http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/21/23682/eggy-sujana-sby-antek-as-dana-densus-88-dikucurkan-dari-asing/

Kamis, 21 Mar 2013


Eggy Sujana: SBY Antek AS, Dana Densus 88 Dikucurkan Dari Asing 
JAKARTA (voa-islam.com) - Dalam diskusi bertajuk “Densus 88 Milik Siapa?” yang 
di DPP Sarekat Islam di Jakarta, Pengacara Muslim Eggy Sujana mengatakan, 
keberadaan Densus 88 tidak lepas dari sosok SBY yang menurutnya sudah menjadi 
antek Amerika dengan segala kebijakannya.

Bukti itu ditandai ketika SBY yang pernah mengatakan, “ Saya mencintai Amerika  
dengan segala kesalahannya, dan saya mengakui Amerika sebagai negara kedua 
saya”. Ini bukti kuat bahwa SBY memang antek Amerika dan inilah yang menjadi 
tiket SBY untuk menjadi presiden.

Setiap setelah kunjungan pejabat Amerika, hampir selalu ada aksi teror, ini ada 
apa? tanya Eggy. Menurutnya aksi-aksi teror tersebut merupakan by design. Dan 
umat Islam lah yang menjadi sasaran tembak.

Dikatakan Eggy, Densus 88 saat ini sering digunakan sebagai alat kepentingan 
penguasa yang berkonspirasi dengan anteknya Amerika. Egy dengan semangat 
menyerukan agar Densus 88 segera dibubarkan.“Densus 88 milik kepentingan 
penguasa yang berkonspirasi dengan orang yang merupakan anteknya Amerika. 
Bubarkan Densus!,” seru Eggy.

Menyindir brigjen polisi Bor Rafly Ammar yang juga hadir sebagai pembicara 
dalam acara diskusi tersebut, Eggy meminta jenderal polisi itu tidak membela 
atasannya yang salah. “Mudah-mudahan Pak Boy dibukakan hatinya dan mau bela 
kita bukan bela thoghut,” tegas Eggy, disambut tepuk tangan hadirin.

Dana Densus dari Asing

Bukan rahasia umum, jika keterkaitan dana asing mengalir ke rekening Detasemen 
Khusus 88 Antiteror (Densus 88). Aliran dana asing itu ditengarai sudah mampir 
sejak zaman Kapolri Da’i Bachtiar. “Uang Densus datangnya dari luar, sejak 
zaman Kapolri Dai Bachtiar. Hillary Clinton juga pernah ke sini (Indonesia) 
untuk perjanjian keamanan di negeri ini,” kata Eggie.

Namun sinyalemen tersebut buru-buru dibantah Mabes Polri. Kepala Biro 
Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menjelaskan 
‘dapur’ Densus 88 hanya diperoleh dari biaya APBN. “Densus dibiayai APBN, tidak 
pernah terima dari orang lain,” ungkap Boy.

Komnas HAM sudah meminta DPR melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana, 
baik yang dari APBN maupun dana bantuan luar negeri, yang digunakan dalam 
program penanggulangan terorisme, sehingga ada pertanggungjawaban secara  
transparan dalam penggunaan dana demi kepentingan kesejahteraan rakyat.

Khusus untuk Poso penggunaan dana recovery dan dana deradikalisasi, harus 
dipastikan tersalurkan secara adil dan transparan, sebagaimana kebijakan yang 
pernah dijanjikan melalui pemulihan pasca konflik, yang tertuang dalam 
deklarasi Malino. Karena ternyata hingga kini masih banyak hak-hak rakyat 
(ekonomi, kesehatan, pendidikan) yang diabaikan. [desastian]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke