http://www.metrotvnews.com/front/view/2013/02/12/1415/Angkutan-Umum-Jakarta-Menakutkan/tajuk

Angkutan Umum Jakarta Menakutkan
Metro View | Selasa, 12 Februari 2013 WIB
 
Suryopratomo 

NASIB tragis yang dialami mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas 
Indonesia, Annisa Azwar menunjukkan betapa menakutkannya angkutan umum di 
Jakarta. Hanya karena khawatir akan kejahatan yang dialami, Annisa memilih 
melompat dari kendaraan umum yang ia tumpangi dan akibatnya kemudian meninggal 
dunia karena luka-luka yang dialami.

Sejauh ini memang belum diketahui secara jelas, apa yang menyebabkan Annisa 
memilih untuk melompat keluar dari mikrolet yang ia tumpangi? Apakah itu 
disebabkan oleh supir yang tidak mau berhenti meski sudah diminta berhenti atau 
ketakutan yang amat sangat sehingga membuat dirinya mengambil tindakan yang 
berisiko?

Polisi menahan supir mikrolet karena dianggap lalai, tidak memberikan rasa aman 
kepada penumpangnya dan menyebabkan kematian. Namun Jamal, sang sopir, 
menyangkal membuat takut Annisa dan tidak tahu bahwa penumpang akan melakukan 
tindakan yang berbahaya. Buktinya, ialah yang mengantarkan korban untuk 
mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Kita berikan kesempatan kepada polisi untuk mengumpulkan semua fakta berkaitan 
dengan tindakan tragis itu. Masalahnya memang hanya Jamal dan Annisa yang 
berada dalam kendaraan ketika peristiwa itu terjadi. Tidak ada saksi mata yang 
berada di dalam angkutan kota itu.

Peristiwa nahas yang dialami Annisa menunjukkan betapa membingungkannya 
angkutan umum yang ada di Jakarta. Begitu tidak jelasnya, membuat orang menjadi 
takut, apalagi serangkaian kejahatan di angkutan kota sering terjadi 
akhir-akhir ini.

Jangankan orang yang baru pertama kali datang ke Jakarta, kita yang sudah lama 
tinggal di Jakarta pun sering bingung ketika harus bepergian dengan angkutan 
umum. Nyaris tidak ada informasi yang bisa didapatkan orang ketika ingin 
menggunakan angkutan umum.

Padahal sebagai kota metropolitan, seharusnya tersebar banyak pusat-pusat 
informasi yang bisa memberikan petunjuk bagi orang yang butuh bantuan. Atau 
setidaknya di halte-halte pemberhentian bus seharusnya ada petunjuk tentang 
rute-rute angkutan umum. Ironisnya, di Jakarta halte-halte itu jumlahnya sangat 
terbatas.

Kebingungan yang dialami penumpang akan semakin bertambah melihat moda yang 
tersedia. Ada yang namanya bajaj, kancil, angkutan kota, mikrolet, metromini, 
kopaja, bus kota, TransJakarta. Semua itu kadang-kadang saling bertumpuk.

Kengerian semakin bertambah, jika kita melihat fasilitas yang tersedia di 
angkutan umum. Selain tempat duduk yang tidak nyaman dan saling 
berdesak-desakan, perilaku pengemudinya pun seringkali begitu ugal-ugalan.

Tidak jelasnya hubungan antara pengemudi dan pemilik kendaraan, membuat sopir 
tidak memiliki rasa tanggung jawab. Padahal ketika ia memberikan jasa dan 
mengangkut penumpang pada kendaraannya, berarti ada tanggung jawab yang melekat 
terhadap keselamatan para penumpang.

Bahkan sekarang ini ada sopir-sopir yang juga menjadi penjahat. Mereka bukan 
hanya merampok para penumpangnya, tetapi bahkan memerkosa. Begitu banyak 
kejadian pemerkosaan yang dilakukan sopir dan kawan-kawannya terhadap penumpang 
kendaraan umum.

Terhadap serangkaian kejahatan yang terjadi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 
pernah membuat aturan bahwa sopir harus menggunakan seragam. Bahkan dibuat 
aturan bahwa angkutan umum dilarang untuk menggunakan kaca yang gelap.

Namun semua aturan tersebut ternyata tidak berjalan. Sopir-sopir menentang 
untuk menggunakan seragam. Mereka ingin mendapatkan kebebasan dan tidak mau 
diatur-atur.

Sekali lagi ketika berkaitan dengan kepentingan orang banyak, tidak bisa tidak 
harus dibuat aturan. Di alam demokrasi, negeri ini harus menjadi lebih teratur. 
Tidak bisa atas nama kebebasan, lalu boleh ada ketidakaturan, boleh ada 
ketidaktertiban.

Jakarta harus menjadi contoh kota yang beradab. Hal itu harus tercermin dalam 
penataan kota, baik dalam hal berlalu lintas maupun penyediaan angkutan 
kotanya. Tidak bisa ibu kota negara dibiarkan seperti hutan belantara yang 
menakutkan seperti sekarang ini.

Nasib tragis yang dialami Annisa Azwar seharusnya membuka mata Gubernur Joko 
Widodo bahwa harus segera ada langkah untuk menata angkutan umum di Jakarta. 
Jangan biarkan ketakutan menghinggapi warganya, sehingga memilih untuk 
melakukan tindakan berbahaya daripada menjadi korban kejahatan di angkutan umum.

Para pemilik angkutan umum dan sopir angkutan umum harus mau berbenah diri. 
Mereka harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukan hanya sekadar 
menjalankan bisnis untuk keperluan makan, tetapi mereka memberikan jasa bagi 
kebaikan orang banyak


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke