http://www.hidayatullah.com/read/26936/24/01/2013/bible,-al-qur%C3%A2%E2%82%AC%E2%84%A2an,-dan-perempuan.html
Bible, Al-Qur’an, dan Perempuan
Kamis, 24 Januari 2013
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
MUNGKIN tidak ada diskursus yang paling fenomenal sejak dunia ini diciptakan
hingga hari ini selain diskursus tentang kitab dan perempuan. Dari sisi
penafsiran, kitab suci sering dituduh bias gender: terlalu berpihak kepada
laki-laki. Namun ketika ditanya: Siapakah diantara kaum perempuan yang dapat
dijagokan sebagai eksponen penafsir kitab suci jawabannya sering meragukan.
Belum lagi ada semacam stigma bahwa kitab suci mengkrankeng dan memasung kaum
perempuan. Apakah benar demikian? Pertanyaan ini sepertinya menarik untuk
dijawab. Dan jawabannya akan penulis carikan dari Bible dan Al-Qur’an. Tentunya
ini hanya sekadar komparasi kecil. Tidak mencakup seluruh ide dan gagasan
tentang keterkaitan kitab suci dan perempuan.
Dari sisi penciptaan, Bible dan Al-Qur’an sepertinya punya tokoh yang sama
tentang perempuan. Dua-duanya menyebut Hawa (English: Eva). Bedanya, Bible
(dalam Kitab Kejadian/Genesis) menyebutnya secara eksplisit tetapi Al-Qur’an
lebih memilih implisit. (Lihat, Qs. al-NisÄ’ (4): 1). Bible menyebut Hawa
karena dia merupakan sumber segala yang hidup (Kitab Kejadian 3: 20).
Berkaitan dengan hak demokrasi, dalam istilah modern, kaum perempuan di dalam
Bible mengalami nasib yang kurang beruntung. Karena mereka tidak diberi hak
untuk berbicara, khususnya di rumah ibadah (gereja). (Korinthus 14: 34). Jika
pun mau bertanya, mereka harus bertanya kepada suami-suami mereka di rumah
masing-masing. Alasannya: karena jelek bagi perempuan untuk berbicara di dalam
gereja (Korinthus 15: 35). Ketika belajar pun mereka harus diam dan tunduk.
Bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengajar dan menguasai laki-laki. Karena
yang pertama kali diciptakan adalah Adam baru kemudian Hawa. (Timothius 2:
11-13).
Lebih dari itu, di dalam Bible juga disebutkan bahwa sebenarnya Adam tidak
tersesat, akan tetapi perempuannya (Hawa) yang tersesat. (Timothius 14: 2).
Taat kepada suami pun setara dengan taat kepada Tuhan, karena dalam Bible
laki-laki adalah kepala perempuan, sebagaimana Kristus dipandangan sebagai
pemimpin gereja bahkan penyelamat jasad. (Efesus 5: 22-24).
Berkaitan dengan siapakah yang lebih mulai dan utama: laki-laki atau perempuan,
Bible menjawab laki-laki lebih mulia dari perempuan. Karena pemimpin setiap
laki-laki adalah Kristus. Dan pempin perempuan adalah laki-laki. Dan, pemimpin
Kristus adalah Allah. (1 Korintus 11: 3). Laki-laki dalam Bible dilarang
menutup kepalanya, karena itu merupakan citra (gambar) Allah dan kemuliaan-Nya.
sementara perempuan merupakan kemuliaan laki-laki. Laki-laki bukan berasal dari
perempuan, sebaliknya perempuan lah yang beasal dari laki-laki. Karena,
laki-laki tidak diciptakan untuk perempuan, namun perempuan lah yang diciptakan
untuk laki-laki. Lebih dari itu, ternyata perempuan dalam Bible merupakan
“warisan”. (Lukas 20: 29-35). Kalau begitu, apa “warisan” yang diterima oleh
perempuan dalam agama Kristen? Jika pun ada, apakah ada dalilnya secara
kitabiyyah (berdasarkan Alkitab)?
Al-Qur’an Menghargai Perempuan
Berbanding terbalik dengan Bible, Al-Qur’an sangat memulikan perempuan. Dari
sisi penciptaan, Hawa tidak dipangan sebagai bagian dari tulak rusuk Adam. Ia
sama-sama dari jiwa yang satu (nafs wÄḥidah). Dari keduanya (Adam dan Hawa)
Allah mengeluarkan banyak keturunan: laki-laki dan perempuan (QS: al-NisÄ’
(4): 1).
Al-Qur’an juga menyatakan bahwa laki-laki tidak lebih mulai dan lebih terhormat
daripada perempuan. Karena dalam Islam ukuran kemuliaan tidak dilihat dari
jenis kelamin (sex or gender), namun dari sisi ketakwaan. (Qs. al-ḤujurÄt
(49): 13). Laki-laki maupun perempuan yang bekerja (beramal), kata Allah, tetap
amalnya tidak disia-siakan sedikitpun (Qs. Ä€l ‘ImrÄn (3): 195). Lebih
dahsyat, di dalam Al-Qur’an malah Allah menjadikan kaum perempuan sebagai
contoh (matsal) bagi kaum beriman, yaitu: Ä€syiah istri Fir’aun dan Maryam
puteri ‘ImrÄn sekaligus ibunda nabi ‘ĪsÄ as. Ä€syiah karena keteguhan
imannya, di bawah tindasan laki-laki zalim dan durhaka kepada Allah. Sementara
Maryam adalah wanita suci: mampu menjaga kehormatan dirinya dengan membentengi
kemaluannya (Qs. al-Taḥrīm (66): 11-12). Di sini Allah menyebutkan kedua
wanita penting ini bukan sebagai contoh bagi perempuan saja, tapi bagi seluruh
kaum beriman, laki-laki dan perempuan.
Adam di dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai pelaku maksiat (tidak taat) kepada
Allah ketika dilarang mendekati pohon larangan. Namun karena digoda terus oleh
setan, Adam pun luluh dan mendekati pohon itu. Kemudian dia menjadi gologan
orang-orang yang zalim, terhadap dirinya sendiri. Akhirnya, dia beserta Hawa
plus iblis diturunkan dari surge (Qs. al-Baqarah (2): 35-36). Oleh karena itu
ketika Adam mohon ampun dan bertobat, Allah menerima tobatnya (Qs. al-Baqarah
(2): 37). Dalam ayat yang lain juga disebutkan hal yang sama: Adam yang
bermaksiat dan akhirnya disesatkan iblis. Namun lagi-lagi, karena Allah Maha
Adil dan Maha Kasih-sayang, tobat Adam diterima oleh Allah (Qs. ṬÄhÄ (20):
121-122).
Berbeda dengan Bible, yang mengatakan bahwa Hawa ‘pangkal’ dosa dan kesalahan.
Di sini saja Al-Qur’an sangat adil. tidak ada bias kepentingan dan pembelaan
terhadap Adam karena dia laki-laki dan dipandang sebagai citra dan image Allah.
justru di dalam Al-Qur’an, laki-laki bagian dari perempuan dan perempuan bagian
dari laki-laki. Saling-melengkapi dan saling tolong-menolong, saling
bela-membela, saling-mengisi, sehingga menjadi serasi dan harmoni (Qs.
al-Tawbah (9): 71). Dengan gambaran yang sangat indah, Allah menggambarkan
hubungan keduanya: perempuan kalian (istri) adalah pakaian kalian, dan kalian
(para suami) adalah pakaian bagi istri-istri kalian (Qs. al-Baqarah (2): 187).
Bahkan, dari sisi hak untuk berbicara, Allah memberikan hak bagi perempuan,
meskipun itu harus mendebat (Lihat, Qs. al-MujÄdilah (58): 1).
Dari sisi hubungan-perkawinan, laki-laki harus menghormati perempuan (istrinya)
karena ikatan-perkawinan antara-keduanya merupakan perjanjian yang kokoh
(mÄ«tsÄqan ghalīẓan, Qs. al-NisÄ’ (4): 21). Ikatan ini adalah ikatan dan
perjanjian fiá¹rah (kesucian) yang mengikat keduanya: janji untu
saling-mencintai (mawaddah), saling-menyayangi (raḥmah), dan saling-memberi
ketentraman (sakÄ«nah) (Lihat, Qs. al-AÊ»rÄf (7): 189 dan Qs. al-RÅ«m (30):
21).
Dari sisi warisan (mÄ«rÄts), kaum perempuan sangat dimuliakan di dalam
Al-Qur’an. Lebih istimewa lagi pembagian warisan itu disebutkan dalam SÅ«rat
Para Wanita (Sūrat al-NisĒ). Berbeda dengan iklim jahiliyyah ketika
Al-Qur’an belum diturunkan: perempuan tidak mendapat warisan, sebaliknya malah
diwariskan. (Lebih luas, lihat ‘Abd al-MutaÊ»Äl al-á¹¢aʻīdÄ«, al-MÄ«rÄts
fÄ« al-Syarīʻah al-IslÄmiyyah wa al-SyarÄ’iÊ» al-SamÄwiyyah wa
al-Waá¸Ê»iyyah (Kairo: al-Maá¹baÊ»ah al-MaḥmÅ«diyyah al-TijÄriyyah, cet.
II, 1352 H/1953 M. lihat juga, Syekh Aḥmad Muḥy al-DÄ«n al-‘AjÅ«z,
al-MÄ«rÄts al-‘Ä€dil fÄ« al-IslÄm bayna al-MawÄrÄ«ts al-QadÄ«mah wa
al-ḤadÄ«tsah wa MuqÄranatuhÄ maÊ»a al-SyarÄ’iÊ» al-UkhrÄ (Beirut:
Mu’assasah al-MaÊ»Ärif li al-ṬibÄÊ»ah wa al-Nasyr, cet. I, 1406 H/1986 M).
Sungguh, Al-Qur’an benar-benar memuliakan perempuan. Dan seharusnya perempuan
bangga ketika ada kitab suci yang mengormati dan menghargainya. Hal ini
demikian, karena Al-Qur’an bukan buatan manusia. Dia Firman Allah yang sakral.
Dan Allah pasti mengerti kebutuhan hamba-hamba-Nya, maka di dalam kitab-Nya Dia
lengkapi dengan ayat-ayat yang memang menyatu dengan kehidupan para hamba itu.
Karena Al-Qur’an memang untuk manusia (Qs. al-Baqarah (2): 185) yang membawa
seluruh manusia kepada kehidupan yang lebih baik (yahdī lillatī hiya aqwam,
Qs. al-IsrÄ’ (17): 9). WallÄhu aÊ»lamu bi al-á¹¢awÄb.*
Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan,
Sumatera Utara. Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Sumatera
Utara. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia: Study Kritis
Pemikiran Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme” (Jakarta: Cakrawala
Publishing, 1434 H/2012 M).
[Non-text portions of this message have been removed]