ref: Bisa dilihat video footage dengan click pada :  
http://metrotvnews.com/videoprogram/detail/2013/03/09/16492/121/Patriotisme-Chavez-/Editorial%20Media%20Indonesia

Editorial Media Indonesia: Patriotisme Chavez 



SETELAH berjuang dua tahun melawan penyakit kanker, Presiden Venezuela Hugo 
Chavez akhirnya tutup usia, Selasa (5/3). Dunia kehilangan salah satu sosok 
paling inspiratif dalam sejarah sosialisme dan nasionalisme modern.


Rakyat Venezuela menangisi kepergian pemimpin berusia 58 tahun itu. Kepergian 
Chavez juga meninggalkan rasa kehilangan sangat mendalam di kalangan pejuang 
antiketidakadilan global.


Chavez ialah pemimpin yang telah menjadi ikon perlawanan bukan hanya di 
kalangan negara-negara Amerika Latin, melainkan juga pada tataran global.


Di kalangan pemimpin Barat, khususnya Amerika Serikat, Chavez jelas bukan sosok 
yang disukai. Monster antidemokrasi, antikebebasan pers, pelanggar hak asasi 
manusia, dan pemimpin otoriter ialah cap yang kerap diberikan Barat kepada 
pemimpin yang di kalangan Amerika Latin populer dengan sebutan 'El Comandante' 
itu.

Namun, semakin dibenci Barat dan Amerika, 'El Comandante' justru semakin 
dicintai rakyatnya. Itu tidak mengherankan, mengingat semasa memerintah, Chavez 
benar-benar menjalankan kebijakan prorakyat. Bukan sekadar retorika atau bahkan 
pro-Barat.


Begitu memerintah, misalnya, Chavez berhasil mengurangi angka kemiskinan hingga 
50% dan kemiskinan ekstrem hingga 70%. Chavez sungguh-sungguh menjalankan 
reformasi agraria dengan membagikan tanah kepada rakyat. 


Sementara itu di sini, di Indonesia, pemimpin berulang kali berjanji membagikan 
9 juta hektare tanah telantar buat rakyat, tapi tak kunjung terealisasi bahkan 
hingga hampir berakhir masa jabatan sang pemimpin.

Venezuela ialah salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. 
Alih-alih memberikan konsesi kepada perusahaan minyak asing, Chavez justru 
melakukan nasionalisasi. Pengambilalihan perusahaan minyak asing itu dilakukan 
tanpa ragu. Hasilnya dibagikan dalam bentuk subsidi untuk meningkatkan 
kesejahteraan 30 juta warga Venezuela.


Di bawah Chavez, jutaan warga Venezuela yang semula miskin dan sakit-sakitan 
memperoleh akses kesehatan secara cuma-cuma. Pendidikan gratis di negeri 
telenovela itu sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi.


Chavez memang bukan sosok sempurna. Kebijakannya terkait dengan subsidi tetap 
memancing pertentangan baik di kalangan pengusung maupun pembela mazhab itu.

Hasil kepemimpinan Chavez hingga kini dianggap belum membuat Venezuela menjadi 
negara maju dan makmur di dunia. Para pengkritiknya di Barat punya alasan 
menyebutnya sebagai pengusung sosialisme baru tanpa hasil.


Terlepas dari pro-kontra itu, karakter Chavez sebagai pemimpin yang berani 
bersikap dan melawan hegemoni dan dominasi Amerika bersama agenda-agenda 
neoliberalisme mereka diakui siapa pun.


Itu menjadi pelajaran penting bagi kita di Indonesia. Kita, tentu, tidak ingin 
meng-copy paste sosialisme ala Chavez. Kita pun tidak satu gagasan dengan 
Chavez untuk menasionalisasi perusahaan minyak asing. Kita bahkan mengecam 
kebijakan Chavez menyensor pers dan membungkam kelompok-kelompok oposisi. Akan 
tetapi, kita hormat dengan tindakan nyata Chavez dalam membela kepentingan 
negara dan rakyatnya. 

Selamat jalan 'El Comandante'. Kita merindukan kehadiran pemimpin dengan 
semangat patriotisme itu di sini.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke