Ref : SBY tidak akan bisa mampu berbuat sesuatu yang berguna untuk perbaikan 
mutu kehidupan rakyat mayoritas selain kepada klik neo-mojopahit dan kaum 
elitnya. Apa yang biasa bisa dilakukan ialah hanya menjadi “master of ceremony” 
untuk berbicara tak berisi pada pembukaan sesuatu upacara atau perayaan. Apakah 
tidak membuang-buang untuk  menurunkan kepala komplotan yang akan turun karena 
masa jabatannya telah habis?

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/03/26/1/141411/SBY-Gagal-Pimpin-Indonesia-Kelompok-Cipayung-Plus-akan-Bertindak


POLITIK
SBY Gagal Pimpin Indonesia, Kelompok Cipayung Plus akan Bertindak
Selasa, 26 Maret 2013 | 03:59 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dinilai telah gagal menjalankan pemerintahan. 

Selama hampir 9 tahun masa pemerintahannya, persoalan di sektor hukum, politik, 
ekonomi, dan sosial tidak mampu diselesaikan. Bahkan semakin massif dan parah. 

Di akhir masa jabatannya, SBY pun bukannya fokus menyelesaikan itu, malahan 
menghabiskan waktu dan energinya untuk memikirkan partainya, Partai Demokrat.

Untuk itu, pengurus pusat Kelompok Cipayung Plus yang terdiri dari Pergerakan 
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), 
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma 
Indonesia (KMHDI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Perhimpunan Mahasiwa 
Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, 
akan berkonsolidasi guna mengambil sikap nyata terhadap permasalahan itu. 

Kelompok Cipayung Plus akan mulai bertindak dari Mei 2013. Bulan Mei 2013 
menjadi awal pergerakan, karena merupakan momen bagi mahasiswa menunjukan bahwa 
15 tahun reformasi belum juga usai, perubahan dan pergerakan masih dibutuhkan.

“Indonesia berada di titik nadir. Sudah saatnya SBY turun karena gagal 
menjalankan peran dan tugas. Masyarakat pun sudah resah menuntut perubahan, 
sehingga kami sedang melakukan konsolidasi membangun gerakan seirama guna 
bersikap atas permasalahan itu. Setelah itu kami akan merangkul kelompok lain. 
Kami secara nyata mulai bergerak dari awal Mei seperti Hari Buruh, Hari 
Pendidikan hingga direspon oleh Pemerintah,” ungkap Ketua Presidium PP PMKRI 
Parlindungan Simarmata di Jakarta, Senin (25/3).

Menurut Parlindungan, kegagalan- kegagalan SBY adalah di sektor hukum. Para 
penegak hukum tidak mampu menyelesaikan kasus-kasus yang merugikan Indonesia 
seperti korupsi Hambalang, bail out Bank Century, BLBI, dan penyimpangan alat 
IT penyelenggaraan Pemilu. 

Malahan sebaliknya, para penegak hukum saling tuding, menjatuhkan, menunjukan 
kekerasan fisik bahkan terlibat dalam pelanggaran hukum itu sendiri.

“Lalu di sektor politik, para politisi saling menjatuhkan untuk kepentingan 
kelompok dan dirinya sendiri, bukan masyarakat Indonesia. Proses politik 
seperti pemilu kada menjadi sumber konflik perpecahan antarmasyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, di sektor ekonomi, pemerintah tidak mampu menahan arus 
globalisasi dan kapitalisme yang menggerus budaya dan kekayaan alam Indonesia. 

Akhirnya Indonesia hanya menjadi alat kepentingan asing. Kepentingan rakyat 
Indonesia, seperti bahan pokok, bawang, cabai meningkat tajam, sementara itu 
Pemerintah tidak mampu mengatasi pengangguran yang semakin bertambah.

Menurut Ketu PP GMKI Supriadi Narno, kegagalan terbesar SBY yang lainnya adalah 
tidak mampu melindungi hak dan kewajiban warga negara. SBY lalai dan tutup mata 
ketika sekelompok orang menyerbu kelompok laing dengan mengatasnamakan agama, 
SARA dan lainnya. Bahkan aparat keamanan pun dijadikan alat untuk menyiksa 
warga negara.

“Indonesia mengalami disharmoni kebangsaan yang akut. Bagimana mungkin antar 
kelompok masyarakat harus saling pukul karena berbeda-beda pandangan, aparat 
hukum bukannya sebagai penengah malah memihak satu pihak. Contoh nyata di HKBP 
Setu, Bekasi, kelalaian Pemerintah dalam mengontrol aparatnya. Pemerintah lebih 
takut kepada kelompok yang intoleran,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Presidium KMHDI I Made Bawayasa mengatakan bahwa 
Pemerintahan SBY tidak mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap warga 
negara untuk menjalankan hak-haknya, yang paling mencolok adalah dalam 
beribadah. (Raja Eben L)


Editor: Asnawi Khaddaf

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke