http://www.gatra.com/hukum/25021-anas-bayi-haram-demokrat.html

Anas Bayi "Haram" Demokrat 
  Sabtu, 23 Februari 2013 17:16 

 
Anas Urbaningrum saat mengumumkan undur diri sebagai Ketua Umum Partai Demokrat 
(ANTARA/Dhoni Setiawan)
Jakarta, GATRAnews - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum 
mengungkapkan, dirinya bukanlah Ketua Umum yang diinginkan oleh petinggi partai 
ini, meski jajaran bawah memilihnya pada kongres di Bandung, Jawa Barat, 
beberapa tahun lalu. 
"Intinya dari kongres itu, ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi yang lahir 
tidak diharapkan," ungkap Anas pada konferensi pers pengunduran dirinya di DPP 
Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Sabtu, (23/2).

Anas mengungkapkan, kemenangannya di kongres Partai Demokrat beberapa tahun 
lalu di Bandung, Jawa Barat itu, tidak diharapkan oleh ssejumlah petinggi 
partai, meski agar rumput mempercayainya untuk mendapuk ketua umum.

Penolakan itu dirasakannya selama 2,5 tahun memimpin partai. "Tentu 
rangkaiannya menjadi panjang dan rangkaian itu saya rasakan, saya alami, dan 
menjadi rangkaian peristiwa politik dan organisasi di Partai Demokrat," 
ungkapnya.

Namun, dirinya belum akan membeberkan apa saja yang dialaminya sebagai bukti 
penolakan yang dilakukan petinggi partai, selama ia memimpin partai. "Pada 
titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci, tetapi ada kontek yang 
jelas yang menyangkut rangkaian-rangkaian peristiwa politik itu," ujarnya.

Anas mengungkapkan, dirinya mengetahui dan memahami resiko terjun ke dunia 
politik, saat bergbung di Partai Demokrat sebagai kader. "Saya tahu betul, 
bahwa politik itu kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak 
sulit menemukan intrik, fitnah, dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak 
awal, sehingga saya tahu persis konsekuensinya, sehingga saya nyatakan tidak 
akan mengeluh dengan keadaan ini," tegasnya.

Sebaliknya, Anas mengaku siap menghadapi masalah yang tengah melilitnya itu. 
Menurutnya, apa yang terjadi pada dirinya adalah hal biasa dalam sistem 
demokrasi negeri ini yang masih seumur jagung.

"Saya anggap sebuah kelaziman, tidak ganjil, aneh, apalagi dalam sistem politik 
kita yang relatif baru, dan Partai Demokrat yang tradisinya juga masih muda," 
pungkasnya. (IS) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke