Ref: Apakah konflik antara TNI dan Polri mencerminkan sebahagian dari konflik 
sosial yang diciptakan rezim  kleptokrasi NKRI dan kaum elitnya?

http://www.gatra.com/nusantara/nasional/25775-konflik-prajurit-tni-polri-fenomena-gunung-es.html

Konflik Prajurit TNI-Polri Fenomena Gunung Es 
  Created on Friday, 08 March 2013 15:47 
  Published Date 
Jakarta, GATRAnews - Komisi I DPR RI menegaskan bahwa kasus penyerangan dan 
pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), yang diduga dilakukan sekitar 90 
oknum anggota TNI, tak boleh dianggap sepele. Pasalnya, ini merupakan fenomena 
gunung es, dan bisa menjadi bom waktu jika tak selesaikan secara tuntas.



"Bentrokan antara TNI dengan Polri di OKU jangan dianggap sepele, kasus ini 
merupakan puncak dari fenomena gunung es," nilai Wakil Ketua Komisi I DPR TB 
Hasanuddin, di Jakarta, Jumat (8/3).

Menurutnya, karena ini merupakan fenomena gunung es, maka yang terlihat dan 
mencuat ke permukaan, hanyalah manifestasi dari persoalan yang lebih besar yang 
selama ini senantiasa disangkal, solah-olah hanya kenakalan prajurit di 
lapangan atau kenakalan anak-anak muda semata.

Ini bukan sekedar persoalan psiko-politik antara "kakak tua dan adik bungsuā€œ, 
di mana dipersepsikan sebagai adik bungsu yang setelah era reformasi petentang 
pertenteng sok jagoan.

"Hampir semua kasus bentrokan antara TNI versus Polri berawal dari persoalan 
lalu lintas, timbul ketegangan dan kemudian Polri membuka tembakan. Tapi lebih 
dari itu, konflik ini juga punya akar struktural terkait akses sumber daya," 
nilainya.

Menurutnya, ada kesenjangan sosial yang dalam antara sesama aparat yang dapat 
meledak sewaktu-waktu. Pencetusnya bisa bermacam-macam, seperti yang terjadi di 
OKU tersebut, yakni TNI disweeping di jalan, kemudian marah, dan dengan 
entengnya oknum Polri menembak mati prajurit Yon Armed 15.

Kalau sekedar masalah lalu lintas, sebenarnya dapat diambil solusi sederhana 
oleh para pimpinan masing-masing dengan mengesampingkan ego. Tapi, jika masalah 
struktural, maka harus ada penataan ulang peran masing-masing.

"Kalau masalah ini tak diselesaikan secara serius, maka kasus-kasus yang lebih 
seram bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Tinggal menunggu waktu saja," 
pungkasnya. (IS)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke