Ref: Pada umumnya  pelaku ketidakadilan tidak akan merawat  korbanya selain 
mematikannya. NKRI bukan kekecualian.

http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/merawat-papua-di-nkri/31465

Merawat Papua di NKRI


Selasa, 26 Februari 2013 | 15:50

Tanah Papua tak henti bergolak. Akibat aksi kekerasan bersenjata yang 
mengakibatkan korban jiwa seolah tiada henti. Pekan lalu, dalam sehari 12 nyawa 
melayang, masing-masing delapan prajurit TNI dan empat warga sipil, akibat 
diserang kelompok bersenjata.   

Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) mengaku 
bertanggung jawab terhadap insiden tersebut. Tindakan mereka jelas untuk 
meminta perhatian dunia internasional, bahwa masih ada persoalan mendasar di 
Papua. Tujuannya agar ada tekanan dari dunia agar digelar referendum. Hal itu 
berkaitan dengan manifestasi perjuangan mereka yang menghendaki Papua terpisah 
dari NKRI.   

Tewasnya 12 orang dalam aksi bersenjata pekan lalu, menegaskan semangat dan 
gerakan separatis masih mengakar, terutama di kalangan penduduk asli. Adanya 
keinginan memisahkan diri dari NKRI, tak lepas dari nasib mereka yang tetap 
terbelakang, ditambah maraknya dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).   

Selama bertahun-tahun, rakyat Papua merasa diperlakukan tak adil. Kekayaan 
alamnya dikeruk, namun mereka masih hidup dalam kemiskinan. Ketimpangan 
hasil-hasil pembangunan, mengakibatkan kondisi masyarakat di dua provinsi, 
Papua dan Papua Barat, masih banyak yang terbelakang. Sebut saja ketersediaan 
infrastruktur fisik yang minim, serta pembangunan bidang pendidikan dan bidang 
kesehatan yang belum memadai.   

Hal itulah yang kerap memicu aksi-aksi separatisme, yang selalu dikaitkan 
dengan historis proses integrasi ke NKRI, yang oleh sebagian kalangan di Papua, 
belum bisa diterima sepenuh hati. Kampanye negatif terhadap Pemerintah RI terus 
dilakukan untuk menggalang tekanan internasional.   

Secara geopolitik dan geoekonomi, posisi Papua sangat strategis. Kekayaan 
alamnya yang melimpah mengundang minat banyak negara untuk dapat mengeruk 
sebanyak-banyaknya hasil Bumi Cenderawasih tersebut. Isu-isu HAM sengaja 
dipolitisasi secara internasional, untuk menjadi alat penekan bagi Pemerintah 
Indonesia melepaskan Papua. 

Semua itu dilakukan tentu demi keuntungan ekonomi negara bersangkutan. Hal 
inilah yang harus diwaspadai dan mendapat perhatian serius pemerintah.   

Pemerintah wajib menjaga integrasi Papua di pangkuan Ibu Pertiwi. Pengalaman 
lepasnya Timor Timur 14 tahun lalu tak boleh terulang. Untuk itu, pemerintah 
harus mampu mengantisipasi tekanan internasional yang memanfaatkan isu-isu 
pelanggaran HAM dan ketimpangan ekonomi.   

Satu-satunya cara adalah memberi perhatian lebih kepada Papua. Dibanding 
wilayah lain, Papua lebih rawan dan bisa mengancam keutuhan NKRI jika tidak 
ditangani secara baik. Itulah mengapa Papua diberi kewenangan yang begitu luas 
untuk menjalankan pembangunan sesuai sumber daya yang dimiliki melalui status 
otonomi khusus, disertai kebijakan desentralisasi fiskal yang cukup besar guna 
mendukung akselerasi pembangunan di segala bidang kehidupan.   

Kini, di saat eskalasi politik dan keamanan di Papua memanas, pemerintah wajib 
meminta evaluasi Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua 
Barat (UP4B) dan Desk Papua yang ada di sejumlah kementerian. Langkah itu untuk 
mencari solusi yang tepat guna mengakhiri kerawanan politik dan keamanan di 
Papua, dan terutama untuk merawat agar Papua tetap di pangkuan NKRI.   

Pendekatan keamanan harus ditinjau kembali. Kehadiran Polri dan TNI di Papua, 
harus benar-benar memperhatikan aspek penegakan HAM. Sebab, terbukti HAM 
menjadi isu yang sangat sensitif, dan dengan mudah dipolitisasi secara 
internasional. Secara keseluruhan, pola penanganan persoalan klasik di Papua 
tak bisa lagi mengandalkan pendekatan keamanan. Pendekatan pembangunan dan 
kesejahteraan harus dipastikan menjadi ujung tombak dan terimplementasi di 
lapangan.   

Solusi yang lebih fundamental, pemerintah harus membuat grand design 
pembangunan Papua dan Papua Barat. Kita juga harus menyadari, bahwa bukan cuma 
uang yang dibutuhkan rakyat Papua, tetapi juga harapan agar diperlakukan setara 
dengan terus mengajak dialog.   

Untuk itu dialog dari hati-ke hati dengan segenap elemen masyarakat di Papua, 
termasuk mereka yang selama ini ingin memisahkan diri, harus diintensifkan. 
Kehendak untuk mendengar dan berdialog, tentu akan membantu pemerintah 
merumuskan kebijakan terbaik. Sebab, hanya dengan pendekatan ini, warga asli 
Papua merasa diberi kesempatan untuk merumuskan apa yang mereka perlukan, tidak 
merasa dieksploitasi. Dengan demikian saudara-saudara kita di Papua akan merasa 
menjadi satu bangsa dengan masyarakat Indonesia lainnya.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke