----- Original Message ----- 
From: ASAHAN 
Sent: Wednesday, February 13, 2013 8:48 PM
Subject:  Re: TANPA JUDUL

Hallo, May Swan. Terima kasih atas tanggapan dan juga sumbangan pengalaman 
pribadi dalam membaca buku-buku tebal. Meskipun saya sendiri tidak begitu suka 
membaca buku-buku tebal karena alasan bertele-tele tapi dalam praktek kehidupan 
saya sendiri, ternyata justru yang tebal-tebal itulah yang menyerbu saya lebih 
banyak. Alasannya a.l. karena dulu ketika masih bersekolah di jurusan sastra, 
buku-buku wajib yang harus dibaca pada umumnya tebal-tebal termasuk umpamanya 
bukunya Tolstoy "Perang dan damai" itu. Lalu diluar yang wajib-wajib itu, 
hasil-hasil karya sastra  dunia yang pada umumnya berupa buku-buku tebal 
lainnya yang mau tidak mau bila ingin menikmatinya atau mengetahuinya adalah 
dengan cara membacanya. Beruntung karena saya ditolong dan juga punya hobby 
yang begitu-begiuan itu. Belakangan saya menyedari bahwa "bertele-tele"itu 
adalah juga kehidupan, kehidupan manusia karena manusia hidup di tengah-tengah 
materi dan peristiwa-peristiwa kehidupannya yang tak terhingga banyaknya. 
Banyak ilmu yang bisa kita gali darinya. Meskipun bertele-tele itu adalah juga 
sampah kehidupan, tapi kita tak bisa terlepas darinya, meskipun kita buang 
setiap hari tapi tak pernah habis-habisnya. Lantas mengapa tidak didaur ulang 
untuk kembali kita pakai bila masih berguna. Para pengarang besar pandai 
mengumpulkan sampah-sampah kehidupan itu yang kita katakan bertele-tele, tetek 
bengek, panjang lebar, berketiak ular, ngalor ngidul tak tahu hutan rimbanya. 
Saya baru saja bebas dari siksaan Mo Jan dengan "Wijn Republiek"nya yang cukup 
tebal dan juga super bertele-tele tapi menakjubkan. Sekarang kembali jatuh ke 
tangan juru siksa yang lain lagi yaitu Gunter Grass dengan "De blikken 
trommel"nya yang lebih dari 500 halaman. Bayangkan saya harus mengikuti jalan 
pikiran seorang anak cacad rohani dengan tindakannnya yang aneh...menabuh 
tambur seumur hidupnya, yang punya dua ayah dari seorang ibu, yang punya 
seorang paman yang berselingkuh dengan ibunya, yang punya suara yang bisa 
memecahkan kaca, yang punya tubuh seorang anak berusia tiga tahun tapi tak 
pernah tumbuh lagi...singkat kata mengingatkan kita pada ciri-ciri pengidap 
autisme dan itu dikisahkan  dengan sangat bertele-tele, sangat mendetail dengan 
penggambaran yang sangat lambat bergaya slow motion,  singkat kata bukan  main 
menjemukannya, tapi sudah tak mungkin saya lepaskan untuk membacanya hingga 
tamat. Gunter Grass seorang pengarang hebat, ia seorang pelukis gerak manusia, 
gerak benda, gerak peristiwa dan bahkan benda-benda tak bergerak hingga jiwa 
manusia dengan ketajaman  yang luar biasa. Kalau dia tidak bertele-tele, 
mungkin bukunya yang setebal lebih 500 halaman itu bisa disingkat menjadi 
sebuah cerpen sepanjang dua halaman saja.Tanpa sampah kata tidak akan lahir 
sebuah karya sastra. Dan para pengaranglah pengumpul sampah-sampah demikian 
sedangkan para pembaca membuangnya setelah mendaur ulang dan mengambil inti 
yang mereka perlukan. Kita manusia adalah pemakan sampah yang paling lahap dan 
setelah sampah yang kita makan itu dicernakan oleh perut barulah kita buang 
kembali dan karenanya kita sehat dan tetap hidup.
Salam, 
asahan.


  ----- Original Message ----- 
  From: MAY SWAN 
  Cc: ASAHAN 
  Sent: Monday, February 11, 2013 3:51 AM
  Subject: Re: TANPA JUDUL


  Ya, saya dapat mengerti apa yang Bung Asahan maksud dalam post “TANPA JUDUL”.

  Saya juga tidak jarang membaca buku yang tebalnya sekitar 600an hingga 700an 
lembar. Hanya umumnya sebelum membeli / membaca sudah saya cari tahu mengenai 
isi bahannya di internet, maka ketika membaca sudah sedikit banyak ada 
gambaran. Tentunya yang saya pilih adalah yang selaras dengan selera saya. Dan 
hasilnya sangat menarik bagi saya, kalau bisa ingin terus membaca hingga habis, 
sedikitpun tidak merasa bosan. Buku buku itu antara lain: “Tanamera” oleh Noel 
Barber, “A Woman of Cairo” juga oleh Noel Barber, “Mao’s Last Dancer” oleh Li 
Cunxin, “Wild Swans” by Jung Chang, “The Hope” oleh Herman Wouk. Terkecuali 
“The Count of Monte Cristo” oleh Alexandre Dumas, karena pada masa itu belum 
ada internet. Buku Alexandre Dumas pemberian seorang teman ayah, sangat tebal 
berseries pula, terjemahan dalam bhs Inggeris ini saya baca puluhan tahun yll 
ketika masih berusia lima belas tahun. Waah asyik sekali. Detailnya saya sudah 
banyak lupa, tapi kesan seluruhnya masih dapat saya rasakan: Fantastik! 

  Seperti apa yang Bung Asahan uraikan, kwalitas sebuah novel tidak ditentukan 
oleh tebal tipisnya buku. “Night” misalnya, karya Elie Wiesel hanya sekitar 100 
halaman, namun demikian menarik mencekam perasaan, mengemukakan secara jujur 
dan mendalam perkembangan internal conflict, emosi individu ketika menghadapi 
kekerasan yang berkepanjangan. Terasa bagaikan menanjak gunung api penuh duri 
setapak demi setapak tanpa sepatu, sehingga buku selanjutnya “Dawn” dan “Day” 
tidak saya ikuti lagi. Tidak mampu menahan perasaan menyaksikan dari dekat 
kebrutalan manusia terhadap manusia lainnya.

  Terima kasih atas perhatiannya,
  May Swan.

  From: ASAHAN 
  Sent: Tuesday, February 12, 2013 7:28 AM
  Subject: TANPA JUDUL
    

  ASAHAN:

                  TANPA JUDUL

       Almarhum Umar Khayam pengarang Indonesia terkenal dalam sebuah bukunya 
pernah menulis bahwa katanaya dia memimpikan untuk suatu waktu yang masih lama 
bangsaku (maksudnya bangsa Indonesia) akan bisa membaca roman/novel yang 
tebal-tebal. Impian Umar Khayam masih tetap sebuah impian yang entah kapan akan 
menjadi kenyataan. Semua orang tahu bahwa sebuah novel yang tebal, orang akan 
menemukan  banyak hal yang bertele-tele yang bisa menjemukan dan lelah 
membacnya dan mudah melemparkan buku  ke tong sampah sambil menggerutu. Hal itu 
terjadi pula pada diri saya. Hanya saja saya tidak melemparkannya ke tong 
sampah karna buku-buku di Belanda termasuk barang mewah dan mahal harganya. Dan 
juga rasa jemu bisa saya tahan dan atasi karna kecintaan saya pada sastra dan 
bacaan. Dan sungguh ironis, cukup banyak pengarang dunia yang telah meraih 
hadiah nobel, buku-bukunya yang tebal-tebal sering sekali membosankan karna 
bertele-tele. Toh selalu saya baca hingga tamat dan selesai dan cukup banyak 
yang saya nikmati dan belajar darinya disamping saya juga bosan, kesal dan juga 
sambil mengantuk hingga tertidur. Apakah sastra tinggi itu selalu begitu?. Saya 
membaca Maquez, Llosa, Gunther Grass, Mo Yan, Neruda dll yang semuanya peraih 
hadiah nobel sastra tapi bagian-bagian yang membosankan dan saya anggap 
bertele-tele ada pada semua pengarang hebat tsb. Saya sendiri menulis novel dan 
roman dan diantaranya ada yang hampir 500 halaman ("Perang dan Kembang", 
"Alhamdulillah") tebalnya. Ajip Rosidi, editor dan panerbit buku saya"Perang 
dan Kembang"ketika masih naksah, memangkas (menghabisi) lebih dari seratus 
halaman yang bila tidak, novel saya itu akan mencapai hingga lebih 600 halaman. 
Katanya terlalu banyak bertele-tele dan saya harus puas dengan 484 halaman saja 
yang sudah dalam bentuk roman atau buku. Secara prinsip, "bertele-tele"dalam 
penulisan sebuah novel adalah biasa karena sebuah roman atau novel bukanlah 
cerita pendek, tapi cerita panjang, sepanjang yang dimaui oleh penulisnya. Dan 
ketika  saya membacai karya-karya penulis besar kaliber  dunia, saya temukan 
elemen "bertele-tele" atau "berketiak ular" itu tidak digangu gugat oleh para 
editor mereka, dibiarkan hingga buku-buku mereka tebal mencapai hingga lebih 
dari 500 halaman bahkan hingga hampir seribu halaman. Tapi saya tetap tidak 
kapok-kapok membelinya dan membacanya hingga selesai meskipun selalu dengan 
umpatan disamping kepuasan dan kenikmatan. Apakah kepuasan membaca itu semacam 
orgasme?. Ada bagaian-bagian yang membosankan dan melelahkan tapi ahirnya 
orgasme itu tercapai juga.

  Saya tidak suka baca buku tebal tapi selalu siap membacanya dan saya juga 
menulis novel yang cukup tebal. Itu sebuah paradox untuk saya. Pengarang 
almarhum Subagio Sastrowardoyo dalam essaynya pernah menulis bahwa sastra itu 
adalah sebuah pelanturan (bertele-tele) karenanya menurut Subagio, wanita 
adalah yang paling berbakat dalam mengarang karna mereka punya bakat melantur 
lebih besar darpipada laki-laki. Saya juga membaca Jung chang, dan banyak 
pengarang Tiongkok lainnya dan juga membaca novel N.H. Dini dll dan ternyata 
apa yang dikatakan Subagio klop sepenuhnya. Pengarang wanita adalah kampiun 
penulis prosa panjang atau novel. Barangkali N.H. Dini adalah kampiun 
bertele-tele dalam menulis novel yang tak ada bandingannya di Indonesia. Dia 
bertele tele sampai-sampai katanya orang komunis tidak bisa bercinta, tidak 
bisa jadi suami yang baik karena isinya politik melulu, tidak romantis dan 
laki-laki kaku yang tak ada bandingannya di dunia ini. Apakah bertele-tele cara 
begini tidak menarik? Saya sendiri sangat tertarik. Jadi bertele tele tidak 
selalu adalah membosankan dan tidak berguna, omong kosong, berketiak ular yang 
hanya membikin pembaca marah dan tidak mencapai orgasme. Untuk mendapatkan 
beberpa gram emas orang harus menggali berton-ton tanah, lalu disiram dengan 
air, lalu diayak sambil membuang tanah  dengan mengeluarkan tenaga yang tak 
terhingga besarnya. Begitu pula agaknya dalam sastra bernilai. Para pengarang 
tidak dengan serta merta menawarkan emas atau orgasme seketika. Mereka menuntut 
kesabaran dan keuletan dari pembacanya. Seni sering-sering menuntut upacara, 
ceremoni, basa basi, diplomasi yang berputar putar sebelum menunjukkan intinya. 
Hal ini juga membedakan antara tulisan nyang bernilai sastra dan tulisan biasa, 
membedakan antara yang serius dan main-main, membedakan antara yang berat dan 
ringan, omong kosong dan pemikiran. Ingin  cepat enak dan selesai, itu tidak 
terdapat dalam sastra.
  ASAHAN.


------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income 
http://profitclickincome.blogspot.com/

NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke