REF: Mengapa dengan adanya pengibaran bendera GAM perdamaian terancam? Siapa 
yang mengancam perdamaian di Aceh? Apakah tidak berlaku Vox Dei Vox Populi 
(Suara Tuhan adalah suara Rakyat).

http://www.shnews.co/detile-17492-kontroversi-mengancam-perdamaian.html


Kontroversi Mengancam Perdamaian 
Junaidi Hanafiah | Senin, 08 April 2013 - 16:25:36 WIB

: 122 




(SH/Junaidi Hanafiah)
Ribuan warga dari berbagai daerah di Provinsi Aceh datang ke Banda Aceh, Senin 
(1/4) mengibarkan bendera Bulan Bintang untuk menuntut pemerintah Indonesia 
menyetujui bendera Aceh yang ditetapkan pemer 

PP Nomor 77 dinilai inkonstitusional tidak sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2006 
tentang UUPA.


Pengantar: Politik di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam kembali memanas 
pascapenetapan bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi bendera 
dan lambang resmi provinsi tersebut. Apakah operasi militer akan dilakukan 
untuk memaksa pencabutan keputusan DPRA dan pemerintah Aceh? Untuk itu Sinar 
Harapan menurunkan Laporan Khusus menyorotinya. 

  

BANDA ACEH – Konflik yang terjadi di Aceh yang dimulai tahun 1989 hingga 2005 
hanya menyisakan air mata dan derita. Perekonomian masyarakat hancur, tata 
pemerintahan tidak berjalan baik, bahkan semua sendi kehidupan masyarakat tidak 
berjalan normal. 

Data yang berhasil dikumpulkan SH, saat pemberlakuan Daerah Operasi Militer 
(DOM) di Aceh tahun 1989-1998 jumlah korban masyarakat Aceh 6.873 orang, kasus 
Simpang KKA 1999 menelan 200 korban, kekerasan dalam Operasi Wibawa tahun 1999 
mencapai 73 korban, pembantaian Tgk Bantaqiah dan santri tahun 1999 menjatuhkan 
57 korban, pembantaian di Idi Cut 1999 28 korban, Operasi Rajawali tahun 2001 
membawa 1.216 korban, pada masa Darurat Militer I dan II pada 2003-2004 
korbannya mencapai 1.326 orang. 

Seorang warga Aceh yang tinggal di pedalaman Aceh Utara, Husni Mubarak 
menyebutkan, dirinya tidak ingin konflik yang pernah terjadi di provinsi paling 
barat Indonesia tersebut kembali terulang. Ayah dua anak tersebut mengaku, 
konflik bersenjata yang terjadi di Aceh merupakan masa-masa suram dalam 
hidupnya karena dia tidak bisa bekerja dengan nyaman. 

“Saat konflik, saya hanya bekerja sebagai tukang ojek atau di Aceh disebut RBT. 
Mengantar penumpang ke berbagai pelosok daerah dengan menggunakan sepeda motor 
sangatlah beresiko, sweeping atau razia oleh aparat keamanan baik TNI maupun 
Brimob hampir tiap hari dilakukan. Jika salah menjawab pertanyaan mereka, bogem 
mentah mendarat ke tubuh kita,” sebut pria kelahiran tahun 1975 tersebut. 

Husni tinggal di Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara. Daerah itu sangat rawan 
saat konflik terjadi. Banyak rekan Husni sesama tukang ojek hingga saat ini 
tidak pulang ke rumah. “Beberapa teman saya ditemukan telah menjadi mayat, 
sepeda motornya beberapa kali terlihat dipakai TNI atau Brimob,” ungkap Husni. 

Husni mengenang, pada 18 April 2000, sekitar pukul 10.00 WIB, dirinya sedang 
mengantar seorang warga kampungnya yang ingin berangkat ke Banda Aceh. Warga 
tersebut meminta diantar ke Terminal Bus di Ibu Kota Aceh Utara. 

“Saat dalam perjalanan, kami berpapasan dengan TNI yang baru pulang dari 
operasi. Kami dihentikan dan diinterogasi. Penumpang saya saat itu ketakutan, 
dia tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kesulitan memahami pertanyaan dari 
aparat TNI tersebut. Akhirnya dia ditinju dan diinjak-injak karena dituduh 
anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM),” kenang Husni. 

Melihat perlakuan tersebut, Husni berusaha membantu menjelaskan kalau 
penumpangnya tersebut tidak lancar berbahasa Indonesia. Namun, TNI tersebut 
malah menuduh dirinya mengantar anggota GAM melarikan diri. “Saya juga ikut 
dipukul hingga muka saya memar dan saat pulang mesti dipapah rekan-rekan ojek 
lainnya, penumpang saya harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS),” cerita Husni. 

Tidak tahan dengan konflik yang terjadi tersebut, Husni meminta izin kepada 
istri dan anaknya untuk mencari pekerjaan di Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi 
Aceh. Dirinya berangkat ke Banda Aceh pada 9 Januari 2001. 

“Di Banda Aceh, awalnya saya bekerja sebagai buruh bangunan. Setelah memiliki 
sedikit modal, pada pertengahan tahun 2002 saya berjualan di Kaki Lima Pasar 
Aceh, Kota Banda Aceh, lalu membawa istri dan anak tinggal di Banda Aceh,” ujar 
Husni. 

Setelah perjanjian damai antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka 
(GAM) ditandatangani pada 15 Agustus 2005, Husni mulai bahagia karena sudah 
bisa pulang ke kampung halamannya dan kembali menetap di tempat kelahirannya 
pada awal 2006. 

“Konflik menjadi kenangan pahit untuk saya dan semua orang Aceh, karena ruang 
gerak yang sangat terbatas dan susah mencari nafkah. Saya berharap konflik 
tidak lagi terulang di Aceh, kasihan masyarakat biasa,” ungkap Husni. 

Terkait munculnya kontroversi Qanun Bendera dan Lambang Aceh, Husni berharap 
semua pihak, baik pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat tidak membawa masalah 
tersebut keranah politik. “Jangan sampai karena masalah tersebut, konflik 
kembali terjadi di Aceh. Bendera apa pun yang mau disahkan silakan, yang 
penting kami bisa mencari makan dan menyekolahkan anak-anak kami,” ungkap 
Husni. 

Lain halnya dengan Suryaman, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten 
Aceh Timur. Konflik adalah masa-masa suram bagi dirinya, mulai harus membayar 
pajak Nanggroe, hingga pernah disekap GAM karena dituduh mata-mata TNI. 

“Setiap bulan, orang GAM meminta uang pada saya, padahal saya hanya guru di 
Sekolah Dasar (SD) di pedalaman Aceh Timur. Saya juga pernah disekap satu bulan 
oleh GAM karena dituduh mata-mata,” sebut Suryaman. 

Akibatnya, Suryaman memboyong anak dan Istrinya tinggal di Kota Aceh Timur, dan 
hanya sesekali datang ke Idi Tunong untuk mengajar. “Saya tidak tahan dengan 
konflik yang terjadi,” ujar Suryaman. 

Namun, setelah perdamaian berlangsung di Aceh, Suryaman kembali ke Idi Tunong 
untuk mengajar dan mengelola kebun karet peninggalan orang tuanya. “Sekarang 
kehidupan saya mulai nyaman, di samping mengajar, saya bisa bekerja di kebun,” 
ungkap Suryaman. 

Bekerja sebagai guru, lalu mengelola dua hektare kebun karet warisan orang 
tuanya telah membuat Suryaman bahagia hidup bersama keluarganya. “Saya sudah 
sangat bahagia sekarang. Saya juga sedang mengumpulkan uang untuk naik haji,” 
sebutnya sambil tertawa. 

Rakyat Yang Menderita 

Harapan Suryaman tidak jauh berbeda dengan Husni. Konflik tidak lagi terjadi di 
Aceh sehingga kehidupan masyarakat yang mulai bangkit tidak lagi terpuruk. 

“Jika konflik kembali terjadi, yang menderita pasti masyarakat, karena 
pertempuran selalu terjadi di permukiman penduduk. Beda kalau pihak yang 
bertikai tidak menjadikan warga sebagai tempat berlindung atau menjadikan 
sasaran kemarahan,” kata guru Matematika tersebut. 

Ditanya tentang kontroversi bendera dan lambang Aceh, Suryaman memiliki harapan 
yang sama dengan Husni; agar masalah tersebut dapat segera selesai dan tidak 
menimbulkan konflik baru di Aceh. “Mau bendera apa saja, yang penting kami 
tidak harus mengungsi atau tidak bisa bekerja. Jika kami tidak bekerja anak dan 
istri kami pasti kelaparan,” sambung Suryaman. 

Teungku Khairuddin, seorang pemimpin pesantren tradisional di Idi Cut, Aceh 
Timur, menyebutkan semua pihak harus menahan diri dan tidak memaksakan kehendak 
terkait kontroversi bendera dan lambang Aceh. Menurutnya luka masyarakat saat 
konflik bersenjata belum sembuh, semua pihak jangan menambah luka tersebut. 

“Delapan tahun bukan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka masyarakat. 
Anak-anak masih menyimpan dendam, mereka masih belum bisa melupakan kematian 
ayah atau saudara mereka saat konflik. Jangan sampai karena masalah bendera, 
dendam kembali muncul dalam pikiran anak-anak tersebut,” ujar Teunku 
Khairuddin. 

Bagi Khairuddin, konflik adalah masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam, 
sehingga tidak lagi muncul keinginan untuk balas dendam. “Biarkan itu menjadi 
kenangan. Masyarakat yang hidup sekarang harus berusaha keras agar konflik 
tidak lagi terjadi di bumi Serambi Mekkah,” harap Khairuddin. 

Ditanya pengalaman pahit saat konflik berkecamuk di Aceh, Khairuddin mengaku, 
saat konflik bersenjata berkali-kali dirinya harus kehilangan santri karena 
para santrinya tidak berani pergi mengaji atau tinggal di pesantren. 

“Berkali-kali saya dianggap melatih GAM atau menjadi mata-mata TNI. Akibat 
teror tersebut santri saya ketakutan. Untung saya tidak mengikuti jejak Teungku 
Bantaqiah di Beutong, Kabuapten Nagan Raya, yang dibantai bersama puluhan 
muridnya,” ungkap Khairuddin. 

Seorang aktivis perempuan di Aceh, Raihal Fajri menyebutkan, konflik sudah 
selayaknya tidak lagi terjadi di Aceh, baik konflik melawan pemerintah pusat 
maupun konflik sesama masyarakat Aceh. Semua pihak khususnya pemerintah harus 
benar-benar menjaga sehingga hal tersebut tidak lagi pernah muncul di Aceh. 

“Rasa tidak aman telah lebih 30 tahun dirasakan oleh masyarakat Aceh. Mereka 
tidak berani keluar rumah bahkan hanya untuk bekerja atau bersilaturahmi dengan 
keluarga mereka. Siswa tidak bisa sekolah dan banyak masalah lainnya yang telah 
dirasakan masyarakat,” ungkap Raihal. 

Raihal punya pengalaman ketika dirinya seminggu tidak bisa masuk kuliah, karena 
angkutan umum tidak berani mengangkut penumpang setelah pemberlakuan darurat 
militer di Aceh pada 2003. “Saat itu, tentara menggempur pasukan GAM di 
perbukitan kampung halaman saya. Setelah itu, warga ketakutan dan tidak berani 
keluar rumah. Akhirnya, saya juga tidak bisa kuliah,” sebut Raihal. 

Raihal menambahkan pengalaman pahit lainnya. Dirinya kadang terpaksa menginap 
di rumah kawannya, karena jika kuliah selesai di atas jam 18.00 WIB, sudah 
tidak ada angkutan umum. “Padahal rumah saya hanya sektiar 14 km dari Kota 
Banda Aceh, tapi pukul enam sore, warga sudah tidak berani keluar rumah,” 
kenang Raihal Fajri. 

Konflik bersenjata yang terjadi di Aceh selama lebih 30 tahun, tidak hanya 
menimbulkan korban warga Aceh yang laki-laki, kaum perempuan juga tidak luput 
dari perlakuan kasar meskipun mereka hanya tinggal di rumah. 

“Banyak kaum perempuan yang juga menjadi korban saat konflik Aceh, mereka 
umumnya mengalami pelecehan seksual dari aparat keamanan. Bahkan, tidak 
mengherankan jika pernah muncul Kampung Janda di Kecamatan Bandar Baru, 
Kabupaten Pidie Jaya. Warga yang mendiami kampung tersebut sebagaian besar 
perempuan, namun statusnya janda karena suami mereka meninggal akibat konflik,” 
sebut Raihal. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke