Oldie review sekilas tentang Cina Benteng.

Ciben(Cina Benteng) sebetulnya bukan hanya sebutan bagi orang tionghoa yang 
tinggal di Tangerang saja. dalam sejarah sebelum abad ke-18, istilah Cina 
Benteng adalah sebutan bagi orang tionghoa yang tinggal di sepanjang Pantura, 
termasuk di Tuban, Semarang dan wilayah lainnya.pendapat itu disampaikan oleh 
Dave Lumenta, dari Pusat Kajian Sosiologi (LabSosio) dan Pusat Kajian 
Antropologi (PUSKA) Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Namun demikian Dave menyatakan tidak tahu apakah keberadaan CiBen di wilayah 
Tangerang tersebut datang langsung dari negeri asalnya melalui Pelabuhan Sunda 
Kelapa, atau perairan Banten. Ataukah mereka berasal dari berbagai wilayah di 
Indonesia yang dikirim ke wilayah Tangerang.
Sebutan Benteng diberikan karena di lokasi orang-orang tionghoa bermukim 
terdapat benteng-benteng yang dibuat Belanda. 

Sedangkan orang-orang tionghoa yang tinggal di 
Tangerang karena mereka tinggal di Benteng Makassar yang terletak di tepi 
Sungai Cisadane, tetapi kini sudah hancur.

MELAWAN BELANDA:
Dalam perjalanan sejarahnya, mereka pun tidak terlepas dari perjuangan melawan 
kolonial Belanda.Karena mereka merasa ditekan oleh kolonial Belanda saat itu, 
sehingga memberikan 
perlawanan bersama kaum pribumi.karena itu, tambah Dave, untuk melumpuhkan 
komunitas orang2 tionghoa yang tinggal di 
Tangerang, Belanda melakukan isolasi terhadap mereka. 

Pergerakan mereka ditutup, terutama dalam melakukan hubungan dengan wilayah 
lainnya, seperti Batavia.Sehingga mereka hanya bisa menetap di wilayah 
Tangerang dan tidak bisa melakukan 
kegiatan ekonomi dengan wilayah lain. Mereka hanya bisa bertani untuk 
kehidupannya di wilayah Tangerang, papar dia.

Dalam kehidupannya, komunitas ini bercampur dengan kaum pribumi, dari situlah 
terjadi asimilasi dalam budaya tionghoa dengan budaya kaum pribumi. "Kita bisa 
melihat budaya 
orang Betawi terdapat kultur budaya tionghoa," ujarnya.
Asimilasi itu tidak hanya terjadi Cina Benteng dengan budaya sekitarnya, tapi 
Cina Benteng yang tinggal di wilayah lain, misalnya Cina Benteng yang tinggal 
di wilayah Cirebon.

Begitu juga dalam kehidupan beragama. Di antara Cina Benteng ada yang menganut 
agama Islam, Kristen, Konghucu dan Budha. Karena memang telah terjadi pembaruan 
sudah lama sekali, tuturnya.

HIDUP MERANA:
Dari 350 kepala keluarga Cina Benteng yang ada di Tangerang, hampir semuanya 
hidup dalam keprihatinan. Pekerjaan mereka tak menentu. Dari pedagang, 
penggembala, kuli, dan pekerjaan kasar lainnya.Adalah Oliem 65 thn, demi perut 
dirinya rela bekerja sebagai pengembala kambing di Kampung Sewan, Kecamatan 
Neglasari. Pria paruh baya ini tidak tahu harus tinggal dimana apabila Pemkot 
Tangerang menggusur pemukimannya di bibir Sungai Cisadane.

Di kampung Sewan, dia tinggal bersama Ruslan 19thn, anak sulungnya. Tak ada 
yang istimewa dari rumah gubuk yang ditempatinya. Rumah seluas 30 m2 itu 
berlantaikan tanah dan beratap jerami kering.Oliem sangat menyesalkan niat 
Walikota Tangerang, Wahidin Halim, yang akan mengusur rumahnya dan rumah 350 KK 
lainnya. Apalagi Pemkot tidak memberikan uang ganti rugi. Maka, dia hanya bisa 
pasrah jika Pemkot Tangerang tetap akan melakukan penggusuran. 

Tak ada yang bisa diperbuat olehnya, selain berharap Pemkot membatalkan 
penggusuran rumah warga Cina Benteng yang sudah lama tinggal di bibir Sungai 
Cisadane. 
"Saya harap Walikota (Wahidin Halim) terketuk hatinya untuk tidak menggusur 
rumah kami, "tegas Oliem.


Kirim email ke