http://health.okezone.com/read/2013/04/09/482/788709/kenali-gejala-serangan-stroke-ringan

Kenali Gejala Serangan Stroke Ringan
Niken Anggun Nurani - Okezone 
Selasa, 9 April 2013 16:33 wib 

Serangan stroke (Foto: Google)
SERANGAN stroke ringan memang hanya berlangsung beberapa saat. Meski hanya 
menyerang dalam kurun waktu yang cukup singkat, tetapi mereka yang sudah 
mengalami serangan stroke ringan, cenderung memiliki risiko yang mengarah pada 
stroke berat di kemudian hari.
 
Hampir 40 persen pasien yang menderita serangan stroke ringan akan mengalami 
stroke berat. Dalam beberapa kasus, stroke berat bisa terjadi dalam waktu dua 
hari usai terkena serangan stroke ringan. Stroke ringan sering hanya 
berlangsung beberapa menit dan memiliki gejala yang menyerupai stroke, termasuk 
melemahnya satu sisi tubuh atau bahkan mati rasa, demikian yang dilansir 
Foxnews.
 
Kehilangan penglihatan atau kesulitan berbicara juga bisa menjadi salah satu 
akibat dari serangan stroke ringan. Pada beberapa orang, stroke ringan dapat 
terjadi beberapa kali dan setiap serangan memiliki gejala yang berbeda, 
tergantung dari bagian otak yang mengalami serangan.

Gejala lain dari stroke ringan adalah sakit kepala yang tiba-tiba dan cukup 
parah. Ini bisa menjadi pertanda awal adanya serangan stroke ringan. Menurut 
American Heart Association, sakit kepala bahkan sering dianggap sebagai tanda 
peringatan dari serangan stroke ringan ataupun berat. 

Dalam beberapa kasus serangan stroke ringan dapat menyebabkan seseorang tampak 
bingung sementara. Ini termasuk kesulitan memecahkan masalah atau gangguan 
dengan daya ingat. Kesulitan memahami orang lain ketika dia berbicara juga 
dapat bertindak aneh, menunjukkan perubahan kepribadian, atau perilaku adalah 
tanda atau gejala psikologis lain dari serangan stroke ringan.

++++
http://us.life.viva.co.id/news/read/404271-kenali-gejala-awal-serangan-stroke


Kenali Gejala Awal Serangan Stroke

Salah satunya adalah sakit kepala, serta leher dan pundak terasa kaku.
Mutia Nugraheni, Stella Maris 
Kamis, 11 April 2013, 09:56 WIB

 
Ilustrasi grafis stroke. (nextgenerationku.com)
Follow @VIVAlife_ 

VIVAlife - Stroke (cerebrovascular accident, CVA) jadi hal yang menakutkan bagi 
banyak orang. Bukan hanya menurunkan kualitas hidup, tapi juga berdampak 
psikologis bagi orang-orang di sekeliling. Stroke terjadi ketika ada 
penyumbatan pembuluh darah di otak.

Efeknya berupa pendarahan dan kerusakan otak. Hal ini menyebabkan seseorang 
jadi kehilangan penglihatan, sulit berbicara, atau kebingungan.

Bukan hanya terjadi pada orang yang berusia senja, pada usia 30-an, seseorang 
juga bisa mengalami stroke. Gaya hidup yang tidak sehat jadi pemicu utamanya. 

"Ketika ada ketidaklancaran aliran darah di otak, dapat muncul gejala seperti 
sakit kepala, leher terasa kaku, pundak kaku sampai merasa tak nyaman pada 
tangan, serta sulit berkonsentrasi. Ada pula munculnya kesemutan di area 
sekitar wajah, pandangan kabur, dan bicara sulit," ujar dr. Terawan, Sp. Rad 
(K) ketika ditemui di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Gejala tersebut bisa disebabkan karena kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, 
kurangnya waktu beristirahat, atau adanya tekanan berkepanjangan.

Pola makan turut menyumbang serangan stroke tiba-tiba. Pencetusnya adalah 
penyakit yang menahun, seperti darah tinggi dan diabetes.

Terkait hal tersebut, menurut spesialis saraf dari RSPAD Gatot Subroto, dr. 
Tugas Ratmono, stroke juga ditandai dengan munculnya keluhan atau gejala 
klinis. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

Gangguan motorik
Gejala yang ditimbulkan berupa gangguan gerakan, karena otot tak berfungsi 
dengan baik. Seseorang yang menderita stroke, mendadak dapat kehilangan 
keseimbangan dan terjadi kelumpuhan di beberapa area tubuh.

Gangguan sensorik
Ini merupakan gangguan yang mengakibatkan munculnya rasa nyeri atau rasa tak 
nyaman bukan hanya di kepala. Tapi, juga di bagian kaki, mulai dari lutut 
hingga betis. Tak hanya itu, gangguan sensorik juga dapat menyebabkan tubuh 
terasa pegal.

Gangguan otonom
Pada dasarnya, sistem saraf otonom bekerja di bawah kesadaran manusia. Sistem 
ini mengatur tekanan darah dan frekuensi napas menuju organ tubuh seperti 
pembuluh darah, jantung, alat kelamin, kelenjar keringat, dan lainnya. Saat 
stroke menyerang saraf otonom, dapat menyebabkan buang air kecil atau buang air 
besar tak terkontrol, keringat berlebihan, serta napas yang tak teratur.

Gangguan psikis
Tak sedikit masyarakat menyadari bahwa stroke sering kali memunculkan gejala 
yang berhubungan dengan mental. Misalnya, adanya perubahan perilaku.

"Seseorang yang tadinya rajin jadi tak bersemangat atau malas. Bisa tiba-tiba 
tertawa sendiri atau jadi seorang yang pendiam," kata dr. Tugas. (art)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke