Menteri PU Djoko Kirmanto dan Gubernur DKI Joko Widodo : Bank Dunia Cs, Tak 
Beda dengan Rentenir

INILAH.COM.Jakarta - Satu peristiwa langka telah 
terjadi. Dua pejabat Indonesia, Menteri PU Djoko Kirmanto dan Gubernur 
DKI Joko Widodo, secara terbuka menyatakan kejengkelan terhadap Bank 
Dunia. Keduanya menilai Bank Dunia mengajukan persyaratan yang 
bertele-tele dan cenderung mendikte ketika memberi pinjaman.
 
Bank Dunia terlalu dalam mencampuri pelaksanaan Jakarta Emergency Dredging 
Initiative (JEDI). Mereka mengatur harus begini, mesti begitu. Padahal 
kita ini ‘bapak’ dari rakyat di bantaran kali tahu bagaimana harus 
memperlakukan mereka, ujar Jokowi.

Wakil Basuki T Purnama menilai 
masa pekerjaan JEDI, pengerukan sungai-sungai di Jakarta, yang 
ditawarkan Bank Dunia terlalu lama yakni lima tahun. Hal ini akan 
memberatkan sebab bunga utang akan membengkak.

Keduanya 
mengisyaratkan akan menggunakan sisa lebih anggaran pemrov DKI yang 
mencapai Rp10 triliun, sebab utang yang ditawarkan Bank Dunia itu hanya 
sekitar Rp1,25 triliun atau US$139,64 juta.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto juga mendukung keberatan Pemprov DKI 
sebab Bank Dunia 
memberi syarat semaunya dan tak masuk akal. “Kami sudah membuat pra 
kualifikasi, namun mereka mencoret apa yang sudah kami tawarkan,” 
ujarnya tentang perilaku para kreditur.

Sebetulnya sudah lama 
dikeluhkan perilaku Bank Dunia, IMF dan lembaga multilateral yang suka 
mendikte pemerintah penerima pinjaman. Keluhan itu jarang datang dari 
pejabat pemerintah, kecuali almarhum Presiden Venezuela Hugo Chaves, 
tetapi dari para ekonom termasuk Joseph Stiglitz dari Universitas 
Columbia dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat.

Bank Dunia cs 
memang memberi pinjaman dengan bunga lebih rendah dari bunga pasar dan 
berjangka panjang, tetapi syarat-syarat yang menyertainya memberatkan. 
Biasanya syarat itu mendorong diberlakukan perubahan kebijaksanaan 
ekonomi agar iklim investasi yang lebih liberal, swastanisasi bukan 
profitisasi BUMN, mengurangi peran negara hingga hanya kepada posisi 
fasilitator dan membangun perekonomian yang berorientasi ekspor.

Pemberi pinjaman juga mensyaratkan supaya konsultan, peserta tender dan barang 
serta jasa untuk proyek berasal dari negara pemberi pinjaman. Jadi 
sekitar 80% jumlah pinjaman kembali ke negara asal.

Sekilas syarat itu positif, namun ternyata lebih banyak dimanfaatkan investor 
asing. 
Perekonomian tumbuh tetapi tak berkualitas. Ekspor meningkat tetapi 
bahan baku utama dan bahan baku penolong diimpor, di sinilah seringkali 
terjadi pembengkakan harga pembelian barang impor. Alhasil, negara tuan 
rumah hanya memperoleh manfaat dari penyerapan tenaga kerja dengan upah 
yang minimal.
Eksploitasi yang luar biasa berlangsung di sektor pertambangan. Investor 
memperoleh keuntungan berlimpah karena selain cost recovery, juga memperoleh 
belasan bahan tambang ikutan.

Bank Dunia, IMF dan lainnya sejak awal telah menjadi perpanjangan tangan 
negara-negara kapitalis untuk melakukan penjajahan gaya baru. Ironisnya, hal 
ini bisa terjadi karena ‘pengertian’ dari para pejabat tuan rumah.

Persis seperti ketika VOC/Belanda menjajah Indonesia. Sesungguhnya tak banyak 
orang Belanda yang datang, namun mereka bisa menguasai nusantara yang 
luas ini karena menerapkan politik pecah belah dan banyak penduduk lokal yang 
mau diajak kerjasama menguras wilayahnya sendiri.

Utang 
Indonesia ke Bank Dunia hingga akhir Juni 2012 mencapai Rp115,04 
triliun. Jumlah ini naik dari akhir 2011 yang nilainya Rp107,73 triliun. Hampir 
bisa dipastikan utang ini akan bertambah pada 2013. Indonesia 
sudah masuk jebakan utang. Kabarnya, pinjaman itu kerap mengalami 
kebocoran hingga sampai 30% dari total pinjaman.

Bila melihat 
kondisi secara keseluruhan, maka negara-negara penerima bantuan yang 
mensubsidi negara-negara maju, sebab memberi order proyek di 
negara-negara penerima bantuan. Maka pantas saja jika jurang kemakmuran 
antara negara kreditur dan debitur makin lebar.

Keberatan Pemprov 
DKI dan Kementerian PU memang masuk akal dan wajar. Sayang kurang 
memperoleh perhatian, padahal sangat penting bagi masa depan bangsa. 
[mdr]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke