Status Update
By Jerry Aurum Full
Seorang buruh jahit terbaring lemah masuk ke ruang gawat darurat rumah sakit, 
diantar majikannya. Seorang dokter muda memeriksanya, ternyata serangan jantung 
dan pertolongan terbaiknya adalah memasang sten alias kateterisasi, yang 
biayanya puluhan hingga ratusan juta. 

Majikannya tidak sanggup menanggung. Keluarga pasien tidak bisa dihubungi. 
Setiap menit berharga. Bahkan dalam 15 menit, jantung pasien tiga kali 
berhenti, namun masih tertolong oleh si dokter. 

Dokter bertanya pada koleganya, apa yang seharusnya dia lakukan. Bila tidak 
diambil tindakan, pasien pasti segera mati. Koleganya bilang, apa boleh buat, 
mau gimana lagi. Dokter tidak puas, dia menghadap pimpinan rumah sakit. 
Jawabannya sama. Sebaliknya, mengambil tindakan tanpa persetujuan keluarga dan 
rumah sakit, dan tanpa kejelasan biaya, merupakan resiko tinggi yang 
mempertaruhkan bukan hanya karir si dokter, tetapi juga hidupnya. 

Akhirnya, dokter membawa pasien ke ruang tindakan, memutuskan untuk 
mengkateterisasi pasien yang telah sekarat, tanpa dukungan biaya, tim kolega 
ataupun persetujuan dari rumah sakit. Bila gagal, dirinyalah yang akan dituduh 
keluarga pasien sebagai penyebab kematian. Pikirannya cuma satu, pasien ini 
baru berumur 32 tahun. Siapa yang akan memberi makan anak-anaknya yang masih 
kecil?

Puji Tuhan, tertolonglah si pasien. Saat istri pasien tiba, seorang buruh cuci, 
tidak terhingga rasa syukurnya. Dokter berhasil kemudian membujuk rumah sakit 
untuk meniadakan biaya, dan meminta si majikan untuk membantu pembelian obat 
yang krusial dibutuhkan pasien untuk tetap hidup dan sembuh. 

Beberapa jam kemudian, cerita ini telah menjadi perbincangan hangat di seluruh 
rumah sakit. Beberapa perawat tak kuasa meneteskan air mata, dan semua 
mengucapkan terima kasih pada sang dokter, walaupun tidak mengenal si pasien. 

Saat saya mendengarnya, saya katakan, ada detik-detik yang menunjukkan kualitas 
seorang dokter, dan ada pula yang menunjukkan kualitasnya sebagai manusia. 

Dokter muda ini bernama Jeffrey Wirianta, seorang kardiolog handal yang 
mencintai kedokteran lebih dari apapun. Dan saya, Jerry Aurum, adalah adiknya 
yang sangat berbangga hati, mempunyai kakak yang berbakti sungguh pada 
pekerjaannya, dan terlebih lagi pada sesama manusia.

Kirim email ke