http://www.shnews.co/detile-18141-saatnya-menyiapkan-pembangunan-ekonomi-hijau.html

Saatnya Menyiapkan Pembangunan Ekonomi Hijau 
Sulung Prasetyo | Jumat, 19 April 2013 - 13:33:59 WIB

: 217 


(SH/Edy Wahyudi)
Dua anak sedang bermain dengan air limbah di kawasan Banjir Kanal Timur di 
Cipinang Besar, Jakarta. Foto direkam 21 November 2012. 
Pembangunan ekonomi yang menitikberatkan pada eksploitasi sumber daya alam 
harus dikoreksi.


JAKARTA – Pada pemaparan mengenai kondisi lingkungan di Sungai Citarum, 
terungkap fenomena naiknya suhu bumi bukan sekadar isapan jempol belaka. 

Rizaldi Boer, Direktur Eksekutif Pusat Risiko Iklim dan Manajemen Peluang di 
Asia Tenggara dan Pasifik (Centre for Climate Risk and Opportunity Management 
in Southeast Asia and Pacific/CCROM-SEAP) menyatakan, kenaikan temperatur suhu 
di Citarum menguatkan itu. Menurut penghitungan hingga awal April 2013, ada 
kenaikan suhu yang semula 26 derajat Celcius menjadi 27 derajat Celcius dari 
1998 hingga 2006. 

Buat manusia, kenaikan satu derajat mungkin tak berpengaruh apa pun. Namun, 
berbeda untuk daur hidrologi dan flora fauna di bumi. Kenaikan satu derajat 
bisa membuat makin banyak air yang naik ke angkasa. 

Akibatnya, makin banyak curah hujan turun kembali ke bumi. Untuk sungai, 
fenomena ini mengakibatkan banjir karena tak mampu menampung banyaknya air. 
Sementara itu untuk tumbuhan, berarti kematian lantaran tak mampu terus-menerus 
dalam kondisi basah. 

“Dampak perubahan pada suhu, aliran air, dan curah hujan tersebut pada akhirnya 
akan terlihat pada hasil pertanian. Diprediksi produksi jagung akan menurun 9 
persen hingga 2025, sementara produksi pertanian lain akan menurun, karena 
tingginya potensi kerusakan hasil pertanian karena hama dan suhu yang terlalu 
lembap,” katanya. 

Berbagai kondisi tersebut dinilai sebagai hasil perbuatan manusia juga. Ujung 
pangkalnya merupakan pelepasan karbon dioksida (CO2) yang terlalu tinggi. 
Pelepasan CO2 tersebut kebanyakan berasal dari industri dan transportasi yang 
menggunakan energi fosil, seperti batu bara, serta rusaknya hutan karena 
kebakaran. 

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini harus kembali pada manusia. Mantan 
Menteri Lingkungan Hidup Sony Keraf mengajak manusia lebih membuka nurani pada 
masalah ini. Banyak kerusakan lingkungan terjadi karena pertimbangan ekonomi 
yang lebih strategis. 

Misalnya saja, kasus pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di 
badan sungai. Dari sisi ekonomis, limbah B3 menguntungkan. Namun dari sisi 
lingkungan, akan membawa dampak yang sangat merugikan. Ini karena banyak 
tumbuhan akan mati, karena air sungai tercemar. Lebih parahnya, banyak manusia 
bisa cacat karena terlalu banyak mengonsumsi air tersebut. 

“Lebih baik kita mengoreksi hitungan ekonomi, karena bisa dilakukan pada buku 
tahunan mendatang. Tapi bila sudah sakit atau bahkan cacat, tak ada lagi yang 
bisa dikoreksi selain penyesalan,” paparnya. 

Politik Memengaruhi 

Tak hanya pertimbangan ekonomi, dunia politik saat ini juga ditengarai sangat 
memengaruhi kelestarian lingkungan. Berbagai kebijakan politik yang ada 
dianggap masyarakat justru malah membuat lingkungan lebih buruk. 

Seperti pada kasus pemberian wewenang kepada bupati untuk membuka lahan 
pertambangan dan perkebunan. Pada kenyataannya, kebijakan para kepala daerah 
itu membuat banyak hutan makin hilang, sungai makin rusak, dan masyarakat 
merana karena konflik. Kebijakan kepala daerah muncul karena mahalnya biaya 
politik yang harus ditanggung, apalagi menjelang Pemilihan Umum 2014. 

Keterlibatan elite politik dalam kerusakan lingkungan ini diperkuat dengan data 
penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW). Organisasi antikorupsi ini 
menyebutkan, hampir 67 persen anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) saat ini 
pengusaha yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam perusakan 
lingkungan. 

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Abetnego Tarigan mengecam 
keras kondisi tersebut. Menurutnya, akan sulit agenda lingkungan maju jika 
aktor-aktornya bermasalah. “Salah satu modal politik secara pendanaan adalah 
dari bisnis sumber daya alam. Tesisnya sudah final. Siapa yang menguasai bisnis 
besar dialah yang berkuasa di politik,” ujarnya. 

Oleh karena itu, pakar ekonomi dan lingkungan Emil Salim melontarkan salah satu 
jalan keluar. Pemerintah harus segera menerapkan ekonomi hijau. Pengembangan 
ekonomi hijau merupakan pola pembangunan yang pengelolaan sumber daya alamnya 
memperhitungkan daya dukung ekosistem sebagai sistem penopang kehidupan alam, 
termasuk manusia. 

“Ekonomi hijau berbeda dengan ekonomi sistem kapitalis ataupun sosialis. Sistem 
ekonomi ini mengedepankan pengelolaan sumber daya alam, dari hanya untuk 
eksploitasi menjadi bentuk pengayaan sumber daya hutan dan gambut,” katanya. 

Bentuk pengayaan tersebut bisa dalam berbagai bentuk sekarang ini. Salah 
satunya melalui program Reducing Emission from Forest Deforestation and 
Degradation (REDD). Pada program tersebut hutan dijual bukan untuk 
dieksploitasi, namun untuk dipelihara karena mampu menahan pelepasan CO2 ke 
angkasa. 

Masih banyak lagi bentuk aplikasi ekonomi hijau tersebut, seperti pembuatan 
sumber-sumber energi yang tidak menggunakan batu bara, atau rekayasa teknologi 
transportasi dengan sumber daya tenaga matahari. 

Semua pilihan kembali diberikan pada manusia. Semakin baik atau buruk kondisi 
bumi merupakan konsekuensi dari pilihan tersebut. 

Pilihan menjaga kelestarian alam diyakini banyak manusia sebagai pilihan 
terbaik yang pernah ada. Seperti juga kutipan seorang penyair tersohor dari 
Amerika Serikat, Walt Whitman. “Now I see the secret of the making of the best 
person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.” 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke