http://www.theglobejournal.com/Politik/peringati-hari-buruh-asnlf-swedia-tolak-bendera-aceh-versi-pa/index.php

Peringati Hari Buruh, ASNLF Swedia Tolak Bendera Aceh Versi PA
Asnawi Ali | CITIZEN REPORTER The Globe Journal
Kamis, 02 Mei 2013 10:33 WIB
 
MUSIM semi baru saja dimulai.  Pagi itu suhu menujukkan 15C, meskipun sudah 
dibaluti jaket, bagi kulit Asia masih terasa dingin.  Puluhan pemuda dan pemudi 
Aceh dengan menumpang kereta api bawah tanah sudah tiba dilapangan Norra Ban 
torget, Stockholm sejak pukul 10 pagi (1/5).  Mereka lahir dan tumbuh besar di 
Swedia, tubuhnya tinggi layaknya ukuran orang Eropa.  Disamping itu, berkumpul 
juga komunitas Aceh dari berbagai tempat seperti dari kota Botkyrka, Nyköping, 
Örebro, Hällefors.

Tahun ini kota Stockholm membagi lima kawasan pusat tempat demo.  Norra Ban 
torget, pusat kota Stockholm adalah salah satu yang dipilih oleh aktivis ASNLF 
Swedia sebagai tempat awal parade dibelakang iringan barisan partai terbesar di 
Swedia, partai Sosialis Demokrat.

"Sudah seperti menjadi tradisi, sejak tahun 1985, setiap tanggal 1 Mei kita 
turun ke jalan sambil mengibarkan bendera pusaka Aceh Merdeka serta menyuarakan 
aspirasi lainnya," kata Yusuf Daud sebelum arakan demo dimulai.

Sambil berbicang singkat, melalui tablet yang tersambung dengan internet, tokoh 
senior Aceh Merdeka itu memperlihatkan sebuah foto dokumentasi demo 1 Mei tahun 
1985 pada sebuah laman web facebook ASNLF yang di terbitkan oleh Acheh Sumatra 
News Agency (ASNA). 

Foto itu terkesan sudah lama berwarna hitam putih, namun masih terlihat 
sekumpulan pria memegang kain pamflet jumbo dan bendera bulan bintang.  "Kini, 
lihat saja, kumpulan beberapa generasi Aceh dulu dan sekarang juga ikut 
bergabung demo," ujarnya dalam bahasa Aceh.

Sekira pukul dua siang, parade dimulai satu persatu yang dikomandoi oleh partai 
Sosialis Demokrat yang meminta dalam bahasa Swedia kepada perkumpulan Aceh 
untuk berdiri di avdelning (bagian) nomor 4.

Barisan warga Aceh dengan membawa pamflet, spanduk, plakat, foto, mic berjumlah 
40 orang bergerak melintasi jalan utama Karlavägen.  Sebelah kanan jalan 
terlihat pusat perkantoran, tampak sebuah kantor diplomat dengan tulisan di 
dindingnya "Embassy of Malaysia ".

Meskipun jauh ribuan Mil dari Aceh, bentangan pamflet pada demo kali ini 
tentang penolakan bendera Aceh untuk dijadikan milik provinsi Indonesia.  
"Secara prinsip ASNLF Swedia menolak bintang bulan sabit dijadikan bendera 
provinsi serta tetap bersikap rakyat Aceh berhak mengibarkannya tanpa perlu 
qanun dan persetujuan dari Jakarta," kata mereka dalam sebuah rilis beberapa 
waktu silam. 

Dalam parade tersebut juga diperlihatkan tulisan kecaman kepada bekas jendral 
militer Indonesia pelanggar HAM di Aceh.  Foto mencolok Prabowo, Soenarko 
menjadi bagian dari spanduk.  Dibawahnya tertulis keterangan dalam bahas 
Inggris yakni sebagai pemberi perintah operasi militer pembunuhan warga sipil 
Aceh tanpa pengadilan.

"Mungkin saja Jendral Jawa itu tidak tahu kalau foto mereka dipamerkan disini 
tapi kita orang Aceh tak mungkin lupa kejahatan HAM mereka," ujar Abu Imran.  
Melalui mikrofon pula dia berkata "Ini dia penjahat HAM di Aceh" teriak Abu 
dalam bahasa Swedia sambil mengangkat tinggi foto Prabowo Subianto. 

Pamflet besar bertuliskan "Acheh Has Every Right To Be Independent" diarak 
dalam barisan depan demo.  Parade demo berjalan kaki sepanjang 3 KM dibawah 
berlangsung  tertib dan dikawal oleh pihak keamanan setempat.  Spanduk besar 
beserta foto yang bertuliskan dalam bilingual diperlihatkan sepanjang parade 
yang bertuliskan antara lain:

Begitu juga teriakan yel-yel pengkhianat dalam bahasa Aceh dan Swedia kepada 
mereka yang bersekutu dengan serdadu Indonesia lalu di waktu yang sama memusuhi 
bangsa sendiri. Teriakan melalui mikrofon itu sengaja diperdengarkan kepada 
warga Swedia yang berada ditepi kanan kiri jalan raya utama Stockholm. 

Bakar Foto Prabowo Subianto  

Sementara itu, jauh diluar tempat parade, seusai acara demo, terlihat beberapa 
pemuda Aceh melakukan aksi pembakaran terhadap foto Prabowo Subianto.  Mereka 
menyeru agar rakyat Aceh jangan memilih arah politik bekas mesin pembunuh 
semasa DOM.  "Orang Aceh sudah banyak lupa siapa bekas Jendral Jawa yang dari 
Kopassus itu dulu," kata seorang tokoh pemuda Aceh itu yang juga korban DOM. 

 Asnawi Ali I Citizen ReporterFoto Prabowo dibakar di Swedia
Beberapa foto ukuran A3 yang dibakar itu tertulis "Prabowo Titisan Soeharto" 
dan "Prabowo Presidenku, Jayalah Indonesiaku".

Tokoh pemuda yang menolak disebutkan identitasnya itu pula menambahkan agar 
orang Aceh juga menjauhi partai lokal yang bersekutu dengan bekas pelanggar HAM 
dasyat tersebut.  Menurutnya, politik Aceh penuh dengan pengkhianatan dan mudah 
lupa hanya karena diberikan segepok uang oleh timses Prabowo Subianto. 

Kontan saja, aksi yang unik ini direkam oleh video kemudian diunggah di alam 
maya.  "Ini supaya membuka mata agar orang Aceh jangan bodoh selalu," ujarnya 
dalam bahasa Aceh kental sembari menginjak foto ketua umum partai Gerindra 
tersebut.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke