http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=41433


SENIN, 25 Maret 2013 | 


Preman Baru Penguasa Keamanan Kafe

 
SIAPA kelompok preman yang dihabisi di Lapas Cebongan, Sleman, tersebut? 
Sejumlah sumber Jawa Pos menyebut, geng yang kondang disebut kelompok NTT itu 
adalah pemain baru di dunia premanisme Kota Budaya.

”Baru eksis setahun terakhir,” kata penyidik yang menolak dikorankan namanya.
Meski begitu, nama geng NTT tersebut kondang karena berani menyerang 
kelompok-kelompok lain yang sudah matang di Jogjakarta.

”Baru tiga bulan lalu kelompok ini berani menyerang kelompok Sotong di 
Karangkajen. Ada korban dari dua pihak,” katanya. Sotong adalah nama yang cukup 
terkenal di dunia jasa pengamanan di Jogja.
Geng NTT juga merambah ke proyek pengamanan hiburan. Mereka dikabarkan sudah 
“menaklukkan” geng Harun yang selama ini terkenal sebagai pemegang bisnis itu 
di Kota Gudeg. ”Memang anak-anak dari Timur ini nyalinya besar,” katanya.

Empat orang yang tewas kemarin adalah Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiyanto 
Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapy alias Deki. ”Juan 
ini desersi polisi dari poltabes,” katanya.

Juan dipecat karena terlibat narkoba. Dia pernah ditahan dua tahun delapan 
bulan. ”Dia juga menjalani rehabilitasi di RS Grhasia, Pakem, Sleman. Baru saja 
keluar bulan lalu,” lanjutnya.
Soliditas geng itu makin kompak setelah Juan masuk mem-back up. Bagaimanapun, 
latar belakangnya sebagai pecatan polisi makin membuat kelompok tersebut 
percaya diri. ”Mereka menguasai keamanan di kafe-kafe besar di Jogja,” katanya.

Selain Hugo’s Cafe, geng itu berkuasa di beberapa kafe lain. ”Ini menggusur 
kelompok-kelompok lain yang dulu memegang,” katanya.

Selain faktor nyali, geng tersebut besar karena preman-preman lama di Jogja 
atau yang diistilahkan dengan sebutan gali sudah ”bertobat”.

”Dulu Jogja ini dibagi dalam daerah-daerah per kecamatan. Ada preman penguasa 
Sayidan, Badran, Terban, Karangkajen, dan sebagainya. Sekarang nama-nama lama 
sudah bisnis biasa. Karena itu, mereka coba-coba masuk,” ucapnya.

Keributan di Hugo’s Cafe awalnya sepele, namun berujung pada kematian Sertu 
Heru Santosa. Dia adalah anggota Denintel Kodam IV/Diponegoro yang pernah 
menjadi anggota Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura.

Perselisihan kelompok NTT itu sebenarnya bukan dengan Heru langsung. Tapi, 
dengan anggota satuan lain yang pernah cekcok. ”Soal pengembangan lebih dalam, 
tunggu satu dua hari lagi,” kata sumber itu yang menolak menjabarkan lebih 
terperinci.
Wandy Marseli, pengacara empat korban yang tewas itu, mengakui bahwa Juan 
adalah pecatan polisi. ”Dulu dia bertugas di Poltabes Jogja,” katanya. Namun, 
dia mengaku tak tahu persis kasus yang membuat Juan dipecat.

Secara terpisah, Asintel Danjen Kopassus Letkol Richard Tampubolon menjelaskan, 
tidak ada anggotanya yang terlibat dalam penyerangan Lapas Cebongan.

Richard membenarkan adanya informasi bahwa kelompok empat orang itu punya 
banyak musuh. ”Jadi, mohon jangan buru-buru mengarahkan ke Kopassus, kita 
tunggu penyelidikan lebih dalam,” tuturnya. 
naklukkan” geng Harun yang selama ini terkenal sebagai pemegang bisnis itu di 
Kota Gudeg. ”Memang anak-anak dari Timur ini nyalinya besar,” katanya.

Empat orang yang tewas kemarin adalah Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiyanto 
Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapy alias Deki. ”Juan 
ini desersi polisi dari poltabes,” katanya.

Juan dipecat karena terlibat narkoba. Dia pernah ditahan dua tahun delapan 
bulan. ”Dia juga menjalani rehabilitasi di RS Grhasia, Pakem, Sleman. Baru saja 
keluar bulan lalu,” lanjutnya.

Soliditas geng itu makin kompak setelah Juan masuk mem-back up. Bagaimanapun, 
latar belakangnya sebagai pecatan polisi makin membuat kelompok tersebut 
percaya diri. ”Mereka menguasai keamanan di kafe-kafe besar di Jogja,” katanya.

Selain Hugo’s Cafe, geng itu berkuasa di beberapa kafe lain. ”Ini menggusur 
kelompok-kelompok lain yang dulu memegang,” katanya.

Selain faktor nyali, geng tersebut besar karena preman-preman lama di Jogja 
atau yang diistilahkan dengan sebutan gali sudah ”bertobat”.

”Dulu Jogja ini dibagi dalam daerah-daerah per kecamatan. Ada preman penguasa 
Sayidan, Badran, Terban, Karangkajen, dan sebagainya. Sekarang nama-nama lama 
sudah bisnis biasa. Karena itu, mereka coba-coba masuk,” ucapnya.

Keributan di Hugo’s Cafe awalnya sepele, namun berujung pada kematian Sertu 
Heru Santosa. Dia adalah anggota Denintel Kodam IV/Diponegoro yang pernah 
menjadi anggota Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura.

Perselisihan kelompok NTT itu sebenarnya bukan dengan Heru langsung. Tapi, 
dengan anggota satuan lain yang pernah cekcok. ”Soal pengembangan lebih dalam, 
tunggu satu dua hari lagi,” kata sumber itu yang menolak menjabarkan lebih 
terperinci.

Wandy Marseli, pengacara empat korban yang tewas itu, mengakui bahwa Juan 
adalah pecatan polisi. ”Dulu dia bertugas di Poltabes Jogja,” katanya. Namun, 
dia mengaku tak tahu persis kasus yang membuat Juan dipecat.

Secara terpisah, Asintel Danjen Kopassus Letkol Richard Tampubolon menjelaskan, 
tidak ada anggotanya yang terlibat dalam penyerangan Lapas Cebongan.

Richard membenarkan adanya informasi bahwa kelompok empat orang itu punya 
banyak musuh. ”Jadi, mohon jangan buru-buru mengarahkan ke Kopassus, kita 
tunggu penyelidikan lebih dalam,” tuturnya. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke