http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=322973

CAPRES
Prabowo Minta Dukungan SBY 

Rabu, 13 Maret 2013

JAKARTA (Suara Karya): Partai Demokrat dinilai tersandera oleh krisis 
kepercayaan diri menghadapi Pemilu Legislatif dan Pilpres 2014. Hal ini 
terlihat dari wacana koalisi Partai Demokrat dengan Partai Gerindra terkait 
bakal calon presiden dan cawapres mendatang. 
Pendapat itu dikemukakan pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) 
Yogyakarta Ari Dwipayana dan pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 
Saleh Partaonan Daulay, secara terpisah, di Yogyakarta dan Jakarta, kemarin. 
Mereka menanggapi pertemuan Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina Partai 
Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Dewan Pembina yang juga 
bakal capres Partai Gerindra Prabowo Subianto di Kantor Presiden, Senin (11/3) 
lalu. Sejumlah pengurus Partai Demokrat menyebut hal itu sebagai penjajakan 
koalisi. 
SBY menerima kunjungan Prabowo sekitar pukul 15.30 WIB. Mantan Panglima Kostrad 
dan Danjen Kopassus itu didampingi Ketua DPP Partai Gerindra Fadli Zon. 
Sementara Presiden didampingi Mensesneg Sudi Silalahi dan Seskab Dipo Alam. 
Keduanya, yang pernah menempuh pendidikan militer di Akademi Angkatan 
Bersenjata RI (Akabri), saling berbalas hormat saat berada di pintu masuk ruang 
pertemuan di Kantor Presiden. 
"Partai Demokrat terkesan masih belum memiliki kepercayaan diri untuk 
mendeklarasikan calon presiden sendiri. Maka, mewacanakan koalisi atau merekrut 
bakal capres dari luar," kata Ari Dwipayana. Dia juga mengingatkan, wacana yang 
sama juga menguat menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang akan 
digelar akhir Maret nanti. 
"Demokrat malu-malu, menunggu hasil pemilu legislatif. Kalau hasilnya tinggi, 
baru berani mencalonkan presiden. Sebaliknya, jika 'jeblok', mengurungkan diri 
dari pencalonan presiden. Ini seperti kehilangan optimisme," katanya. 
Menurut Ari, seharusnya pencalonan presiden dilakukan oleh tiap-tiap parpol 
melalui proses yang sudah harus dibangun oleh internalnya jauh-jauh hari 
sebelum pemilu legislatif. 
"Partai-partai harus bersiap dengan mekanisme kompetisi internal yang 
demokratis dalam pencalonan presiden. Entah siapa presidennya, harus ada proses 
di dalam internal partai sehingga betul-betul legitimate," katanya. 
Menurut dia, sebaiknya calon yang diusung partai dari internal. Meski demikian, 
Ari juga menyarankan, ketua atau pendiri partai tidak harus selalu menjadi 
calon presiden, tetapi dapat menjadi pembuat keputusan atau king maker dalam 
setiap kebijakan partai. 
Politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, secara pasti tak 
mengetahui apa isi pertemuan SBY-Prabowo sebenarnya. Meski begitu, kata dia, 
kemungkinan yang dibicarakan adalah mengenai penjajakan rencana koalisi antara 
Partai Demokrat dan Partai Gerindra. 
"Pak SBY sangat menghormati semua, termasuk yang menjadi oposisi pemerintah. 
Dengan Pak Prabowo, Pak Wiranto, termasuk dengan Pak Taufiq Kiemas. Kalau ada 
pertemuan yang dilakukan, sudah pasti ada komunikasi politik yang terjadi," 
kata Ruhut. 
Pembicaraan keduanya adalah kemungkinan penjajakan koalisi antara Partai 
Demokrat dan Gerindra pasca-Pemilu 2014. Ruhut memberikan argumentasi, pemilu 
mendatang tak ada satu pun partai politik yang mampu mendapat 50 persen suara. 
"Tapi, apa persisnya pertemuan itu, aku belum tahu karena belum menelepon Pak 
SBY. Kalau kemungkinan koalisi, biasa saja terjadi. Namanya dalam politik 
segala sesuatunya sangat mungkin," ucap Ruhut. 
Saleh Partaonan Daulay menilai, pertemuan SBY-Prabowo sangat strategis dan 
saling menguntungkan. "Sebab, keduanya sama-sama memiliki kepentingan. Secara 
tak langsung, Prabowo tentu akan meminta restu dan dukungan Yudhoyono terkait 
pencalonan dirinya sebagai capres 2014," katanya. 
Sebaliknya, menurut dia, Yudhoyono juga memerlukan Prabowo dalam mendukung 
tugas-tugas pemerintah hingga periode ini selesai. Saleh menduga, SBY 
mengapresiasi ungkapan Prabowo yang sebelumnya menyatakan mendukung 
pemerintahan Yudhoyono-Boediono sampai selesai. 
Menurut Saleh, dukungan politis seperti itu memang sedang dibutuhkan oleh 
Yudhoyono. Di saat partai-partai koalisi banyak yang mulai memikirkan diri 
sendiri, Prabowo tampil dan menyampaikan dukungannya. (Rully/Kartoy

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke