*Konsep Baik vs Proyek Mahal  ~  solusi banjir Jakarta*

Selain mengirimkan surat penawaran ke Gubernur DKI, beberapa kali saya
mendapat tanggapan dari Wagub Ahok. Pak Ahok mengatakan bahwa proposal saya 
akan beliau kaji. (Terima kasih pak Ahok). Seperti yang saya janjikan,  usai 
Pilkada Jabar saya akan mengungkapkan keunggulan konsep saya kepada teman-teman 
semua...

*
*
*Kerugian Jakarta akibat Banjir Musiman*

Musim panghujan di DKI& Jabar umumnya terjadi antara November- Februari.
Setahu saya, sejak Indonesia merdeka tahun 1945 hingga kini 2013, setiap tahun 
banjir tidak pernah absen mengunjungi Jakarta.uniknya tahun 2013 ini banjir 
sempat masuk istana negara,sehingga hampir membatalkan pertemuan presiden SBY 
dan presiden Argentina. Jadi sejak kemerdekaan Indonesia, sudah 68x Jakarta 
mengalami musim banjir. Pak Jokowi menaksir kerugian Jakarta akibat banjir 2013 
adalah sekian puluh Triyun. Saya kira nilai yang ditaksir pak Jokowi itu adalah 
kerugian infra-struktur DKI yang bisa  diperkirakan. Namun banyak pula kerugian 
dunia usaha, kemacetan/ pemborosan lalin/ waktu/ energi/ pembatalan, 
sosial-masyarakat serta banyak masalah
JaBoDeTaBek yang sulit diukur.

Walau air dan hujan adalah rahmat dan berkat kebaikan Illahi, bukan berarti 
kita juga harus menikmati bencana banjir sebagai kompensasinya. Karena 
memperoleh karunia akal budi, kita berhak bahkan bertanggung jawab untuk 
mengelola ekosistem DKI, supaya hujan berkat serta damai sejahtera bisa 
sepenuhnya bermanfaat bagi kita semua.
*
*
*Konsep Baik vs. Proyek Mahal vs. Efekitivitas Produk*

Menurut saya, *Konsep Baik* tidaklah selalu sejalan dengan *Proyek Mahal*.
Sementara itu Proyek Mahal tidak selalu sejalan dengan *Efektifitas Produk*.

Sebelum menilai proyek yang saya tawarkan, saya akan kemukakan penilaian 
(gagasan)  Proyek Mahal menurut analisa saya:

*1.     **Konsep Membangun sekian puluh ribu ‘sumur resapan’ *

Anggarannya sekian puluh Trilyun.

Sebenarnya tahun 1986, saya mengirimkan artikel inovasi Kolam Rembasan
sebagai Pemasok Air Tanah (dan Mencegah Banjir) kepada Redaksi Kompas,
sebelum akhirnya Presiden Soeharto memutuskan pembongkaran villa-villa, karena 
kemudian wilayah Puncak ditegaskan kembali sebagai wilayah rembasan  air hujan. 
Walau berbentuk seperti sumur bawah tanah, karena bukan berfungsi sebagai 
sumber air yang mengumpulkan/ menerima air tanah, saya namakan sebagai Kolam 
(tempat penampungan air dari atas tanah). Karena ‘kolam’ itu berfungsi memasok/ 
menyebarkan air ke dalam tanah yang volumenya lebih besar dari volume kolam, 
saya namakan merembas (bukan meresap ataupun menyerap). Saya kira konsep kolam 
rembasan ini kurang bermanfaat untuk diterapkan di wilayah Jakarta, karena 
ketinggian tanah Jakarta hanya beberapa meter di atas permukaan air laut 
(sehingga permukaan air tanah sangat cetek), sementara  tanah Jakarta dipenuhi 
akar beton sehingga air disitu seperti air yang mengisi basement gedung UOB 
(yang tidak akan habis jika tidak dipompa).


Selain itu yang menjadi patokan bukan hanya berapa ribu ‘sumur resapan’/ kolam 
rembasan yang harus dibangun, tetapi berapa kilometer kubik daya tampungnya. 
Agar mudah, sebagai perkiraan kebutuhan penampungan air banjir, adalah dengan 
mengkalikan luas daerah terendam dikalikan tinggi rata-rata air di saat banjir 
yang serius di Jakarta. Namun jika ini jadi diterapkan, permukaan tanah Jakarta 
bisa penuh bolong-bolong dan sangat banyak basement di bawah bangunan-bangunan 
yang diperuntukkan bagi gudang penyimpanan air hujan.

Walau belum sempat menghitungnya, saya kira konsep ini akan RMKE (Repot, Mahal 
serta Kurang Efektif).



*2.      ** Konsep Deep Tunnel (terowongan bawah tanah) dengan anggaran 70
Trilyun. *

Membuat terowongan jauh didalam tanah agar pada saat banjir bisa
mengalirkan air ke laut dan saat musim kemarau difungsikan sebagai jalan
raya. Dalam bayangan saya terowongan sampai ke laut itu seperti
bumbung-berhubungan yang senantiasa akan terisi oleh air/ air laut,
sementara tinggi permukaan air dalam bumbung itu akan sama tinggi dengan
permukaan air laut. Selain sulit dan mahal biaya pembuatannya, ada beberapa
pertanyaan yang menjadi kendala bagi penerapan konsep ini... Seandainya
terowongan itu kelak banyak terisi sampah, bagaimana cara membersihkan dan
mengeluarkannya? Sedang jika permukaan air laut sedang pasang,
jangan-jangan justru air laut yang akan masuk dan menggenangi wilayah
Kampung Melayu, Teluk Gong atau Kampung Pulo... Lalu pada saat musim
kemarau, jika terowongan yang berhubungan dengan perairan Laut Jawa di
Teluk Jakarta itu akan difungsikan untuk jalan raya, supaya terowingan bisa
kering, bagaimana cara menyedot air laut demikian banyak dan airnya mau
dikirim kemana ya...?


Saya kira RMRKE (Rumit, Mahal, Ribet, Kurang Efektif)

* *

*3.       ** Konsep Giant Sea Wall (Tembok sepanjang pesisir pantai
Jakarta).*

Anggarannya sekian puluh Trilyun.

Saya kira GMTE (Gampang, Mahal, Tidak Efektif)

* *

*4.       ** Konsep Menambah Ketinggian Tanah Jakarta.*

Teoritis itu bisa efektif. Namun jika anggaran Pemda puluhan Trilyun, maka
anggaran renovasi bangunan yang harus dikeluarkan masyarakat/ penduduk DKI
bisa mencapai ratusan Trilyun.


Menurut saya itu MdRS (Mahal dan Repot Sekali)

*5.      **Konsep yang saya tawarkan*

Dalam memenuhi standar Konsep Baik, kita bisa menggunakan pengukuran
menurut :

   - 1.       Standar Efektifitas dan Efisiensi


   - 2.       Kemudahan Pembuatan dan Penerapan


   - 3.       Harga Produksi

Saya kira hingga kini belum ada gagasan mengatasi banjir Jakarta yang
sebaik konsep rancangan saya. Bukan hanya nilai efektifitasnya lebih
berkwalitas, namun dengan menerapkan konsep saya, Pemda DKI akan menghemat
karena tidak usah menerapkan konsep-konsep yang menurut saya TMRKE (Terlalu
Mahal, Repot dan Kurang Efektif) itu.


 Lalu, seandainya proyek saya diterapkan, berapa taksiran harga produksi
yang diperlukan? Karena ada beberapa variabel, saya sendiri belum
menghitung.  Namun seandainya anggaran dana Foke bagi normalisasi sungai
Jakarta yang senilai Rp 3,45Trilyun masih ada, saya taksir nilainya lebih
dari cukup untuk membebaskan Jakarta dari banjir tahunan.





Teman2,


Belakangan saya menawarkan proposal konsep kepada Wagub Ahok.


Walaupun nilainya cukup berarti bagi kami, harganya sangatlah kecil
dibanding dengan manfaatnya. Dalam sistim pembayaran per termijn, saya akan
menyelesaikan hingga tanggung jawab saya tuntas. Kemungkinan dalam
pelaksanaan tanggung jawab kontrak, saya akan lebih sering meninggalkan
rumah dan toko kami. Karena itu seandainya kelak (mudah-mudahan tidak akan
terjadi) ternyata menurut pengukuran efektifitas produknya di bawah
standar, dan setelah sejumlah revisi saya tetap tidak mampu memperbaikinya,
sementara tanpa intimidasi saya akan menyatakan menyerah serta mengakui
bahwa saya tidak bisa memperbaiki konsepnya. Selanjutnya sesuai kesepakatan
kontrak, saya akan melaksanakan money-back warranty.


 Sementara dalam proposal kepada pak Ahok sebelumnya, saya menjamin bagi
resiko gagal untuk tidak menerima  90% fee seharusnya, kini saya akan
koreksi menjadi 95%. Jadi seandainya saya benar-benar sampai tidak mampu
hingga akhirnya gagal mencapai standar minimum efektifitas, saya hanya akan
memperoleh 5% dari fee saya yang sudah termasuk pajak dan biaya akomodasi
yang menjadi kewajiban saya.


Sebenarnya saya menyiapkan beberapa gagasan untuk diterapkan sekaligus baik
bagi Jakarta dan juga bagi berbagai wilayah macet/ banjir/ rawan kebakaran&
debu vulkanik pada perkotaan/ pedesaan/ hutan/gedung tinggi/ pegunungan
Indonesia. Selain konsep solusi banjir yang saya tawarkan kepada Pemda DKI,
konsep  solusi kemacetan lalu lintas kepada Menhub Mangindaan dan solusi
labilitas lahan Hambalang Sport Center, saya juga ingin berdiskusi dengan
pak Jokowi mengenai konsep pemukiman Kampung Cluster (Gabungan Konsep
Kampung Deret& Konsep Kampung Susun + Metode Tukar Guling& Sistim SewaBeli
+ Konsep Green Clusters’ Energy).  Namun supaya hemat tenaga dan tidak
kewalahan dengan tanggung jawab aktivitas, sementara saya akan fokuskan
dengan menunggu respons Pemda DKI dalam konsep solusi banjir tahunan.



Feed back...


Trims, teman2. Sebenarnya saya bemaksud untuk membalas respons/ feed back
yang masuk. Namun karena tanpa ketahui sebelumnya, semalaman kecamatan kami
terkena pemadaman listrik. Disayangkan pemadaman listrik PLN sering
dilakukan dan hampir tidak pernah diumumkan jadwal rencana pemadaman
sebelumnya,
seringkali mengacaukan rencana dan aktifitas kami. Mudah-mudahan feed back
teman2 saya bisa jawab segera jika waktu saya sudah memungkinkan.



Salam Konstruktif,


Mulyadi Dharmadi

Anggota DEMOKRAT


*shared with everyone in the world ~ inspiration for goodness*
*YohanesMulyadiLiu 


------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://profitclicking.com/?r=kQSQqbUGUh

Visit Profit Click Income 
http://profitclickincome.blogspot.com/

NEW Portal and Search Engine for ALL
http://www.synergyprofit.com/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke