http://politik.kompasiana.com/2013/03/26/kekonyolan-seputar-presiden-sby-yang-ketakutan-dengan-aids-546093.html

Kekonyolan Seputar Presiden SBY yang Ketakutan dengan “AIDS”
OPINI | 26 March 2013 | 11:21  
(Sumber diambil dari cover Majalah Tempo edisi 18-24 Maret 2013)

Ternyata, Presiden SBY sangat takut dengan AIDS! Saking takutnya sampai dia 
merasa perlu mengundang sekaligus tujuh Jenderal Purnawirawan ke Istana untuk 
berbicara dengan mereka tentang AIDS tersebut. Belum termasuk Letjen 
Purnawirawan Prabowo Subianto.


Karena takut dengan AIDS pula pada Senin, 25 Maret kemarin, SBY merasa perlu 
dijaga oleh 12.309 personel dari Polri yang dilengkapi dengan sejumlah 
kendaraan rantis, water canon, taktis Barakuda, dan mobil-mobil antianarkis 
lainnya. Bahkan terlihat pula beberapa pelontar mortir melengkapi penjagaan 
itu. Sejumlah kedutaan pun dibuat was-was. Terutama di Kedutaan Amerika 
Serikat, yang ikut dijaga sejumlah aparat dilengkapi mobil taktis Barakuda.


Yang dimaksud dengan AIDS di sini adalah singkatan dari “Aku Ingin Dipanggil 
SBY” atau “Aku Ingin Didukung SBY.”


Yang menciptakan singkatan tersebut adalah Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Dia 
membuat singkatan tersebut untuk mengejek Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia 
(MKRI) yang sesumbar akan melakukan unjuk rasa besar-besaran dengan mengerahkan 
massa sedikitnya 3.000 orang pada 25 Maret kemarin, untuk menggulingkan 
SBY-Budiono.


Faktanya, sesumbar tersebut sama sekali tidak terbukti. Jangankan 3.000 orang, 
ketika melakukan para pimpinan MKRI itu melakukan orasi yang datang hanya 
sekitar 200-an orang. Itu pun mereka tertarik karena diiming-iming dengan 
sembako. Yang datang juga kebanyakan ibu-ibu, yang entah mengerti atau tidak 
apa isi orasi tersebut.


 
Ibu-ibu yang sedang menunggu pembagian sembako dari MKRI (sumber: Kompas.com)



Dipo Alam mengejek MKRI dengan mengatakan sesumbar MKRI itu hanya untuk mencari 
perhatian. Dia menyatakan merasa kasihan dengan mereka, yang sebenarnya benci 
tapi rindu dengan Presiden SBY, sejak Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan II.


“Mereka mengidap AIDS, ‘Aku Ingin Dipanggil SBY’ atau ‘Aku Ingin Didukung SBY,” 
kata Dipo Alam, setelah melihat aksi MKRI itu ternyata nyaris tak berbunyi pada 
hari Senin, 25 Maret 2013 itu (pesatnews.com).


Menurut Dipo para dalang dan pelaku MKRI, termasuk para penyandang dana gerakan 
politik itu, hanyalah mereka yang menggelembungkan kerongkongannya agar nampak 
besar, dan suaranya bisa terdengar oleh rakyat. Sama seperti masa-masa lalu, 
ancaman itu kandas, karena memang tidak ada alasan yang mendasar.


“Mereka berharap timbul gerakan politik ‘people power’, tapi itu tidak mungkin. 
Rakyat tidak tertarik,” kata Dipo Alam.


Dipo Alam boleh saja mengejek MKRI seperti itu. Tetapi, dia mungkin tipe 
manusia yang bicara dulu baru berpikir. Dia tidak sadar dengan mengejek MKRI 
dengan kalimat-kalimatnya seperti itu, sama saja dia juga mengejek atasannya 
sendiri, Presiden SBY!


Dipo mengatakan MKRI itu hanyalah sekelompok orang yang ingin diperhatikan SBY 
(“AIDS”), kelompok kecil yang memaksakan diri besar. Ancaman mengkudeta SBY, 
dan menggerakkan people power adalah sesuatu yang tidak realistis, tidak 
mungkin terjadi, tidak ada landasannya, rakyat tak tertarik.


Pertanyaan kepada Dipo Alam adalah: Kalau begitu kenapa Presiden SBY sampai 
begitu ketakutan dengan MKRI itu? Kenapa SBY begitu ketakutan dengan sekelompok 
“AIDS” itu? Apakah Dipo tidak malu punya Presiden kok takut sama hal-hal yang 
oleh Dipo sendiri malah hanya menjadi bahan ejekan itu? Seharusnya, Dipo Alam 
menasihati SBY supaya tidak perlu takut seperti anak kecil yang takut setan.


Ketakutan Presiden SBY dengan isu kudeta, atau unjuk rasa besar-besaran yang 
disumbar MKRI itu sangat jelas terlihat. Sementara itu, rakyatnya sendiri malah 
tenang-tenang saja. Bahkan merasa lucu punya presiden kok badannya gede, tetapi 
nyalinya kerdil.


Kalau bukan SBY yang menghendaki/memerintahnya, tidaklah mungkin pada Senin 
kemarin itu suasana sebagian Jakarta seolah-olah mencekam. Seperti di sekitar 
Istana, Bundaran HI, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Balai Kota DKI, sampai di 
Tugu Tani.  Sejumlah jalan di sekitar Istana pun ditutup dengan barikade kawat 
duri. Total Polri mengerahkan 12.319 personelnya dilengkapi sejumlah kendaraan 
taktis antianarkis untuk menjawab isu aksi besar-besaran menentang SBY itu  
(lihat grafis di bawah ini :  ).



 
(Sumber: Harian Kompas, Selasa, 26/03/2013)


Ini bukan kali pertamanya Presiden SBY curhat, menunjukkan ketakutannya kepada 
rakyatnya menyangkut isu kudeta terhadapnya. Berikut data yang diambil dari 
Majalah Tempo edisi 18-24 Maret 2013:


Pada Desember 2009, muncul isu kudeta terhadap SBY, karena begitu banyaknya 
kasus di seputar pemerintahaanya, seperti heboh dana talangan Rp. 6,7 triliun 
Bank Century.


Oktober 2010, disebutkan Petisi 28 yang dipimpin oleh Rizal Ramli hendak 
melakukan revolusi perebutan kekuasaan terhadap Presiden SBY yang genap setahun 
pemerintahan periode keduanya. Rizal Ramli sempat ditahan.


23 Maret 2011, stasiun televisi Al-Jazeera melaporkan pertemuan sejumlah 
purnawirawan jenderal tentara yang berencana mengkudeta Presiden SBY melalui 
Dewan Revolusi Islam, yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir dan mantan Kepala Staf 
TNI AD Jenderal Tyasno Sudarto.


19 Maret 2012, dalam silaturahmi dan konsolidasi Partai Demokrat di Cikeas, 
Presiden SBY menyatakan ada gerakan aneh yang hendak menggulingkannya. Meskipun 
tidak jelas menyebutkan nama. Politikus Demokrat mengatakan tokohnya tak 
berbeda dengan yang di 2011. Bahkan Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan 
menuduh Jenderal Wiranto-lah yang hendak melakukan kudeta tersebut.


15 Maret 2013, SBY mengumumkan bakal ada demonstrasi besar-besaran pada 25 
Maret 2013, yang diikuti dengan gerakan yang akan mengkudeta kepimpinannya. 
“Informasi inteljen” menyebutkan kelompok antikenaikan BBM itu akan 
memanfaatkan demonstrasi besar-besaran  pada tanggal tersebut. Tokoh-tokoh 
tersebut akan membentuk kepimpinan presidium.



Ternyata “laporan inteljen” itu tidak terbukti. Laporan yang dipercaya 
sepenuhnya oleh SBY itu malah semakin membuat SBY terlihat konyol dengan 
ketakutannya terhadap bayang-bayang kudeta itu sendiri.


Ejekan Dipo Alam terhadap MKRI tersebut di atas pun menjadi bumerang terhadap 
intelejen negara, yang telah telanjur menilai serius sesumbar MKRI itu sebagai 
suatu gerakan yang berbahaya bagi pemerintahan SBY.


Isu demonstrasi besar-besaran dan isu kudeta  ini membuat negara yang dipimpin 
oleh Presiden SBY ini semakin terlihat konyol di mata dunia internasional. 
Mungkin saja ini sudah dijadikan bahan guyonan di antara para pejabat negaranya.


Betapa tidak, mana ada sebuah rencana kudeta yang terlebih dulu diumumkan 
kepada publik, bahkan gerakannya dilaporkan ke polisi terlebih dahulu, seperti 
yang dilakukan oleh MKRI itu? Kekonyolan itu semakin memprihatikan ketika 
Presiden SBY pun menanggapinya secara sedemikian serius, melibatkan inteljen 
negara dan seribuan polisi, lengkap dengan sejumlah kendaraan taktis 
antianarkisnya itu.


MKRI pun terlalu ge-er (gede rasa) dengan menamakan dirinya Majelis Kedaulatan 
Rakyat Indonesia. Atas dasar apa mereka berani mengklaim dirinya sebagai 
mewakili kedaulatan rakyat, dengan agenda menggulingkan pemerintahan Presiden 
SBY dan Wapres Budiono itu?


Meskipun pemerintahan SBY memang sangat memprihatinkan, apakah suatu gerakan 
menggulingkan pemerintahan yang sah adalah solusinya? Sebaliknya, itu malah 
akan membawa dampak politik dan sosial yang  jauh lebih buruk bagi rakyat. 
Padahal, pemerintahan SBY itu tinggallah 1,5 tahun lagi akan berakhir secara 
sah.


MKRI tak bercermin, terlalu pe-de tanpa dasar, merasa mereka pasti didukung 
rakyat banyak, berani-beraninya mengklaim gerakan mereka akan didukung paling 
sedikit 3.000 orang lewat unjuk rasa besar-besaran itu. Kenyataannya, yang 
datang di panggung orasinya pun tak lebih dari 200-an orang. Itu pun terdiri 
dari ibu-ibu dengan anak-anaknya dan orang tua. Itu pun karena mereka 
teriming-iming dengan pembagian sembako.


Seandainya tak ada iming-iming sembako itu, yang datang mendengar orasi mereka 
itu jangan-jangan hanya sejumlah wartawan yang meliput. Mungkin karena setelah 
tahu gerakan 25 Maret mereka ternyata tak dianggap rakyat, MKRI itu segera 
berkreasi dengan mengadakan “door prize” sembako itu. Terindikasi dengan 
pembagian sembakonya pun sangat telat. Sampai dengan pukul 14.00 WIB kemarin, 
sembakonya tak kunjung dibagi.


Sejumlah ibu-ibu yang mengantre sembako itu pun merasa kecele. Mereka tidak 
tahu tentang aksi MKRI itu. “Ngapain? Kalau tahu begini enggak ikut, ujar Siti, 
warga Bukit Duri, yang merasa lelah menunggu pembagian sembako, di pelataran 
kantor YLBHI Jakarta itu (Metrotvnews.com)


 
(Sumber: Beritahukum.com)


Aksi orasi MKRI di YLBHI pun ternyata tidak terlebih dulu meminta izin ke 
YLBHI. Orang-orang YLBHI pun enggan ikut-ikutan. Masih untung YLBHI masih 
berbaik hati, dengan memberi tempatnya kepada MKRI untuk melancarkan aksinya 
itu (Kompas.com).


Setelah, ternyata, aksi mereka tak berbunyi, dan tidak dianggap rakyat, bahkan 
dicibir publik. Para pimpinan MKRI itu melakukan gerakan “balik kucing,” dengan 
mengatakan bahwa aksi mereka itu sama sekali tidak bermaksud melakukan kudeta 
terhadap Presiden SBY. SBY bahkan dikatakan mengalami  “sakit jiwa”  karena 
menuduh MKRI hendak melakukan kudeta itu.


“Maksudnya Presiden, mengatakan kudeta itu seperti apa (siapa yang mau kudeta)? 
Logikanya jangan dibalik, dong, dia (SBY) adalah panglima tertinggi dari 
angkatan laut, udara, dan darat, kami hanya masyarakat sipil,” kata Juan Forti 
Silalahi di YLBHI, Senin, 25 Maret kemarin.


Juan mengatakan, bagaimana cara masyarakat sipil melakukan kudeta, masyarakat 
notabene tidak memiliki senjata, “Ketakutan mereka diumbar ke siapa? Ini ‘kan 
artinya dia (SBY) mengalami ‘sakit jiwa’,”  kata Juan (tribunnews.com).


“Siapa yang bilang mau kudeta?” ujar anggota Presidium MKRI, Razman Arif 
Nasution, sesaat sebelum panggung rakyat dimulai, di depan kantor YLBHI 
kemarin. “Kami hanya minta Presiden melaksanakan Pancatura atau lima tuntutan 
rakyat.” (Koran Tempo, Selasa, 26/03/2013)


Kelima tuntutan MKRI itu adalah menuntut nasionalisasi aset migas dan kontrak 
karya; penurunan harga bahan kebutuhan pokok, termasuk bawang; menghentikan 
impor komoditas strategis; menuntaskan penanganan kasus korupsi, kolusi, dan 
nepotisme; serta menghentikan kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.


Kedua tokoh MKRI itu, juga Ratna Sarumpaet di Metro TV Senin sore kemarin 
menyangkal gerakan mereka itu bermaksud untuk mengkudeta kepimpinan Presiden 
SBY dan Wapres Budiono. “Siapa yang mau kudeta?” Kata mereka beramai-ramai.


Mereka lupa dengan slogan mereka sendiri, yang juga tertera sangat jelas di 
spanduk yang digantung di belakang mereka ketika mengumumkan rencana aksi 
mereka itu secara resmi pada 16 Maret lalu. Di situ dengan jelas tertera 
tulisan: “MKRI Nasional – Menggulingkan SBY – Budiono Sebuah Keniscayaan.”

Beda, ya, “menggulingkan SBY-Budiono” dengan “mengkudeta SBY - Budiono”?







 
Pertanyaan buat MKRI: Beda, ya, Menggulingkan SBY - Budiono dengan Mengkudeta 
SBY - Budiono? (Sumber: Tribunnews.com)
   
  Pertanyaan buat MKRI : Turunkan SBY-Buiono, (Bentukkan) Pemerintahan 
Transisi, ini beda, ya, dengan kudeta? (sumber: Metrotvnews.com)


Jadi, siapa yang “sakit jiwa”? 


SBY “sakit jiwa,” MKRI juga.


SBY “sakit jiwa” karena terlalu paranoid dengan bayang-bayang hantu kudeta.


MKRI “sakit jiwa” karena terlalu ge-er dan pe-de dengan gerakan mereka yang 
katanya mau gulingkan SBY-Budiono itu. Tanpa berpikir logika, bagaimana bisa 
dan caranya gerakan itu mereka wujudkan. Rupanya, mereka terlalu yakin gerakan 
itu akan menimbulkan “people power” yang kemudian akan didukung kelompok 
militer tertentu. Nyatanya, hasilnya seperti bunyi iklan Isuzu Panther: “Nyaris 
Tak Terdenga


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke