Ref: Pada umumnya akibat dari banjir yang menderita ialah rakyat biasa. Mereka 
yang sudah miskin ditimpa banjir menjadi tambah miskin artinya tetap terikat 
rantai kemiskinan. Anak-anak mereka Lahir miskin, hidup  miskin, pada waktu  
mati pun miskin sekali pun propaganda rezim berkuasa  tentang adanya 
pertumbuhan ekonomi. 

http://finance.detik.com/read/2013/01/16/141720/2143807/4/percuma-ekonomi-ri-tumbuh-tinggi-tapi-banjir-di-mana-mana?f990101mainnews

Percuma Ekonomi RI Tumbuh Tinggi, Tapi Banjir di Mana-mana!
Herdaru Purnomo - detikfinance 
Rabu, 16/01/2013 14:25 WIB
 Foto: Banjir di Kampung Melayu 
Jakarta - Masih terjadinya banjir di Indonesia khususnya di DKI Jakarta, 
membuat resah masyarakat. Pemerintah dinilai hanya mementingkan pertumbuhan 
ekonomi semata yang tidak membawa kesejahteraan masyarakat. 

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta 
dalam penjelasannya kepada detikFinance, Rabu (16/1/2013).

"Banjir, longsor, pencemaran lingkungan, masalah konflik sosial terkait sumber 
daya alam yang saat ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia harusnya menjadi 
refleksi bagi kita. Bahwa keagungan pembangunan nasional yang hanya 
mengedepankan pertumbuhan ekonomi ternyata tidak membawa kesejahteraan dan 
kebahagiaan yang berkelanjutan bagi masa depan kita," kata Arif.

Arif mengungkapkan, ketika banjir datang, praktis aktivitas ekonomi terhambat 
dan berhenti. Justru nantinya, masyarakat sibuk melakukan rehabilitasi di 
kemudian. 

"Itulah biaya yang harus kita keluarkan kemudian ketika kita membangun tidak 
memperhatikan persoalan kapasitas dan daya dukung lingkungan. Biaya itu disebut 
juga dengan eksternalitas," ungkapnya.

Pemerintah sejak 2009 telah menjadikan aspek lingkungan (pro environment) 
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap proses pembangunan yang 
berjargon 'pro growth, pro job, pro poor'. 

"Tetapi saya melihat itu tidak tergambarkan dalam implementasi kebijakan 
pembangunan baik itu yang ada di rencana kerja pemerintah ataupun APBN. APBN 
kita tidak bertransformasi menjadi green budgeting (APBN hijau) begitu juga 
asumsi pertumbuhan ekonomi tidak bertransformasi menjadi Green PDB (PDB Hijau). 
Semuanya masih model business as usual," jelas Dosen Perencanaan Pembangunan di 
Pasca Sarjana UI ini.

Arif mengatakan, pertumbuhan PDB yang tinggi diakibatkan oleh kerakusan dalam 
mengeruk SDA yang berlebihan tanpa mempertimbangkan lingkungan 
(meginternalisasi eksternalitas). Hal ini, menurutnya tidak akan bisa membawa 
masyarakat bahagia secara berkelanjutan.

"Sekarang adalah saat yang tepat untuk berbuat, dimulai dengan merubah 
kebijakan dengan mengimplemantasikan jargon pro environment menjadi karya 
nyata," tutur Anggota Komisi XI DPR ini.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke