oktober 2012 (Rp1,230 triliun).

Ia juga menjelaskan bahwa total uutang perusahaan dan publik yang bersumber 
dari Bank Nasional sebesar Rp2,585 triliun pada Oktober 2012.

“Dengan demikian, seluruh utang yang terbentuk dalam ekonomi Indonesia mencapai 
Rp6.000 trilun. Jumlah tersebut hampir setara dengan 80-85 % seluruh PDB 
Indonesia,” kata dia.

Utang-utang ini akan menjadi sumber bencana bagi ekonomi Indonesia. Ketika 
nilai rupiah terus merosot sampai Rp10.000 per AS$, perdagangan Indonesia terus 
mengalami defisit dan akan semakin parah dalam 2013.

“Pertanian dan industri nasional hancur. Maka rakyat Indonesia akan menjadi 
sapi perah, diharuskan membayar pajak tinggi, untuk membayar utang pemerintah, 
mem-bailout utang swasta,” kata Salamuddin. 
Sumber : Sinar Harapan

+++++
http://www.berdikarionline.com/editorial/20120605/dahlan-iskan-dan-soal-utang.html

Dahlan Iskan Dan Soal Utang
Selasa, 5 Juni 2012 | 1:47 WIB   · 

 
Apakah anda senang dengan utang yang terus meningkat? Hingga April 2012, utang 
pemerintah sudah mencapai Rp1.903 triliun. Data Bank Indonesia tahun 2012 
menyebutkan, pada tahun 2006 total utang luar negeri Indonesia sebesar 132,63 
miliar dollar AS, namun pada 2011 utang itu sudah membengkak menjadi 221,60 
miliar dollar AS.

Ada yang cukup menggelitik soal utang yang terus meningkat. Itu ada di tulisan 
Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang berjudul “Tekad Baru: Hidup Yang Polos-Polos 
Saja”. Sebetulnya, pesan yang hendak disampaikan Dahlan lewat tulisan itu 
sangat bagus: bagaimana tekad yang sederhana bisa mendorong harapan. Hanya 
saja, ketika berbicara soal utang, Dahlan Iskan membuat “penyesatan” luar biasa.

Dahlan Iskan bercerita tentang pertemuannya dengan warga desa Bunigeulis, yang 
berada di lereng Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Warga desa itu sedang 
diliputi kegelisahan terkait masalah bangsa. Salah satunya adalah soal utang 
negara yang terus meningkat.

Kepada warga desa itu Dahlan Iskan mengajukan pertanyaan begini: baik mana Anda 
punya utang Rp8 juta tapi kekayaan Anda Rp10 juta, dengan punya utang Rp20 juta 
tapi kekayaan Anda Rp100 juta? Bagi Dahlan Iskan, tak soal utang Anda meningkat 
berapapun besarnya, asalkan kekayaan anda juga meningkat drastis.

Penjelasan Dahlan Iskan betul. Akan tetapi, jika penjelasan itu adalah analogi 
terhadap kondisi utang negara kita saat ini, maka jelas terjadi manipulasi 
besar-besaran di situ. Sebab, penjelasan soal utang negara tak sesederhana 
kisah dua orang yang saling pinjam-meminjam.

Pertama,  utang negara yang terus meningkat tidak disertai dengan perbaikan 
kondisi dan kualitas hidup rakyat. Artinya, penggunaan utang itu belum tentu 
untuk menggerakkan perekonomian yang menyejahterakan rakyat.

Sebagian besar utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sangat 
sedikit yang dipakai untuk menggerakkan sektor real, yang notabene menyangkut 
rakyat banyak. Dari data yang ada disebutkan, sebanyak 39,6 persen utang itu 
dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sedangkan 9,3 persen dipakai untuk 
perbaikan infrastruktur listrik, gas, dan air. Kemudian sekitar 4,7 persen 
dipergunakan untuk pengangkutan dan komunikasi. Sementara pertanian, yang 
menjadi tempat bergantungnya puluhan juta rakyat, hanya menerima alokasi 3,0%.

Ini yang membuat akumulasi utang luar negeri Indonesia tidak berkontribusi pada 
perbaikan infrastruktur, perbaikan layanan dasar, dan penciptaan lapangan kerja 
secara massif.

Kedua, sejarah utang—terutama yang berhubungan dengan negara-negara dan lembaga 
imperialis—adalah “jebakan” alias perangkap (debt trap). Utang luar negeri, 
seperti ditulis oleh Susan George dalam buku “Debt Boomerang: How Third World 
Debt Harms Us All”, merupakan suatu mekanisme yang dibuat oleh negara maju 
(pendonor) untuk memaksa negara penerima (peminjam) mengikuti aturan-aturan 
atau langkah-langkah yang mereka paksakan.

Negara yang ‘terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus menggenjot 
ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan penghematan pada 
pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan sosial. Ini yang terjadi di 
sejumlah negara Amerika latin satu dekade lalu dan sekarang terjadi di 
Indonesia.

Mungkin kita akan bangga dengan ekspor yang meningkat. Akan tetapi, seperti 
ditulis oleh Eric Toussaint, Presiden Komisi Penghapusan Utang Negara Dunia 
Ketiga, ekspor ini tidak lebih dari penjarahan kekayaan alam. Menurut 
Toussaint, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi transfer kekayaan 
berkali-kali lipat dari pinggiran (dunia ketiga) ke pusat (negeri-negeri 
imperialis). Yang terjadi, negara dunia ketiga akan mengalami kekurangan bahan 
mentah dan bencana ekologis.

Di samping itu, untuk membayar utang, negara penerima pinjaman harus melakukan 
penghematan besar-besaran: pemangkasan subsidi, privatisasi layanan publik, dan 
lain-lain. Bahkan, tidak sedikit disertai dengan privatisasi BUMN. Akibatnya, 
rakyat dipaksa membayar mahal akses kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, 
air bersih, listrik, makanan, dan lain-lain).

Inilah yang menjelaskan mengapa peningkatan utang luar negeri justru 
berbarengan dengan tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup manusia Indonesia. 
Itulah sebabnya mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, pada tahun 
2011 lalu, terperosok di peringkat 124 dari 187 negara.

Jadi, alih-alih kekayaan nasional Indonesia meningkat, utang luar negeri justru 
menjebak Indonesia dalam “lingkaran krisis”. APBN tidak pernah sehat karena 
sebagian dipakai membayar cicilan utang. Sedangkan anggaran untuk pembangunan 
dan kesejahteraan rakyat terus dipangkas.  Lantas, apa buktinya bangsa kita 
menjadi kaya karena utang? Silahkan tanyakan ke Dahlan Iskan.

Baca Juga:
  a.. Malapetaka Utang Luar Negeri 
  b.. Indonesia Makin Terperangkap Utang 
  c.. Keluar Dari Jeratan Utang 
  d.. Kemana Utang Mengalir? 
  e.. KAU: Ke Australia, SBY Ngemis Utang

Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/editorial/20120605/dahlan-iskan-dan-soal-utang.html#ixzz2I1PDe85Z
 
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook




  a.. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke