Ref:   Pemerintah perhatikan keadaan warga miskin dengan memberikan beras  bau, 
berkutu etc untuk konsumsi rakyat miskin  ( 
http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/403130-bau-dan-berkutu--warga-miskin-tetap-konsumsi-raskin
 )

http://www.shnews.co/detile-18189-berkaca-pada-kisah-bocah-tasripin.html


Berkaca pada Kisah Bocah Tasripin 
Tajuk Rencana | Sabtu, 20 April 2013 - 11:07:25 WIB

: 387 



(dok/ist)

Pemerintah harus lebih memperhatikan kehidupan warga miskin di tanah air.


Media massa ramai memberikan kisah perjuangan Tasripin (12), warga Dusun 
Pesawahan, Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah 
(Jateng). Dia terpaksa menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya Dandi 
(7), Riyanti (6), dan Daryo (4). Ia harus meninggalkan bangku sekolah dan 
membuang jauh-jauh masa kanak-kanaknya untuk menjadi kepala rumah tangga. 
Tasripin melakukan itu karena ibunya, Santina (37) meninggal dua tahun lalu 
karena tertimpa batu saat menjadi buruh penambang pasir di desanya. Sang ayah, 
Kuswito (42) dan kakak sulung Taspirin yakni Natim (21) merantau ke Kalimantan 
menjadi buruh perkebunan kelapa sawit. 

Kisah Tasripin menyentak kita semua. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) juga mengomentarinya. “Kisah Tasripin, Banyumas, usia 12 tahun, yang 
menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya sungguh menggores hati 
kita,” ujar SBY lewat akun Twitter-nya, Kamis (18/4). 

Dalam kicauannya, SBY menuliskan, “Tasripin terlalu kecil untuk memikul beban 
dan tanggung jawab ini. Secara moral saya dan kita semua harus membantunya.” 
Komando Distrik Militer 0701 Banyumas cepat tanggap dengan merehabilitasi rumah 
Tasripin. Selama rumahnya direhabilitasi, Tasripin dan ketiga adiknya diinapkan 
di sebuah hotel di Purwokerto, Jateng. 

Jujur saja, kisah sedih Tasripin adalah sebuah potret banyak anak-anak di 
negeri ini yang terbuang dari masa kanak-kanaknya. Di kota-kota besar seperti 
Jakarta banyak pula dijumpai anak-anak jalanan yang meraup rupiah di perempatan 
jalan. 

Bukan tidak mungkin sebenarnya masih banyak kisah “Tasripin-Tasripin” lainnya 
yang tidak terungkap ke permukaan di pelosok sebuah negeri bernama Indonesia 
ini. Persoalan Tasripin ibarat sebuah gunung es. 

Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan persoalan-persoalan seperti yang 
dialami Tasripin. Anggaran untuk kesejahteraan anak seharusnya diberi porsi 
lebih besar. Pejabat di tingkat wilayah harus mempunyai daya deteksi untuk 
menangkap persoalan-persoalan seperti yang dihadapi Tasripin. Anak-anak harus 
mendapat perlindungan dari negara. 

Di Indonesia, perlindungan anak salah satunya diatur dalam Undang-Undang Nomor 
23 Tahun 2002. Seorang anak juga memiliki hak mendapat pengakuan dari 
lingkungan mereka, rasa hormat atas kemampuan mereka, pemajuan dan 
perlindungan, serta harga diri dan partisipasi tanpa harus mencapai usia 
kedewasaan terlebih dahulu. 

Anak juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, memperoleh pendidikan dan 
pengajaran, mengutarakan pendapatnya sesuai tingkat kecerdasan dan usianya, 
memanfaatkan waktu luang untuk bergaul dengan anak sebayanya, bermain, 
berekreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya dalam rangka 
pengembangan diri. 

Kita berharap pemerintah lebih peka dengan persoalan-persoalan anak. Tidak 
hanya bertindak setelah mencuat kisah perjuangan Taspirin melalui media massa. 
Menjadi tugas pemerintah untuk memberi perhatian lebih serius terhadap anak. 

Kita tidak ingin anak-anak yang putus sekolah menjadi sasaran eksploitasi entah 
dari orang tuanya sendiri maupun orang lain. Kita juga tidak menghendaki masa 
bermain anak-anak dirampas karena persoalan tekanan ekonomi. 

Oleh karena itu, tidak pilihan lain bagi pemerintah untuk menciptakan lapangan 
pekerjaan terutama di daerah agar banyak orang tua yang terserap di sana, 
sehingga tidak lagi mengorbankan kehidupan anak untuk menanggung beban 
keluarga. Biarlah anak-anak berkembang sesuai masanya; biarlah anak menjadi 
dirinya sendiri. 

Akhirnya memang pemerintah harus lebih memberi porsi kebijakan yang lebih 
kongkret untuk melindungi anak dari beban ekonomi orang tua. Kita berharap 
tidak muncul lagi kisah pedih Tasripin-Tasripin lainnya. Ingar-bingar suhu 
politik di negeri ini jangan sampai melupakan peran pemerintah mengayomi 
anak-anak, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke