http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=65&id=41468


JUMAT, 28 Maret 2013 | 

Dr Jacob Bernadus Sitanala

Pahlawan dan Tokoh Nasional Asal Maluku
JACOB Bernadus Sitanala dilahirkan dalam suatu keluarga pengusaha kecil pada 18 
September 1889 di Kayeli, Pulau Buru. Ia keturunan keluarga besar Sitanala dari 
Desa Suli di Pulau Ambon. 

Setelah menamatkan pendidikan dasar pada “Ambonsche Burger School” di Ambon dan 
pendidikan menengah MULO pada 1904, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah 
kedokteran yaitu “STOVA” di Jakarta. Pada tahun 1912 Sitanala berhasil 
memperoleh ijasah dokter dan ditempatkan di berbagai tempat di Indonesia. 
Karena prestasinya yang tinggi dalam tugas pelayanan kedokteran dan penelitian 
ilmiah, ia mendapat tugas belajar ke Negeri Belanda tahun 1923 dan mendalami 
ilmu Penyakit Kusta (Lepra). 

Pada tahun 1926 berhasil memperoleh diploma “Nederlandsche Arts” dan pada tahun 
1927 mendapat gelar doctor dan guru besar dalam Ilmu Penyakit Kusta. Setelah 
kembali ke Indonesia dan bertugas sebagai ahli Penyakit Kusta, Dr Sitanala 
diangkat sebagai Kepala Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia.

Dr Sitanala adalah ahli Penyakit Kusta yang bertama di Indonesia. Sebagai 
perintis pemberantasan Penyakit Kusta, ia dikenal pula di dunia Internasional 
karena karya-karya ilmiah hasil penelitian dan metode baru pengobatan Penyakit 
Kusta yang ia kembangkan. Untuk itu, raja Kerajaan Swedia berkenan memberikan 
bintang kehormatan tertinggi “Wasa Orde” yang setaraf dengan “Nobelprijs” 
(hadiah nobel) kepadanya dan juga sebuah bintang jasa dari perkumpulan 
sarjana-sarjana internasional dalam bidang kesehatan.

Ia terkenal pula sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan Indonesia. Selama 
studi di Negeri Belanda, menjabat Wakil Ketua Perhimpunan Indonesia, sangat 
aktif dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta menjadi 
penasehat dari organisasi politik Sarekat Ambon. Perasaan nasionalismenya 
sangat tinggi dan terlihat dalam usaha-usaha untuk membela rakyat kecil yang 
diperlakukan tidak manusiawi dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan juga 
menentang ras diskriminasi di kalangan profesi kedokteran.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Palang Merah Indonesia 
(PMI). Setelah bertugas ke Ambon pada tahun 1947, masih tetap mengabdi 
sepanjang hayatnya. Beliau meninggal dunia pada 30 Agustus 1958 dan oleh 
Pemerintah RI dihargai sebagai “Perintis Kemerdekaan” dan tokoh nasional yang 
besar. (Sumber: BPNB Ambon)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke