R a l a t

REF :  Judul berita salah  ditulis, seharusnya : “SBY dan kegagahan Indonesia”. 
SBY bisa bicara Inglis dan bisa pakai pesawat terbang spesial untuk presiden 
pergi sana sini, jadi gagah bukan gagap.

http://www.shnews.co/detile-17240-sby-dan-kegagapan-indonesia.html


SBY dan Kegagapan Indonesia 
M Romandhon MK* | Rabu, 03 April 2013 - 14:07:48 WIB

: 146 



(dok/antara)

Kondisi ini disebut beberapa pakar sebagai gejala failed state (negara gagal). 


Menjelang berakhirnya masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 
situasi politik di Indonesia kian hari kian riuh. 

Berbagai isu dan fenomena ganjil mengiringi akhir perjalanan masa bakti 
Presiden SBY. Mulai dari KLB (Kongres Luar Biasa) Partai Demokrat di Sanur, 
Bali (30/3), isu kudeta pada 25 Maret, hingga penyerbuan LP Cebongan, Sleman, 
DI Yogyakarta pada 23 Maret. 

Wibawa negara kian tak bertuah tatkala LP Cebongan disatroni segerombolan orang 
tak dikenal. Dalam penyerbuan ini, empat tahanan asal NTT tewas dengan kondisi 
mengenaskan. 

Pada bulan yang sama, tanggal 7 Maret, masyarakat disuguhi narasi baku hantam 
antara TNI AD Armed 76/15 Martapura yang menyerbu kompleks Markas Polres Ogan 
Komering Ulu (OKU). Serbuan ini membumihanguskan Kantor Polisi OKU serta 
menewaskan satu warga sipil. 

Bersamaan dengan itu, nasib sama juga dialami tentara Indonesia yang berada di 
bumi Papua, delapan prajurit TNI gugur di Distrik Sinak dan Tingginambut, 
Kabupaten Puncak Jaya, Papua akibat ditembaki kelompok bersenjata pada 21 
Februari. Kondisi ini tentu semakin memperparah kekacauan di negeri ini. 
Kekerasan dan premanisme terus menjadi momok. 

Belum selesai dihadapkan pada masalah ketahanan pangan, berbagai persolan hilir 
mudik silih berganti. Masih teringat jelas bagaimana kegagalan bangsa ini dalam 
mengelola impor daging sapi hingga pada “paceklik” bawang putih. 

Mimpi berswasembada daging, bumbu, palawija, dan beras hanya ilusi di siang 
hari. Rentetan peristiwa bersejarah belakangan ini adalah bukti nyata bagaimana 
situasi yang melanda Indonesia jelang pergantian suksesi pemimpin 2014, membuat 
negara dihadapkan pada situasi gaduh. 

Berbagai wacana publik tumpah ruah menyesaki dinding tebal perkampungan warga. 
Dunia sepak bola tanah air berduka usai dipermalukan Arab Saudi di Gelora Bung 
Karno pada 23 Maret, elite politik gaduh, bahkan isu kudeta menjelma menjadi 
phobia akut di tataran elite pemerintahan. 

Ribuan pasukan dikerahkan guna mengantisipasi amukan massa. Seakan segalanya 
sudah berada di titik nadir. Tidak ada lagi rasa percaya antara TNI dan polisi. 
Nalar su’uzdhon menjelma menjadi harga mati bagi masyarakat. 

Akal sehat tak lagi bisa berpikir rasional. Isu kudeta telah menyebabkan 
Presiden SBY paranoid. Ketakutan itu mengingatkan penulis pada sosok Amangkurat 
I tatkala Kerajaan Mataram Islam dikoyak isu pemberontakan dan pembangkangan. 

Kisruh Politik Abad ke-17 

Good reason and real reason, nampaknya kita perlu menengok sejarah pergolakan 
politik raja-raja Jawa pada abad ke-17. Kekisruhan politik di tataran elite 
raja dimanfaatkan tentara Belanda saat mengepung tanah Jawa. Setelah Sultan 
Agung mangkat, raja Mataram berikutnya diganti Sunan Amangkurat I (1645-1677). 

Pada masa pemerintahannya, kejayaan Mataram mulai memudar. Raja-raja berikutnya 
juga tidak mampu membawa Mataram kembali ke masa jayanya. Daerah-daerah yang 
berada di bawah kekuasaan Mataram, satu per satu berusaha memisahkan diri. 

Akhirnya, setelah dikacaukan dengan berbagai pemberontakan seperti Pangeran 
Trunojoyo dari Madura yang mendirikan keratonnya di Kediri (1677-1680) dan 
Untung Surapati yang kemudian berkeraton di Pasuruan (1686-1703), Mataram 
terjerumus dalam tiga perang suksesi, yang berakhir dengan Perjanjian Giyanti 
(1755) dan Perjanjian Salatiga (1757) (HJ De Graaf, 1987: 49). 

Akibatnya pascapemerintahan Sultan Agung dan Amangkurat I, pada 1675 kerusuhan 
pecah. Setelah kekisruhan itu, akhirnya raja-raja Mataram gagal memulihkan 
kekuasaannya atas keseluruhan tanah Jawa. Ketika tahun 1755 perdamaian kembali 
tercapai, namun ibarat nasi jadi bubur, kerajaan telah pecah. Priangan yang 
merupakan inti tanah Pasundan, lepas dari pengawasan para sunan. 

Tahun 1667, Citarum ditetapkan sebagai perbatasan. Selanjutnya tahun 1705 
perbatasan dimundurkan sampai ke Cirebon (Denys lombard, 2006: 45). Dengan 
demikian dapat dipastikan Jawa Barat sudah berada di luar sistem kerajaan Jawa 
dan menjadi semacam “tanah tak bertuan”. Saat itulah momentum bagi VOC untuk 
mengambil alih tanah Pasundan. 

Alhasil wilayah inti kesunanan abad ke-17 dibagi menjadi tiga “kerajaan“ 
terpisah. Keadaan di wilayah Jawa Timur jauh lebih kacau lagi. Daerah bekas 
jantung Majapahit itu terus-menerus memberontak dan dijadikan basis berbagai 
pembangkang. 

Pada akhirnya meletuslah peristiwa yang terkenal dalam sejarah tradisional 
sebagai “tiga Perang Suksesi“. Perang Suksesi pertama, ketika Amangkurat II 
meninggal dunia, dan anaknya, Amangkurat III melawan saudaranya Pangeran Puger, 
yang bergelar Paku Buwana I. Peristiwa sejarah abad ke-17 menjadi bahan kajian 
menarik untuk melihat Indonesia dewasa ini. 

Diskursus disharmonisasi yang terjadi antarsesama pihak keamanan di negeri ini 
bisa menjadi bola liar sekaligus menjelma menjadi bom waktu yang setiap saat 
meledak. Jahdan Ibnu Malik (2013) mengutip Lensky mengatakan, sedikit revolusi 
di negeri ini yang berhasil tanpa bantuan militer, kecuali militer dalam 
keadaan disintegrasi dan demoralisasi. 

Good reason for clouding real reason, telah datang suatu masa atau situasi yang 
bagus untuk menutupi kondisi sebenarnya. Bisa diibaratkan fenomena yang melanda 
negeri ini tak ubahnya wabah anomali. 

Yakni suatu masa di mana terjadi penjungkirbalikan nilai atau norma, serta 
ketidakpastian berbagai hal. Kondisi ini disebut-sebut beberapa pakar sebagai 
gejala failed state (negara gagal). Lantas, akan dibawa ke mana alur cerita 
yang bernama Indonesia? Wallahu a’lam. 

*Penulis adalah Analis Kebudayaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan 
Kalijaga, Yogyakarta. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke