ASAHAN:
"ANAK SEGALA BANGSA"-nya AJIP ROSIDI *
Novel Ajip Rosidi "Anak segala Bangsa" yang tebalnya lebih dari 300 halaman
(317) saya baca kira-kira 20 tahun lalu. Sekarang kembali saya baca untuk kedua
kalinya sesuatu yang sangat jarang terjadi pada diri saya untuk membaca sebuah
roman hingga dua kali. Tapi Ajip Rosidi memang pengarang Indonesia istimewa.
Pada jamannya, terutama di masa remajanya, Ajip dianggap sebagai pengarang
genial, luar biasa dan keluar biasaannya itu sempat saya saksikan sendiri
karena ketika itu kami pernah satu sekolah, saling kenal, dan dia juga teman
dekat (bukan akrab) abang saya yang juga pengarang seangkatan dengan Ajip.
Ketika usia Ajip baru 17 tahun dia sudah menerbitkan buku kumpulan sajak
bersama tiga penyair senior lainnya (Sobron Aidit, S.M.Ardan: "Ketemu di
jalan") dan buku mereka diterbitkan oleh Balai Pustaka. Tapi di samping itu
Ajip, adalah juga telah menjadi penyair dan penulis yang terkenal waktu itu.
Dia menghentikan sekolahnya hingga klas 2 SMA Taman siswa-Taman Madya) karena
dia merasa sekolah sudah terlalu kekanak-kanakan bagi dia yang sudah terlampau
masak dalam berpikir maupun dalam menulis. Dan yang penting juga, mutu karangan
Ajip pada usianya yang begitu remaja telah mencapai mutu seorang pengarang
senior. Apakah memang di sini letak ke jeniusan Ajip sebagai sastrawan muda
waktu itu? Untuk itulah saya kembali membacai karya-karya Ajip Rosidi yang
bekas teman sekolah di masa remaja dan kami sekarang masih sama-sama hidup di
usia yang telah lebih 70 (Ajip akan berusia 75 tahun pada 31 Januari 2013, dua
minggu lagi dan saya lebih muda sebelas bulan darinya).
Meskipun persahabatan kami didindingi oleh dinding semen ideologi yang tebal
serta berbeda dan saling bertentangan tapi pernah tak berpengaruh negatif dan
bahkan hingga akrab dan Ajip cukup banyak membantu saya terutama di bidang
buku-buku yang dia suplai begitu banyaknya untuk saya selama dia masih bekerja
sebagai guru besar di Osaka-Jepang dan diapun sangat sering mampir ke rumah
saya di Belanda dalam perjalanan liburnya ke Indonesia. Kami sering terlibat
dalam obrolan yang panjang, santai dengan waktu yang hampir tidak terbatas.
Tentu saja diselingi dengan perbedaan pendapat yang tidak sedikit tapi saya
mengambil sikap tidak meladeni karna saya sebagai tuan rumah baginya selama dia
nginap di tempat saya. Ajip termasuk manusia yang suka dan mudah sekali
bertengkar, sangat kritis dan tidak membiarkan setiap perbedaan berlalu begitu
saja. Dia selalu siap bertengkar dan dia sangat pandai berdebat, cepat berpikir
dan pandai mengalahkan moral debat lawannya. Tapi selebihnya, sebagai manusia,
Ajip juga punya daya tarik tersendiri dan sangat enak sebagai lawan bicara
selama tidak terbentur dalam pebedaan pendapat.Tidak jarang sebagian orang
punya rasa bahwa Ajip cukup arogan, tinggi hati dan punya sikap sombong. Tapi
Rosihan Anwar dalam komentarnya terhadap Ajip dalam buku "Ajip Rosidi 70 tahun"
mengatakan bahwa yang menonjol pada Ajip adalah kepintarannya dalam berdagang
( Henk Meyer, ahli kesusasteraaan Indonesia berkebangsaan Belanda pernah
mengatakan bahwa hampir semua pengarang Indonesia adalah juga para pedagang
asalnya). Kita cuekkan saja semua ciri-ciri pribadi Ajip yang saya paparkan di
atas.
Sekarang tentang novelnya. Ajip pernah mengatakan pada saya bahwa novelnya yang
dia beri nama "Anak tanah air" adalah sebagai jawaban terhadap novel Pramoedya
Ananta Toer "Anak segala bangsa". Dan memang itu sebuah jawaban yang
mengingatkan pada kata-kata Presiden Sukarno yang suka sekali diucapkannya:
"Ini dadaku, mana dadamu". Ajip sangat benci Sukarno. Dan Ajip menjawab
tantangan Pram dengan "Inilah dadaku" sebagai "anak tanah air". Menurut Ajip,
Pram mengaku sebagai anak asing dan Ajip sebagai anak pribumi. Begitulah
terjemahan kasarnya. Saya berusaha menghaluskan terjemahan kasar tersebut
karena makna dua novel tersebut memang mengadung perihal yang sangat besar dan
saling bertentangan. Apakah benar Pram itu anak asing ("anak segala bangsa")
sedangkan Ajip orang Indonesia asli ("anak tanah air").
ARDI, salah satu tokoh atau menurut istilah sastra bergengsi sebagai
protagonis dalam novel Ajip "Anak Tanah Air" adalah seorang pelukis dari rakyat
biasa, ayahnya gugur dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan Ardi dipelihara
oleh ibunya yang janda dan pamannya yang kemudian membawanya ke Jakarta untuk
melanjutkan pelajaran ke SMP (Taman Siswa). Kemudian Ardi berkenalan dengan
seorang gadis, Hermin, anak seorang petinggi negara angggota PSI (Gubernur
Kalimantan) yang kemudian menjadi pacarnya. Ardi tumbuh sebagai pelukis di
antata teman-teman pelukis lainnya yang pada umumnya berpandangan anti komunis
yang salah satunya yang paling konsekuen anti komunis bernama Hasan. Selain itu
juga Ahmad yang kemudian menjadi tumpangan Ardi ketika rumah tempat Ardi
tinggal menumpang hangus dijilat api dalam satu peristiwa kebakaran besar di
Galur. Ketika Ardi terlibat dalam salah satu peristiwa penanda tanganan untuk
menyokong konsep Presiden Sukarno yang penyodornya adalah Suryo(Lekra), nama
Ardi sempat dibaca oleh ayah Hermin yang dimuat di banyak koran-koran di
Jakarta, hubungan cinta (cinta bagi Ardi, sex bagi Hermin yang ternyata sudah
punya pacar sebelumnya yang bernana Wangsa), mereka putus karna ayah Hermin
tidak lagi bisa menerima Ardi sebagai pacar anaknya yang sudah dia anggap
komunis dan hubungan mereka memang putus secara damai. Ardi putus asa dan
gundah gulana dan juga kehilangan mata pencahariannya sebagai pelukis dan
pembuat sketsa di banyak majalah. Semua teman-teman pelukis Ardi
memencilkannya, semua majalah yang dulu memuat secara teratur sketsa-ketsa yang
dikirimkannya kini menolak karna Ardi dituduh komunis dan orang Lekra. Ardi
kehilangan sumber keuangannya secara drastis. Dalam keputus asaan dan puncak
kemelaratannya, tibalah Suryo yang orang Lekra ke rumah Ardi menawarkan
penyelenggaraan pameran lukisan tunggal Ardi yang semua biaya dan
penyelenggaraanya akan ditanggung oleh Suryo (Lekra). Pameran lukisan Ardi
berlangsung dengan sukses besar dan cukup banyak lukisannya dibeli peminat dan
ahirnya Ardi bebas dari kesulitan ekonomi yang hampir mengahiri riwayatnya.
Selanjutnya Ardi tidak hanya sukses sebagai pelukis tapi juga Lekra sering
mengirim Ardi keluar negeri untuk mengurusi soal-soal dunia seni lukis yang
bahkan higga ke Amerika Latin.Tapi kemudian Ardi menjadi bosan karena dia
merasa bakatnya tidak berkembang dan hanya melukis poster-poster tugas Lekra
sepanjang tahun dan dia bermaksud untuk keluar dari Lekra dan semua perasaannya
ditumpahkannya pada bekas teman pelukisnya dulu yang tanpa janji mereka bertemu
secara kebetulan di sebuah rumah makan Padang dan adalah Hasan yang menemuinya
sedang makan. Ardi yang diselamatkan Lekra dan dipencilkan dan ditolak oleh
teman-tema pelukis yang beraliran super kanan anti komunis ahirnya ingin
bercerai dengan Lekra karna merasa jemu dan merasa bakatnya tidak berkembang
dan hanya menjadi pelukis poster meskipun hidupnya sudah terjamian dan namanya
terkenal dan hampir selalu dalam perjalanan ke luar negeri. Tapi apa lacur,
segalanya sudah terlambat. Meskipun tidak dijelasakan apakah Ardi sempat minta
keluar dari Lekra, Ajip mencetuskan peristiwa 65 dalam novelnya. Kisah Ardi
berahir hingga di sini saja, secara mendadak. Dan di ahir novel, Hasan menuslis
"surat-surat dinihari" yang tanpa ada nama alamat yang disebutkannya dan hanya
ditujukannya kepada "sahabat".Dalam salah satu surat tsb, Hasan mengatakan Ardi
melarikan diri ke Jawa Tengah (tempat perburuan Komunis yang paling sengit)
tapi Hasan tidak menyebut nasib Ardi selajutnya dan tentu Ajip menyerahkan
nasib Ardi pada pembacanya, agar tahu sendirilah...anak tanah air yang
ikut-ikut komunis yang lari ke Jawa Tengah pada saat itu tentu bukan alamat
yang menarik.
Tîdak bisa lain, kita hanya bisa menyimpulkan nasib Ardi ahirnya dramatis
seperti juga yang dikehendaki Ajip. Tapi juga kita tahu Ardi tidak pernah
menjadi seorang komunis. Bahkan Ajip sendiri hanya ingin mengesankan bahwa Ardi
cumalah terbawa-bawa dan terseret ke dalam lingkungan Lekra berkat cumbuan
orang Lekra dan hasil pemencilan teman-teman Ardi sendiri yang anti komunis dan
sebagai penganut agama Islam yang taat. Juga kita diberi kesan bahwa Ardi bukan
tokoh yang punya pendirian kuat: tidak kuat menerima pengaruh kiri dan tidak
kuat menerima pengaruh kanan, tidak kuat dalam hubungan cinta. Dia seorang
Islam yang mungkin moderat atau Islam Liberal menurut istilah sekarang. Jadi
siapakah yang dimaksudkan Ajip sebagai putra dan putri tanah air dalam novel
"Anak tanah air" dalam novelnya sendiri itu? Apakah Ardi, seorang pelukis muda
yang jatuh ke tangan Lekra dan dipencilkan oleh teman-tema pelukis lainnya yang
beraliran kanan dan Islam fundamentalis (fundamentalis adalah penilaian saya
sendiri). Ataukah Hasan, Ahmad atau Muhammad teman-teman pelukis dari Ardi yang
anti komunis dari ujung rambut hingga ujung kaki?. Yang jelas bukan Hermin
sebagai pacar Ardi yang ahirnya menururt saja perintah ayahnya untuk bercerai
dengan Ardi meskipun telah mengadakan hubungan sex dengan Ardi (cukup
mengasikkan penggambaran adegan sex oleh Ajip yang muslim taat itu). Saya
sendiri tidak bisa menjawabnya, siapa yang dimaksudkan Ajip sebagai anak tanah
air bangsa Indonesia. Pada Pram jelas, anak-anak segala bangsa yang hidup di
Indonesia adalah anak-anak Indonesia yang bernasib sama atau punya nasib
Internasional sebagi korban penindasan dan penghisapan kaum kolonialisme lama
waktu itu. Atau mungkin yang Ajip maksudkan sebagai anak tanah air adalah semua
putra putri bangsa Indonesia harus anti komunis, harus membasmi komunis, harus
membersihkan semua komunis dari bumi Indonesia karena mereka kejam dan tidak
beradab, licik, penipu dan akan selalu mejerumuskan manusia Indonesia ke jurang
nista dan kehancuran. Tapi yang terjadi sekarang dan kenyataan hingga detik ini
yang melakukan semua mala petaka itu bukan komunis tapi justru orang-orang
komunis yang dibikin nista dan dihancurkan oleh suharto dengan ideologi anti
komunisnya. Lalu apakah suharto dan rezimnya beserta semua pengikutnya bisa
dianggap "anak tanah air"? Dalam salah satu suratnya, Hasan seperi juga yang
persis difitnahkan suharto terhadap Komunis, bahwa Pemuda Rakyat dan
Gerwani-lah yang membunuh para jendral, mencukil matanya, memotong kemaluannya
dan melemparkannya ke lubang sumur mati. Apakah tuduhan Hasan tsb identik
dengan yang dipikirkan pengarang novel ini?
Bagaimanapun, novel Ajip cukup menarik untuk dibaca karena dia juga merupakan
sebuah opini, sebuah debat politik satu jalur, sebuah essay yang meskipun
benuansa agressiv tapi terbaca moderat, dan bahkan sebuah konsepsi politik anti
komunis yang pekat dan mengapa harus kita tolak untuk membacanya, sebuah
uneg-uneg dan kebencian terhadap komunisme dengan cara sinisme dan blak-blakan,
sebuah hasil karya setengah sastra, setengah politik. Terlepas dari pandangan
politik yang berbeda dengan Ajip, tapi dalam novel ini saya tidak menemui di
mana letak kegenialan Ajip sebagai penulis sastra maupun berbagai jenis
masaalah lainnya.Tapi bahwa Ajip pandai mengarang, produktif, bernasib baik,
itu sudah pasti, dia punya bakat, itu sudah pasti. Saya teringat akan penilain
pak Teeuw (Almarhum Prof.Dr. Teeuw) yang pernah mengatakan dalam salah satu
kata pengantarnya dalam buku Ajip yang beliau tulis: "Ajip adalah seorang
pengarang yang cepat matang. Saya tidak suka orang yang cepat matang". Tapi
saya bukannya tidak suka karna Ajip cepat matang. Saya tetap mengagumi Ajip
sebagai pengarang tapi tidak ada satu karyanyapun yang bisa saya nikmati .Saya
bersedia membacainya.
Tanggal 31 Januari 2013 sudah di ambang pintu, tinggal dua minggu lagi
dan Ajip akan genap berusia 75 tahun. Saya ucapkan selamat padanya dan panjang
umur meskipun ucapan selamat yang sekarang dalam keadaan hubungan kami telah
mencair sedemikian rupa hingga tak setitik ampaspun yang tinggal di permukaan.
ASAHAN.
* Ajip Rosidi "Anak Tanahair", Pustaka Nasional Pte Ltd:
317 hal, cetakan pertama 1986: edisi Singapura.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]
Kunjungi situs INTI-net
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/
Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com
*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*
CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh
Visit Profit Click Income
http://profitclickincome.blogspot.com/
NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/inti-net/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/