*2013 Bersama Naga Bijaksana ~ Jehovan Moningka Liu*


Teman-teman,

Semua dari kita tentu melewati 2012 dengan hal yang menyenangkan maupun
yang kurang menyenangkan.  Namun jika kisah ini dirasa kurang menyenangkan
untuk disimak, teman bisa lewatkan saja…

* *

*Masa Kelam Dipenghujung 2012*

Pertengahan 2012, kembali saya mengusulkan kepada ibu untuk mengajak ayah
mendapat terapi cuci usus di sebuah klinik endoskopi. Kepada ibu, saya
jelaskan metode cuci usus itu ibarat pembersihan rutin dengan
menggelontorkan air pada selokan yang banyak endapan lumpurnya. Jika usus
papi bersih, pencernaan serta metabolisme lebih berkwalitas, maka papi akan
semakin sehat dan bugar.

Mungkin dengan tujuan  mencari opini kedua, tanpa mengkonfirmasi saya, 4
Oktober ayah dibawa dan  diinapkan di rumah sakit terkenal langganan ayah.
Sementara rumah sakit itu tidak memiliki fasilitas cuci usus, dokter
menyatakan bahwa cuci usus adalah omong kosong.  Setelah diperiksa,  dokter
menyatakan terindikasi tersakit lever sehingga diinfus beberapa botol
albumin (protein).  Sekitar beberapa hari bosan bertiduran di kamar VIP
serta kenyang oleh albumin, ayah kurang  selera makan  makanan rumah sakit
yang menurut ibu tawar/ tidak enak. Sementara macet perjalanan membawa
bakso kesukaan, saya meminta ibu supaya ayah jangan dipasangkan slang
makanan. Setibanya di rumah sakit,  pada hidungnya sudah terpasang slang
melewati kerongkongan menuju lambung. Karena pada kerongkongan terisi
selang plastik, saya hanya berani menyuapi ayah kuah kaldu. Saat itu ayah
sempat memuji kelezatan kuah makanan terakhirnya: “Enak…”, katanya.

Tidak lama setelah dipasangkan slang makanan, ayah dipindah ke ICU karena
terkena diare. Saat kami tengok, ayah tampak  cemas, kedinginan dan
kesakitan karena dipasangi slang kateter. Ayah juga ketakutan karena selama
di ruangan profit center rumah sakit itu, beliau tidak boleh ditemani
keluarga serta bersebelahan dengan pasien-pasien sekarat yang kebanyakan
bergantian  meninggal.

Pada slang transparan kateter tampak bercak-bercak darah sehingga air seni
dalam plastik penampungan berwarna kemerahan. Kepada perawat, saya pesankan
agar dokter  ayah di mengizinkan ayah kencing secara normal dengan
ditampung kantong plastik yang diberi lubang. Di rumah atau jika
berjalan-jalan ayah biasa memakai kantong plastik, lebih praktis dan tidak
ada masalah. Jika sudah terisi/ penuh bisa langsung dibuang.  Menjawab
pertanyaan saya, suster mengatakan atas perintah ahli gizi, makanan yang
diinjeksikan pada slang di hidung hanya larutan susu bubuk. Saya minta
suster untuk memberti tahukan dokter gizi rs, bahwa orang dewasa
membutuhkan serat, karena susu adalah nutrisi untuk bayi. Seandainya
suster, saya bahkan dokter makannya hanya susu, sudah pasti mencret diare.

*November 2011, ayah juga dibawa kontrol ke rs terkenal itu, mungkin karena
nutrisinya susu bubuk juga, ayah kemudian dilanjutkan perawatan ICU karena
diare yang kemudian dstop obat penghenti BAB. Setelah 3 minggu menderita
dengan perut membuncit karena tidak bisa BAB, sementara kemaluan bengkak
karena dimasukki slang kateter, rs bermaksud memulangkan ayah kami. Sebelum
dipulangkan, saya minta suster rs melakukan irigasi (memasukkan 1 liter air
dengan slang karet diameter 6mm lewat anus).  Setelah berteriak mulas yang
diteruskan 2x semburan ‘lumpur-belerang Lapindo’ sebanyak 0,8 liter + 2
liter, ayah tampak merasa enteng tuntas. Beliau menyampaikan terima kasih
sambil mengacungkan jempol dan menyalami kami. *

*Saya memang sering meminta izin ibu supaya untuk membantu kontraksi usus,
sesekali boleh melakukan irigasi supaya BAB ayah tuntas. Sebulan
sebelumnya, saya  membantu bu Ansye memasukkan air dengan slang irrigator.
Namun irigasi pertama di Bogor itu kurang tuntas, karena baru
letupan-letupan awal sudah distop mami yang ketakutan.*

Saat jenguk berikutnya, karena kateter belum dicopot, saya meminta suster
untuk mencabutnya. Karena dokter jaga enggan menemui saya, suster jaga itu
kemudian melepaskan kateter itu. Ayah tampak merasa lega dan aman, sehingga
berkali-kali menyalami serta menggengam erat tangan saya. Apalagi saya
bilang: “ Bulan depan saya dan Ansye akan kasih hadiah cucu laki-laki, she
Lauw, buat akung. Akung ikut jemput di rumah bersalin ya..?”. Walau tidak
ingin ditinggalkan, mata ayah tampak berbinar semangat, karena saat
melepaskan genggaman erat tangannya, saya katakan hampir terlambat
menjemput bu An yang saya drop di rs kandungan.

Esoknya saya sangat marah karena mengetahui bahwa kateter itu sudah
dipasangkan kembali. Karena takut atas informasi yang membodohi, ibu tidak
berani mengajak ayah meninggalkan rumah sakit itu. Kasus perumah sakitan
ayah, sebenarnya bukan alasan kesehatan semata, namun cenderung persaingan
kekuasaan serta keberanian menggelontoran uang. Ada kemiripan bisnis rumah
sakit itu dengan bisnis rumah makan yang mempunyai 100 macam masakan dengan
20 sales yang berperan sebagai pelayan. Tamu yang memegang uang terlalu
banyak, boleh memesan setiap masakan apapun yang diusulkan pelayan. Jika
harga bukan lagi merupakan masalah, tinggal tanda tangani pesanan, tindakan
segera diberikan sesuai permintaan`

Sekitar sebulan ayah menderita ketakutan, kedinginan, nyeri, bosan dan
stress, sementara topik sakit lever maupun diare sudah tidak pernah
dibicarakan lagi, ayah mendapatkan tindakan baru.  Dari mulut dimasukkan
selang melewati kerongkongan, sehingga untuk bernapas kini diatur oleh
mesin. Menurut dokter, untuk menahan rasa sakit dan tidak nyaman karena
selang itu, ayah diberi suntikan morfin. Menurut dokter jaga, ayah
mengalami sesak napas kronis (COPD)  yang menurutnya harus dibuatkan lubang
udara pada leher ayah. Ketika saya minta dipinjamkan stetoskop, beberapa
menit dokter itu tertawa dengan gelinya. Kemudian dokter itu menunda tawa
sejenak, menyuruh perawat untuk meminjamkan stetoskop, serta meninggalkan
kami sambil melanjutkan tawa gelinya.

Selama belasan tahun kami melayani dan menemani ayah, belum pernah
sekalipun ayah mengalami sesak napas. Bagaimana mungkin baru sebulan di
rumah sakit, tiba-tiba dinyatakan menderita sesak napas yang dinyatakan
kronis (menahun).  Sementara kami biasa mengajak ayah tamasya  ataupun
keliling taman perumahan, tidak pernah sekalipun mengalami sesak napas.
Bahkan tabung oksigen yang sudah 13,5 tahun tersedia di rumah, karena tidak
perlu, belum pernah sekalipun kami gunakan.

Sepulang mengikuti symposium dari Bandung, ibu meminta saya pergi ke ICU
rs. Malam itu saya bersama ibu dan semua anak-mantu berkumpul di ruang
privat ICU. Di kamar itu, sementara badannya masih hangat, nadi dan tensi
baik, napas yang teratur dengan mesin pompa. Namun sementara itu saya lihat
diapragma matanya tidak bereaksi (mengecil) terhadap cahaya baterai. Saat
tapak kaki saya gosok dengan kuku, tidak ada gerakan reflex pada telapak
kakinya. Saya sadar bahwa itu menunjukkan bahwa gerak refleksnya dari
syaraf tulang belakangnya sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana
seharusnya. Walau demikian, saya mengajak, bu An, ibu dan adik-adik untuk
beriman berdoa memohonkan mujizat.

Setelah kami pulang, baru tidur sebentar, bu Ansye membangunkan saya karena
hp saya berbunyi. Dinihari 11 November saya ke rumah sakit karena jam 03
wib ayah sudah wafat. Pagi itu kami ke rumah duka Bogor. Saat dimandikan,
bukan hanya kemaluannya yang bengkak. Mulutnya yang menganga sudah ditutup
dengan selotape.  Hampir seluruh kulit tubuh bagian belakang  gosong
kehitaman dan sebagian kulit mengelupas.

32 tahun lalu ketika kuliah  di FTA Unpar, seorang psikiater
mengindikasikan saya terlalu banyak menghayal sehingga tidak bisa melihat
kenyataan, sehingga saya dirawat paksa di RSJ. Demikan pula 30 tahun lalu
ketika saya di FTS Unpar, saya kembali dirawat paksa di RSJ dengan tuduhan
mengalami halusinasi. Tuduhan, perlakuan,  konsumsi  obat2an psikotropika
selama bertahun-tahun karena mis-diagnosa  itu, masih menyisakan trauma
yang kadang menimbulkan rasa tidak percaya diri, takut bertemu orang, serta
kegugupan yang kadang terasa hingga saat ini.  Kini saya pahami bahwa orang
sehat yang dibawa dan berlama-lama di rumah sakit terkenal bahkan mahal,
dianggap,  dirawat dan diperlakukan sebagai orang sakit tidaklah menjadi
lebih sehat.  Ia akan ketakutan, menderita sehingga menjadi sakit sungguhan
 bahkan bisa meninggal.

Rumah sakit menyatakan ayah meninggal karena kekurangan oksiegen akibat
sesak napas menahun (COPD). Kebalikannya, saya meyakini bahwa ayah
menderita hingga meninggal di rumah sakit akibat mal praktek, kesombongan
yang ditutup dengan pemberian suntikan morfin yang over-dosis. Ayah
meninggal secara menderita dan dalam keadaan fly setelah mendapat suntikan
morfin yang over dosis.

Saya memiliki sejumlah petunjuk kongkrit mengenai kejahatan ini. Namun saya
kira tidak guna memperpanjang masalah ini.

*Menanti Kehadiran Fajar Yang Baru*

Rasa marah dan kecewa yang terakumulasi dalam sub-concious-mind selama 2
bulan itu,  menurunkan sistim kekebalan serta pencernaan. 24 November,
tampak bintik-bintik cacar air serta gangguan maag terasa secara
berbarengan.  Rasa bega dan perih karena  over-produksi asam lambung
menyebabkan saya tidak bisa minum anti virus untuk atasi sakit cacar. Semua
obat maag serta suntikan dari dokter di Bogor untuk menetralisir  asam
lambung tidak banyak membantu.

Dalam keadaan sulit itu, saya bersyukur karena akhirnya saya mendapat resep
pamungkas yang menghentikan sakit maag. Nso sepupu (juga tetangga kami di
Bogor) menyarankan agar setiap pagi dan malam saya minum sekitar 25cc air
perasan kunyit (= rimpang/ curcuma) yang diparut.  Ajaib…!  Rasa bega dan
perih seketika mereda. Esoknya saya sudah tidak lagi ke rumah sakit untuk
suntikan penetral asam lambung. Bahkan  lusanya saya putuskan untuk
melepaskan semua obat dari dokter. Setelah seminggu lambung saya sembuh
total dan pada minggu ke2 saya  menghentikan minum jus kunyit itu.

Sementara pemulihan, bu Ansye dan beberapa teman sering mengingatkan saya
untuk bersyukur.  Jangan balas kejahatan dengan kejahatan, karena membalas
kejahatan bukan hak kita. Jangan sampai raport saya jadi ikut merah karena
mengikuti cara-cara jahat itu.

Oya, teman. Saya, bu An, beberapa karyawan yang tinggal bersama kami sering
mengalami kejadian-aneh selama 40 hari pasca wafatnya ayah . Walau mungkin
cukup menarik, cerita itu bisa dianggap berbau tahayul. Dari
kejadian-kejadian itu membuat saya menduga bahwa selama 40 hari pasca
seorang meninggal secara tidak wajar, arwahnya masih dekat dan bisa
menyatakan diri kepada orang-orang terdekat yang hidup di alam fana.

*~ ~ ~*

Bersamaan pulihnya sistim kekebalan tubuh secara alamiah cacar air saya
mengering. Sayangnya karena tidak bisa minum anti-virus, cacar air itu
meninggalkan sangat banyak bekas tanda kehitaman pada muka dan sekujur
tubuh saya. Pak Yuming, teman SMA memprediksi bahwa vlek hitam itu baru
akan hilang hingga 5 bulan ke depan. Namun berkat cairan kapsul kosmetik
yang diberikan bu Ansye, wajah saya yang sebelumnya sangat macho dengan
loreng kehitaman, saya perkirakan akhir Januari ini sudah kembali mulus.
(“Tapi nanti papa jangan terlalu ganteng dong…”,  pesan bu An bercanda).
Bahkan seorang teman memberi tahu bahwa ada dokter kulit yang bisa memberi
suntikan untuk menghilangkan noda cacar. Mungkin nanti saya coba. Asal
jangan mal-praktek aj….

Apoh menggantikan saya menemani bu An yang melahirkan putra kami pada
tanggal 3 Desember. Memang sementara sakit cacar,  bu An, Elsha, Dona yang
menemani apoh tinggal terpisah dengan saya yang pulang ke toko. Bahkan saya
baru berani menggendong putra kami setelah Jovan berusia 2 minggu. Nelongso
banget…

Setelah cacar mengering, saya kembali ke rs Bogor. Dokter menyarankan saya
tidak usah meminum anti virus karena saya dianggap sembuh. Namun karena
takut menulari Jovan, saya meminum acyclovir (anti-virus) dalam dosis 800mg
selama 3 minggu. Namun atas saran dokter yang lain, demi keamanan Jovan,
saya minum lagi dengan dosis 4 gram selama 5 hari. Walau penggunaan
acyclovir tablet dan cream tidak bisa mengurangi vlek hitam, tapi acyclovir
ternyata menyembuhkan alergi lama serta bisa menyebabkan kutil jadi kisut
bahkan lepas dengan sendirinya.

*Habis Gelap Terbitlah Terang*

3 Desember 2012, bu An melahirkan seorang putra.

Anak kami yang ketiga itu kami namakan Jehovan Moningka Liu (Jovan).
Menurut penanggalan Tiong Hoa, Jovan lahir pada tahun naga air. Menurut Mr.
Raymond Lo (master Feng Shui dari Hongkong, guru dari suhu Djohar Koh),
walau teoritis shio naga dan shio babi adalah ciong (tidak cocok), namun
karena tanggal dan jam kelahirannya tepat, ia bisa cocok dengan keluarga
kami.

Sebelum kelahiran Jovan, atas undangan dari pak Sugiri Kusteja, saya dan
pak Eduard Ladasi mengikuti Simposium Nasional Arsitektur Feng Shui (SNAFS)
di gedung pasca sarjana Unpar- Bandung. Dalam acara nostalgia di Bandung,
saya teringat ngko Liong Gie, sepupu saya humoris dari FTS Unpar yang
senantiasa menemani dikala sepi. Karena tahun kelahiran Jovan adalah juga
shio naga (liong), saya putuskan untuk memberi Jovan dengan nama kecil
Liong Gie (Lung Yi= Naga Bijaksana) seperti nama oom humoris yang lucu itu.

Walau mendapat nama Tiong Hoa: Lau Liong Gie (= Liu Lung Yi) dan cukup
ganteng (mirip  papa),  seperti juga Elsha, parasnya cenderung lebih Manado
dibanding Tiong Hoa. Kami bersyukur putra kami bertumbuh sehat, kuat dan
tubuhnya sangat cepat besar. Mungkin itu karena ia berkesempatan memperoleh
nutrisi ASI yang banyak melimpah.

Saya kini sudah sehat dan kembali bersama bu Ansye, Elsha, Dona serta Jovan
yang kebanyakan tinggal di kota Bogor menemani apoh. Kami sudah melewati
kedukaan serta situasi sulit. Kini setelah kami kembali bersama, lima kali
sehari kami bersyukur dengan sembahyang bersama. Allah memberkati dan
melindungi keluarga kami; Papa, mama, Elsha, Dona, Jovan, apoh, opah,
keluarga Tomohon, saudara, keuangan, toko, orang-orang mendukung,
kontribusi kami. Terima kasih.

Tiap malam hari saat letih bekerja, saya pura-pura mengetuk pintu:
“Tok-tok-tok, papa… datang…” supaya Elsha dan Dona yang sedang
loncat-loncat atau perang bantal pada busa di atas lantai, sempat untuk
sembunyi dibawah selimut. Sementara papanya mencari-cari ke dalam lemari
dan di bawah bantal, biasanya Dona tidak tahan untuk tidak cekikikan,
sehingga lebih dulu kena gigit papanya.

Jika papa jadi Shirkan (macan), Elsha jadi Mogli (bocah) ato Abu (anak
gajah), Dona jadi Moli (serigala). Jika  papa pura-pura jadi buaya, kancil
Dona mengajak cici Elsha: “Ayo kita se-ang…!” dengan menduduki dan memeluk
punggung ‘buaya’ sehingga tidak bisa menggigit cicinya. Bahkan kadang
mamanya yang semula netral ngelindungi Jovan supaya tidak terinjak, bisa
larut terbawa emosi ikutan ngebantu para kancil dengan kitikan yang
menye-ang buaya: “He-boooh…”

Oya,

Terima kasih untuk simpati, doa serta salam teman2 milis, khususnya
keluarga cihu Handaka Tania (suhu perguruan AlamSemesta);  Kel. Tjoa Ju
Ming, Titus& Joanne, Gunawan& Ani, kel Lily M. Hendry, kel. Hendrato D,
kel. Ina Pattinama, kel. Ling Ling, kel. Handoko TW, kel. Wendy Sugianto, kel.
Sugihartono, kel. Sinar  (FonsVitae ~ FT Unpar);  Diana Sari, Adrie& Vidia
Sengkey, Yen Pri& Okdi,  kel. Hanny Lau Oldham (Indosatu ~ Aussie);  Yuli
Tjia (ToastMaster); Andi Savero, pDesvan, pBudi Riawan (BlueMountains ~ LP
AsiaWorksTrainings); Nonon& Aileen, pak Alim/ Vendy& Syahbana
(SalamIndonesia), Audy (Proletar), Ommie RumahKitaBersama, …

Teman2,

Menjelang akhir Desember 2012, saya membarui penawaran konsep beberapa
solusi kepada Gubernur Joko Widodo, Menhub E. E. Ma ngindaan dan pejabat
Menpora. Mudah-mudahan agar dalam waktu dekat permohonan audiensi saya bisa
dikabulkan oleh pejabat bersangkutan.

Teman2,

Mari kita bersama menikmati tahun 2013 tahun penuh berkat, keadilan  serta
kebaikan dengan ucapan syukur dan harapan baru.



Salam sejahtera,

pMul, buAn,

Elshadain, Adonain, Jehovan

Oya, klo molihat foto Jovan, silakan teman klik…

*https://sites.google.com/site/YohanesMulyadiLiu/JehovanMoningkaLiu*<https://sites.google.com/site/YohanesMulyadiLiu/JehovanMoningkaLiu>
* *

* *

*[email protected]**, **[email protected],**
[email protected], [email protected],
[email protected],[email protected],**
[email protected], **[email protected],** **
[email protected]**,[email protected]**
 <[email protected],%[email protected]>*



*[email protected],
[email protected]<[email protected],%[email protected]>
,** [email protected], **[email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected] ,[email protected] ,
[email protected], [email protected]*





*[email protected], **[email protected]**,  **
[email protected],  [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected],[email protected],
[email protected],  [email protected]*





*[email protected], [email protected],
[email protected],  [email protected],
**[email protected],
[email protected]<[email protected],%20%[email protected]>
**, **[email protected],  **
[email protected]**,  [email protected],
<[email protected],%20>
 **[email protected]
 <[email protected]>*



*[email protected], **[email protected]
**, **[email protected],* *[email protected], **
[email protected]**, [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected], **
[email protected]**
 <[email protected]>*



*[email protected]**,
[email protected],[email protected],
[email protected], [email protected],P
[email protected],[email protected]**
 <[email protected]>*



*[email protected], **[email protected]**, **
[email protected]**,**[email protected]**,**[email protected]**,
**[email protected]**, **[email protected]**,** **
[email protected]**,** **[email protected]**,**[email protected]*
*, **[email protected]**,*





*LEADERSHIP62** <**[email protected]**>, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
Persaudaraan **<**[email protected]**>,*

* *

* *

*[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, *
*[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**,**[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**,*





*[email protected]**, **
[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**,
**[email protected]**, **IES** <**
[email protected]**>*





*UNPAR** <**[email protected]**>, **
[email protected]**, **[email protected]**, **
[email protected]**, **[email protected]**, *
*[email protected]**, ,**[email protected]**,** **
[email protected]**, **Basuki Tjahaja Purnama** **<**[email protected]**
>,*





Ars’79 [email protected], Ars’79 LiemBunHong   [email protected],
SimSuparmanG [email protected], Lau [email protected], ,
[email protected], Jia-Xiang Sabria [email protected], UKMaranatha
SugiriKusteja [email protected], SNAFS-PRANA [email protected],
SNAFS [email protected],

* *


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income 
http://profitclickincome.blogspot.com/

JOIN HERE to START INVESTING in Gold, 
Forex and Commodities Online :
http://synergyprofit.com/?ref=bimagroup
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke