http://www.hidayatullah.com/read/26656/05/01/2013/menjadi-wanita-%E2%80%98kafir%E2%80%99-tanpa-sadar.html

Menjadi Wanita ‘Kafir’ Tanpa Sadar 


       
      Pasangan suami-istri Australia.Foto: Nicole Pierce/Flikcr  
     
     
Sabtu, 05 Januari 2013 


Oleh: Abu Hudzaifah


DALAM sebuah redaksi hadits disebutkan ada sosok wanita yang memiliki sifat, 
“yakfurnal ‘asyir” (kafir kepada suami, maksudnya mengingkari kebaikan suami). 
Tentu saja bagi sebagian wanita, tentu tidak akan terima bila judul di atas 
disematkan pada dirinya. 
Di saat hatinya senang dan ‘nyaman’ kepada suaminya, seorang istri akan 
memandang suaminya sebagai sosok yang baik dan ‘sempurna’. Tanpa cacat dan 
kekurangan. Di saat laju rumah tangga stabil tanpa alang rintangan yang 
berarti, seorang istri biasanya akan terngiang terus akan kebaikan-kebaikan 
sang suami.

Berbeda kondisinya manakala perasaan dan hati sang istri tertutupi oleh 
kekurangnyamanan dan tidakketidaksukaan kepada suami, maka segala bentuk 
kekurangan dan kekhilafan sang suami nampak nyata di depan mata. Dalam 
pandangannya, sang suami tak pernah melakukan kebaikan sama sekali pada 
dirinya. Seakan-akan sang suami selama ini hanya sebatas ‘produsen’ keburukan 
tanpa henti. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana hari-hari berjalan tanpa ada 
senyum dan sapa di antara keduanya.

Kisah Khaizuran berikut ini mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi setiap 
wanita agar tidak terjerumus kepada kufur nikmat terhadap suami. Khaizuran 
adalah seorang budak wanita yang dibeli oleh Khalifah Al-Mahdi dari An-Nukhas. 
Beliau memerdekakannya lalu menikahinya. Beliau juga memenuhi segala 
kebutuhannya. Namun, setiap kali Khaizuran marah kepada beliau, ia selalu saja 
berucap di hadapannya, “Aku tidak pernah melihatmu berbuat baik sama sekali!”

Kisah senada juga dilakukan oleh Al-Barmakiyah, seorang budak wanita. Ia dibeli 
oleh Al-Mu’atamid bin ‘Ubad, seorang raja Maroko, dan menjadikan seorang 
permaisuri. Ketika Al-Barmakiyah menyaksikan anak-anak perempuan bermain pasir, 
maka ia teringat masa kecil.

Lalu, ia tertarik untuk bermain pasir seperti mereka. Maka, sang raja pun 
memerintahkan untuk mendatangkan minyak wangi yang tak terkira jumlahnya yang 
serupa dengan pasir. Ia pun senang dan bermain dengannya. Namun, ketika ia 
merasa marah kepada sang raja, serta merta ia berujar, “Sungguh, aku belum 
pernah melihat kabaikanmu secuil pun!” Sang raja pun tersenyum dan menyela, 
“Apakah juga pada saat engkau bermain pasir (maksudnya saat ia bermain minyak 
wangi sebagaimana ia bermain pasir)?” Maka, ia pun merasa malu mendengar ucapan 
tersebut.

Tabiat mayoritas wanita adalah melupakan kebaikan di saat pasangannya melakukan 
kekhilafan atau terdapat kekurangan padanya. Seakan-akan kebaikan suami yang 
sedemikian banyak dan besar tertutupi oleh kekurangan dan kekhilafan yang tak 
seberapa yang dilakukan oleh suami. Kemesraan saat bulan madu bisa jadi sirna 
oleh kekhilafan suami yang mungkin dapat dihutung dengan jari. Jerih payah 
suami seakan-akan menguap bigutu saja tanpa membekas sedikit pun di saat suami 
melakukan kesalahan yang tak seberapa.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam telah 
mewanti-wanti kaum wanita dari perilaku seperti ini. Dari Ibnu Abbas, ia 
berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda, “Diperlihatkan neraka 
kepadaku, dan ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita lantaran mereka 
berbuat kufur.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” 
Beliau bersabda:

يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى 
إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ 
خَيْرًا قَطُّ

“Mereka kufur kepada suami dan mengingkari kebaikan. Sekiranya engkau berbuat 
baik kepada salah seorang dari mereka selama satu tahun, lalu ia melihat suatu 
keburukan padamu, tentu ia akan berkata, ‘Aku belum pernah melihat satu 
kebaikan pun pada dirimu.” (HR. Bukhari).

Bila engkau menyaksikan istrimu memiliki tabiat seperti itu, maka tak perlu 
cemas dan bersedih hati. Yakinlah, bahwa kebaikan-kabaikan yang sedemikian 
banyak tak kan pernah sia-sia, manakala engkau lakukan ikhlas karena mengharap 
ridha Allah. Sekiranya istrimu memungkiri kebaikanmu, yakinlah bahwa Allah Yang 
Maha Kuasa mengetahui dan mencatatatnya.

Kepada para wanita yang masih memendam karakter seperti di atas, penilaianmu 
terhadap suaminya seperti itu tak akan membuahkan apa-apa selain bertambah 
kuatnya rasa bencimu kepada pasanganmu dan itu tak dapat memberikan solusi 
untuk memperbaiki kesalahan dan kekhilafan suamimu. Berpikir dan berilah 
penilaian secara obyektif. Tak ada manusia yang sempurna. Semoga nasihat 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam di atas mampu memberikan suntikan 
motifasi bagimu untuk senantiasa menjadi istri yang bersyukur dan pandai 
mengelola perasaannya. Wallahu a’lam.*

Penulis pemerhati masalah parenting dan penulis buku-buku keluarga. Kini 
tinggal di Solo, Jawa Tengah


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke