http://www.hidayatullah.com/read/27316/18/02/2013/tayangan-%E2%80%9Cberdarah-yahudi,-bernafas-indonesia%E2%80%9D-yang-dianggap-meresahkan-itu.html
Tayangan “Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia” yang Dianggap Meresahkan Itu
Benyamin Ketang dalam tayangan Metro
Senin, 18 Februari 2013
Hidayatullah.com—Setelah pernah dinilai meresahkan aktivis Kerohanian Islam
(Rohis) karena tayangan "Metro Hari Ini" pada 15 September 2012 pukul 18.00 WIB
dalam dialog “Awas, Generasi Baru Teroris!”, kini Metro dinilai meresahkan
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dalam tayangan INSIDE edisi
“Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia” edisi Kamis, 14 Februari 2013.
Tayangan berdurasi 5 menit 36 detik yang ditulis Monique Rijkers menggambarkan
komunitas Yahudi di Indonesia.
Hanya saja, tayangan ini dirasa mengganggu setelah adanya visualisasi beberapa
organisasi massa Islam yang ditampilkan dalam program ini. Misalnya, di 20
detik pertama, dengan sangat jelas digambarkan aksi massa KAMMI sedang
berdemonstrasi yang diakhiri pembakaran replika bendera Yahudi, Bintang Davis.
Pada 20 detik selanjutnya, menyusul aksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga melakukan aksi anti Yahudi.
Memang tak ada pernyataan KAMMI, PKS, HTI atau ormas-ormas Islam lainnya. Hanya
saja, saat visualiasi, ikut diselipkan istilah massa intoleran dan anti Semit
(anti Yahudi). “Di Indonesia masih banyak sikap anti semit,” demikian ulasan
Metro.
Dalam ulasan itu Metro juga mengakui memang Indonesia tak punya hubungan
diplomatik dengan Israel dan tak mengakui negeri Yahudi tersebut, namun menurut
televisi ini, usaha mendekatkan dengan Yahudi itu sudah lama dimulai di jaman
Gus Dur.
"Tetapi di era Gus Dur (Abdurrahman Wahid, red) kedekatan dengan Israel
terjalin. Bahkan Gus Dur bersahabat dekat dengan keturunan Yahudi. Sementara
dalam hubungan ekonomi, meski tidak resmi, hubungan dagang kerap berlangsung,"
ujar Metro. Media ini juga menyebut kedatangan George Soros yang pernah menemui
Presiden Susilo B Yudhoyono.
George Soros, adalah miliarder Yahudi berkebangsaan AS yang pernah mengantar
Indonesia bersama sejumlah negara lainnya ke lembah kelam bernama krisis
moneter tahun 1997/1998.
Menurut Metro, komunitas Yahudi di Indonesia kini bahkan makin meningkat,
khususnya di kalangan penganut Kristen. Ini ditandangi program-program
perjalanan ruhani ke Yerussalem. Selain program-program tersebut, salah satu
bukti banyaknya komunitas Yahudi di Indonesia, masih menurut Metro adanya
menorah Yahudi terbesar di dunia yang ada di Manado.
"Kenapa kita harus menyangkal jati diri kita hanya karena Indonesia tak punya
hubungan diplomatik. Saya kira Indonesia kan negara demokratis, " ujar Fred
Resley, seorang keturunan Yahudi saat diwancarai Metro.
Dalam ulasannya Metro juga mengutip dokumentasi hasil wawancara Benyamin
Ketang, penganut Yahudi asal Jember Jawa Timur yang juga pendiri Direktur
Eksekutif Indonesia - Israel Public Affairs Comitte (IIPAC). Dalam tayangan
tersebut, Ketang mengatakan pentingnya Indonesia berhubungan dengan Israel.
"Indonensia akan lebih perkasa jika membangun hubungan diplomatik dengan
Israel, " ujar Ketang dalam tayangan 'Kontroversi HUT Israel' dikutip Metro.
Liputan ditutup dengan sholawat Kiai Kanjeng yang dimotori Cak Nun (Emha Ainun
Nadjib, red) dalam bahasa Ibrani berjudul “Shalom Aleichem”.
"Sesungguhnya, sikap anti Israel menghilang seiring dengan semakin terbukanya
warga Indonesia dengan negara Yahudi itu, “ tutup Metro.
Inilah yang rupanya diberatkan KAMMI. Menurut KAMMI, dalam tayangan tersebut,
jelas-jelas lebih dominan membela Yahudi tanpa ada pembanding sama sekali.
“Bisa dikatakan, 70:30 pro Yahudi tanpa pengimbang. Bahkan di ending cerita,
justru Benyamin Ketang diposisikan penting dengan menutup kalimat pentingnya
Indonesia berhubungan dengan Israel,” ujar Inggra Saputra, Humas KAMMI Pusat.*
Rep: Panji Islam
Red: Cholis Akbar
[Non-text portions of this message have been removed]