----- Original Message -----
From: ASAHAN
To: AKSARA SASTRA
Sent: Tuesday, February 12, 2013 12:20 AM
Subject: [aksarasastra] TANPA JUDUL
ASAHAN:
TANPA JUDUL
Almarhum Umar Khayam pengarang Indonesia terkenal dalam sebuah bukunya
pernah menulis bahwa katanaya dia memimpikan untuk suatu waktu yang masih lama
bangsaku (maksudnya bangsa Indonesia) akan bisa membaca roman/novel yang
tebal-tebal. Impian Umar Khayam masih tetap sebuah impian yang entah kapan akan
menjadi kenyataan. Semua orang tahu bahwa sebuah novel yang tebal, orang akan
menemukan banyak hal yang bertele-tele yang bisa menjemukan dan lelah
membacnya dan mudah melemparkan buku ke tong sampah sambil menggerutu. Hal itu
terjadi pula pada diri saya. Hanya saja saya tidak melemparkannya ke tong
sampah karna buku-buku di Belanda termasuk barang mewah dan mahal harganya. Dan
juga rasa jemu bisa saya tahan dan atasi karna kecintaan saya pada sastra dan
bacaan. Dan sungguh ironis, cukup banyak pengarang dunia yang telah meraih
hadiah nobel, buku-bukunya yang tebal-tebal sering sekali membosankan karna
bertele-tele. Toh selalu saya baca hingga tamat dan selesai dan cukup banyak
yang saya nikmati dan belajar darinya disamping saya juga bosan, kesal dan juga
sambil mengantuk hingga tertidur. Apakah sastra tinggi itu selalu begitu?. Saya
membaca Maquez, Llosa, Gunther Grass, Mo Yan, Neruda dll yang semuanya peraih
hadiah nobel sastra tapi bagian-bagian yang membosankan dan saya anggap
bertele-tele ada pada semua pengarang hebat tsb. Saya sendiri menulis novel dan
roman dan diantaranya ada yang hampir 500 halaman ("Perang dan Kembang",
"Alhamdulillah") tebalnya. Ajip Rosidi, editor dan panerbit buku saya"Perang
dan Kembang"ketika masih naksah, memangkas (menghabisi) lebih dari seratus
halaman yang bila tidak, novel saya itu akan mencapai hingga lebih 600 halaman.
Katanya terlalu banyak bertele-tele dan saya harus puas dengan 484 halaman saja
yang sudah dalam bentuk roman atau buku. Secara prinsip, "bertele-tele"dalam
penulisan sebuah novel adalah biasa karena sebuah roman atau novel bukanlah
cerita pendek, tapi cerita panjang, sepanjang yang dimaui oleh penulisnya. Dan
ketika saya membacai karya-karya penulis besar kaliber dunia, saya temukan
elemen "bertele-tele" atau "berketiak ular" itu tidak digangu gugat oleh para
editor mereka, dibiarkan hingga buku-buku mereka tebal mencapai hingga lebih
dari 500 halaman bahkan hingga hampir seribu halaman. Tapi saya tetap tidak
kapok-kapok membelinya dan membacanya hingga selesai meskipun selalu dengan
umpatan disamping kepuasan dan kenikmatan. Apakah kepuasan membaca itu semacam
orgasme?. Ada bagaian-bagian yang membosankan dan melelahkan tapi ahirnya
orgasme itu tercapai juga.
Saya tidak suka baca buku tebal tapi selalu siap membacanya dan saya juga
menulis novel yang cukup tebal. Itu sebuah paradox untuk saya. Pengarang
almarhum Subagio Sastrowardoyo dalam essaynya pernah menulis bahwa sastra itu
adalah sebuah pelanturan (bertele-tele) karenanya menurut Subagio, wanita
adalah yang paling berbakat dalam mengarang karna mereka punya bakat melantur
lebih besar darpipada laki-laki. Saya juga membaca Jung chang, dan banyak
pengarang Tiongkok lainnya dan juga membaca novel N.H. Dini dll dan ternyata
apa yang dikatakan Subagio klop sepenuhnya. Pengarang wanita adalah kampiun
penulis prosa panjang atau novel. Barangkali N.H. Dini adalah kampiun
bertele-tele dalam menulis novel yang tak ada bandingannya di Indonesia. Dia
bertele tele sampai-sampai katanya orang komunis tidak bisa bercinta, tidak
bisa jadi suami yang baik karena isinya politik melulu, tidak romantis dan
laki-laki kaku yang tak ada bandingannya di dunia ini. Apakah bertele-tele cara
begini tidak menarik? Saya sendiri sangat tertarik. Jadi bertele tele tidak
selalu adalah membosankan dan tidak berguna, omong kosong, berketiak ular yang
hanya membikin pembaca marah dan tidak mencapai orgasme. Untuk mendapatkan
beberpa gram emas orang harus menggali berton-ton tanah, lalu disiram dengan
air, lalu diayak sambil membuang tanah dengan mengeluarkan tenaga yang tak
terhingga besarnya. Begitu pula agaknya dalam sastra bernilai. Para pengarang
tidak dengan serta merta menawarkan emas atau orgasme seketika. Mereka menuntut
kesabaran dan keuletan dari pembacanya. Seni sering-sering menuntut upacara,
ceremoni, basa basi, diplomasi yang berputar putar sebelum menunjukkan intinya.
Hal ini juga membedakan antara tulisan nyang bernilai sastra dan tulisan biasa,
membedakan antara yang serius dan main-main, membedakan antara yang berat dan
ringan, omong kosong dan pemikiran. Ingin cepat enak dan selesai, itu tidak
terdapat dalam sastra.
ASAHAN.
[Non-text portions of this message have been removed]