http://www.manadonews.com/berita/internasional/warga-miskin-hong-kong-tinggal-dalam-kandang.html

Warga Miskin Hong Kong Tinggal Dalam Kandang
Internasional | Jumat, 08 Februari 2013 | 18:48     96 kali     0 
Oleh : MN3, manadonews.com


Rumah bagi warga Hong Kong Yeung Ying Biu, 77, adalah kandang besi berukuran 
1,5 meter persegi. (AP/Vincent Yu)
Tingginya harga rumah dan biaya sewa di Hong Kong membuat warga miskin tinggal 
dalam kandang besi berukuran 1,5 meter persegi dalam satu apartemen. HONG KONG 
— Bagi banyak warga kaya di Hong Kong, salah satu kota termakmur di Asia, rumah 
adalah tempat tinggal mewah dengan pemandangan kota dari puncak Victoria Peak. 
Untuk warga termiskin seperti Leung Cho-yin, rumah adalah kandang besi.
Mantan tukang jagal berusia 67 tahun itu membayar 1.300 dolar Hong Kong 
(US$167) sebulan untuk tinggal dalam salam satu dari selusin ruangan mirip 
kandang kelinci dalam sebuah apartemen di daerah kumuh untuk kelas pekerja di 
West Kowloon. Kandang-kandang yang ditumpuk tersebut berukuran 1,5 meter 
persegi. Untuk mengusir kutu busuk, Leung dan teman sekamarnya menaruh bantal 
tipis, tikar bambu dan tutup lantai linolium di atas papan kayu sebagai 
pengganti kasur.

“Sudah sering digigit, sudah biasa,” ujar Leung, sambil memperlihatkan 
luka-luka gigitan di tangannya. “Tidak ada yang bisa dilakukan. Saya harus 
tinggal di sini. Saya harus bertahan,” ujarnya sambil terbatuk-batuk.

Sekitar 100.000 orang di bekas koloni Inggris itu tinggal dalam rumah yang 
tidak layak, menurut Masyarakat untuk Organisasi Komunitas, sebuah kelompok 
kesejahteraan sosial. Kategori rumah tak layak termasuk apartemen yang 
dibagi-bagi menjadi ruang-ruang sangat kecil atau berisikan kompartemen kayu 
dan logam sebesar peti mati, dan juga gubuk-gubuk di atas atap gedung.

Mereka terpaksa tinggal dalam tempat yang penuh sesak, kotor dan tidak aman 
tersebut karena harga perumahan yang selangit. Selama ini kemarahan publik 
telah meningkat karena krisis perumahan ini.

Eksekutif Kepala Hong Kong Leung Chun-ying yang menjabat sejak July telah 
berjanji menyediakan perumahan yang lebih terjangkau. Harga rumah naik 23 
persen pada 10 bulan pertama 2012 dan naik dua kali lipat sejak 2008 saat 
krisis keuangan global, menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF) bulan 
lalu. Harga sewa ikut melambung.

Biaya perumahan dipicu oleh kredit ringan berkat bunga yang sangat rendah dan 
tidak dapat dinaikkan oleh pembuat kebijakan karena mata uang terkait pada 
dolar. Uang yang mengalir dari daratan Tiongkok dan investor asing yang mencari 
keuntungan lebih besar turut meningkatkan harga.

Dalam pidato pelantikannya pada Januari, sang eksekutif kepala mengatakan 
ketidakmampuan kelas menengah untuk membeli rumah mengancam stabilitas sosial 
dan ia berjanji memprioritaskan penanganan kurangnya perumahan. Ia berencana 
meningkatkan persediaan perumahan umum dalam jangka menengah dari 15.000 
apartemen per tahun.

Komentarnya memperlihatkan perbedaan dari pendahulunya Donald Tsang, yang 
mengabaikan persoalan ini. Namun para wakil rakyat dan aktivis mencerca Leung 
karena kurangnya upaya untuk mendorong adanya perumahan dalam jangka pendek.

Sekitar 210.000 orang ada dalam daftar tunggu perumahan umum, atau naik dua 
kali lipat dari 2006. Sekitar sepertiga penduduk Hong Kong yang berjumlah 7,1 
juta tinggal di apartemen sewaan. Jika apartemen yang dibeli dengan subsidi 
pemerintah termasuk, maka angka itu naik hampir setengahnya.

Kemarahan akan harga perumahan ini menimbulkan banyaknya protes anti-pemerintah.

Legislator Frederick Fung mengingatkan masalah akan memburuk jika tidak 
diselesaikan. Ia membandingkan dampaknya pada orang miskin seperti eksperimen 
di laboratorium.

"Dalam percobaan di lab, kita memasukkan banyak tikus dalam sebuah kotak kecil, 
lalu mereka akan saling menggigit,” ujar Fung.

“Jika tempat tinggal sangat padat, orang akan tidak nyaman, putus asa dan marah 
pada pemerintah,” ujarnya.

Leung yang tinggal di rumah kandang mengatakan tidak yakin pemerintah dapat 
berbuat sesuatu untuk mengubah situasi orang sepertinya.

“Mereka selalu berbicara seperti ini. Apa masih ada harapan?” ujar Leung, yang 
telah tinggal di rumah kandang sejak berhenti bekerja di pasar karena satu 
jarinya terpotong 20 tahun yang lalu. Dengan latar belakang pendidikan hanya 
sampai SMP, ia hanya bisa bekerja serabutan. Ia tidak mendaftar perumahan 
publik karena tidak ingin meninggalkan teman-teman sekamar dan sepertinya akan 
menghabiskan sisa hidup di kandang.

Penghasilannya hanya sekitar $515 dari bantuan pemerintah tiap bulan. Setelah 
dipotong sewa, sisanya hanya $11,6 sehari.

Leung dan teman-teman sekamarnya, semua lajang berusia lanjut, mencuci baju di 
dalam ember. Fasilitas kamar mandi hanya toilet jongkok yang berfungsi sebagai 
tempat mandi juga. Tidak ada dapur, hanya ruangan kecil dengan bak cuci.

Meski rumah kandang, yang muncul pada 1950an untuk para pria lajang yang datang 
dari daratan Tiongkok, semakin jarang, tipe rumah tak layak lainnya, seperti 
apartemen berbilik-bilik meningkat jumlahnya karena banyak keluarga yang jatuh 
miskin.

Hampir 1,19 juta orang hidup dalam kemiskinan dalam paruh pertama tahun lalu, 
meningkat dari 1,15 juta pada 2011, menurut data kantor pelayanan sosial. Tidak 
ada standar garis kemiskinan yang resmi, namun biasanya didefinisikan oleh 
setengah rata-rata kota yaitu HK$12.000 ($1.550) per bulan.

Banyak warga miskin telah mendaftar untuk mendapatkan perumahan umum, tapi 
menunggu bertahun-tahun tanpa hasil. Hampir tiga perempat dari 500 keluarga 
berpenghasilan rendah yang disurvei oleh Oxfam Hong Kong baru-baru ini ada 
dalam daftar tungu selama lebih dari empat tahun tanpa ditawari apartemen.  
(AP/Kelvin Chan)(voa)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke