http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=41441

SELASA, 26 Maret 2013 | 


Bedol-bedolan untuk Rusun Kemayoran


SAYA ajak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk mojok sebentar. Itu terjadi 
saat kami menunggu kedatangan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan 
meresmikan dimulainya proyek 

terbesar dalam sejarah BUMN di bidang pelabuhan Jumat sore lalu. Kami pun 
bisik-bisik agar tidak menarik perhatian orang sekitar.

Di situ, di ruang tunggu direksi PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT 
Pelindo II (Persero) Tanjung Priok, saya bisikkan ide tentang fungsi rumah 
susun untuk perbaikan perkampungan kumuh di Jakarta. Ide itu sebenarnya sudah 
saya pidatokan saat peletakan batu pertama pembangunan rumah susun Perumnas di 
Kemayoran sehari sebelumnya.

Sebelum upacara itu, saya mampir dulu ke rumah susun yang sudah lebih dulu 
berdiri di sebelahnya. Itulah dua tower rumah susun 18 lantai yang dibangun 
BUMN Perum Perumnas di awal pemerintahan SBY-JK.

Rusun itu awalnya dirancang sebagai awal dari program pembangunan 1.000 tower 
rumah susun di seluruh Indonesia. Tapi, pelaksanaannya tidak mulus. Perizinan 
yang waktu itu dijanjikan serba-Ferrari ternyata seperti Tucuxi. Berhenti sama 
sekali.

Namun, dengan semangat Jokowi yang berjanji memperlancar segala perizinan, saya 
minta Perumnas untuk kembali membangun tower-tower rumah susunnya. Kalau bisa, 
tekad saya, rumah susun Perumnas ini menjadi rumah susun pertama yang menjadi 
kenyataan di era Jokowi ini. Untuk membuktikan benarkah birokrasi di DKI sudah 
berubah.

Dalam kunjungan ke lantai 17 rumah susun Kemayoran itu, saya merasakan seperti 
berada di sebuah apartemen yang enak. Lokasi rumah susun tersebut sungguh 
istimewa. Pemandangan sisi utaranya adalah Laut Jawa yang biru. Pemandangan 
arah sebaliknya adalah lapangan golf yang indah.

Dalam hati, saya berkata: pantas penghuni rumah susun ini terlihat sangat 
sejahtera. Rupanya, yang masuk rumah susun di Kemayoran ini adalah mereka yang 
pendapatannya sudah relatif baik. Buktinya terlihat dari fasilitas yang mereka 
miliki di kamar masing-masing.

Saya pun berkesimpulan pola penghunian rumah susun seperti ini tidak akan bisa 
memperbaiki perkampungan Jakarta yang padat dan kumuh. Yang masuk rumah susun 
ini bukanlah mereka yang berasal dari perkampungan yang sangat miskin. Penghuni 
rumah susun seperti ini adalah mereka yang minimal sudah punya tabungan Rp 15 
juta (untuk membayar uang muka).

Akibatnya, rumah susun bisa saja terus tumbuh, tapi perkampungan padat dan 
kumuh tidak bisa berkurang.

Inilah yang saya bisikkan ke Jokowi. “Ayo kita ubah cara berpikir seperti itu,” 
bisik saya. Caranya: rumah susun yang pemancangan tiang pertamanya saya lakukan 
Kamis lalu itu tidak lagi disiapkan untuk mereka yang mendaftar. Tapi untuk 
menampung “bedol RT” atau “bedol RW”.

Saya bisikkan: Kita cari satu atau dua RT daerah padat dan miskin. Kalau 
seluruh warga RT yang sangat miskin itu sepakat boyongan serentak bersama-sama 
ke rumah susun yang hebat itu, maka merekalah yang harus ditampung.

Mereka tidak perlu membayar uang muka (karena memang tidak akan punya). Namun, 
mereka harus menyerahkan lokasi satu atau dua RT tersebut ke BUMN. Di lokasi 
yang ditinggalkan tersebut (katakanlah luasnya satu atau dua hektare) dibangun 
rumah susun 18 lantai oleh BUMN.

Kalau rumah susun di lokasi bekas “bedol RT” tersebut sudah berdiri, kita cari 
lagi satu atau dua RT yang juga mau “bedol RT”. Di lokasi bekas “bedol RT” 
tersebut dibangun lagi rumah susun oleh BUMN. Begitu seterusnya. Bergulir tidak 
henti. Sampai tidak ada lagi RT atau RW kumuh di DKI.

Dengan demikian, rumah susun yang dibangun akan bisa ikut menyelesaikan masalah 
lingkungan kawasan kumuh.

“Setuju!” jawab Jokowi.
“Hanya Pak Jokowi yang bisa merayu warga untuk mau bedol RT. Saya tidak punya 
kewenangan,” kata saya.

“Saya yakin bisa. Banyak yang akan mau,” jawab Jokowi.
Begitulah. Hasil mojok kami berdua sangat konkret.

Sayang sekali rumah susun yang dibangun dengan mahal tidak bisa ikut 
memperbaiki lingkungan kumuh di Jakarta. Saya pun lantas minta kepada direksi 
Perumnas untuk melaksanakan ide ini. Tidak boleh lagi menjual rumah susun itu 
hanya kepada yang mampu membayar uang muka.

Rumah susun ini sungguh murah. Sebab, biayanya ditanggung oleh BUMN. Dalam 
waktu dua tahun, harga rumah susun ini sudah akan naik lima kali lipat di pasar 
bebas. Lokasinya begitu strategis. Bangunannya begitu bagus. Pemandangan 
sekitarnya begitu indah.

Tidak ada salahnya sekali-sekali warga yang sangat miskin mendapat haknya untuk 
berada di lingkungan yang lebih baik. Bahkan, kali ini biarlah golongan yang 
miskin itu yang akan mendapat gain yang amat besar itu.

Saya tahu bahwa ide seperti ini bisa saja akan mendapat penolakan dari jajaran 
internal Perumnas sendiri. Secara bisnis, ide seperti ini memang kurang 
menarik. Tapi, karena dana pembangunan rumah susun ini dari BUMN (bukan hanya 
dari Perumnas yang juga BUMN), maka saya minta kali ini berbeda.
Saya juga tahu, sebagian penolakan itu berlatar belakangan khusus: model “bedol 
RT” seperti itu tidak memberikan peluang untuk ngobyek.

Dirut Perum Perumnas Himawan Arief Sugoto saya minta untuk terus melakukan 
koordinasi dengan Pemprov DKI. Di atas kertas ide seperti ini kelihatannya 
mudah, tapi di lapangan bisa jadi seperti mbah-mbah.

Ada dua terobosan lagi yang saya jadikan pembicaraan saat mojok dengan Jokowi 
sore itu. Di bidang transportasi dan penanggulangan banjir. Dua-duanya 
disetujui dan akan kami laksanakan bersama secara cepat. Namun, rumah susun 
Kemayoran akan kami jadikan model dulu.

Saya ingin melihat apakah dalam tiga bulan nanti sudah bisa ditemukan satu atau 
dua RT yang mau “bedol” ke rumah susun Kemayoran.

Rumah susun itu akan terdiri atas dua tower. Saya sudah minta kontraktor BUMN, 
PT Hutama Karya, untuk menyelesaikannya dalam waktu sembilan bulan. Dirut 
Hutama Karya Tri Widjajanto Joedosastro sanggup. Ini berarti RT yang siap 
“bedol” ke rumah susun Kemayoran sudah harus ditemukan dalam waktu tiga bulan 
ke depan.

Saya tahu soal rumah susun menjadi salah satu janji kampanye Jokowi dulu. Untuk 
rumah susun yang sudah ada pun, masih banyak persoalan. Sayangnya, tidak banyak 
yang bisa dibantu oleh BUMN. Kecuali satu: keinginan Jokowi agar rumah susun 
bisa dialiri gas untuk dapur-dapur mereka.

Dirut BUMN yang menangani gas, PT PGN (Persero) Tbk, Hendi Priyo Santoso, sudah 
sanggup. Tentu, ada syaratnya, bahwa perizinan di bidang pembangunan jaringan 
pipa gas bisa dipermudah. Selama ini Hendi sering mengeluh sulitnya mendapatkan 
izin perluasan jaringan gas di Jakarta.

Kini, dengan permintaan Jokowi itu, tidak ada jalan lain kecuali jaringan pipa 
gas memang harus diperluas di Jakarta. Pak Jokowi pun menyanggupi percepatan 
perizinan itu.

Dan, rupanya, Jokowi betul-betul bergerak cepat. Dua hari setelah pembicaraan 
itu, justru staf Pemprov DKI yang menelepon Hendi untuk mengambil izin yang 
sudah bertahun-tahun nyangkut di sana.

Tentu, saya juga ingin tower pertama yang dibangun Perumnas di saat saya 
menjadi menteri BUMN tersebut ada plusnya. Misalnya, sejak saat dirancang sudah 
sekalian disiapkan jaringan internet ke seluruh kamarnya. Dengan demikian, 
masyarakat miskin yang menjadi penghuni rumah susun itu nanti bisa menyiapkan 
anak-anak mereka menjadi generasi baru yang akan memutus mata rantai kemiskinan 
mereka.

Itu tidak sulit. Begitulah cara Tiongkok menyiapkan rumah susun untuk 
masyarakat miskin mereka. Rumah susun tidak hanya dipergunakan untuk mengubah 
wajah perkampungan, tapi juga untuk memutus rantai kemiskinan dan 
ketertinggalan.

Saya ingat Jokowi pernah melakukan “bedol kaki lima” yang amat terkenal di 
Solo. Saya ingin tahu gaya kemeriahan Jokowi dalam melakukan “bedol RT” di 
Betawi! (*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke